Yohanes 15:26-16:4a.
PERPISAHAN yang disadari dan dipersiapkan memiliki makna yang berbeda. Ia bukan sekadar momen kehilangan, tetapi menjadi ruang kasih yang diperdalam.
Ketika seseorang tahu bahwa waktunya untuk berpisah sudah dekat, entah karena tugas baru, panggilan hidup, atau bahkan mendekati akhir hayat, kata-kata yang diucapkan tidak lagi dangkal.
- Setiap pesan menjadi penting.
- Setiap pelukan terasa lebih hangat.
- Setiap kebersamaan menjadi kenangan yang tak tergantikan.
- Namun demikian, perpisahan tetap saja membawa sedih.
Ada rasa hampa, kecemasan, bahkan ketakutan akan masa depan tanpa kehadiran orang yang dikasihi.
Hati manusiawi kita wajar merasakannya. Para murid pun mengalami hal yang sama ketika Yesus berbicara tentang kepergian-Nya. Mereka gelisah. Mereka takut kehilangan arah.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”
Yesus memberikan janji yang menguatkan: Ia akan mengutus Penghibur, yaitu Roh Kebenaran. Ini bukan sekadar pengganti, melainkan kehadiran ilahi yang baru, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Jika sebelumnya para murid merasakan kehadiran Yesus secara fisik, kini mereka akan mengalami-Nya secara rohani, lebih dalam dan lebih pribadi.
Seringkali dalam hidup, kita takut menghadapi perpisahan karena merasa akan sendirian. Padahal, justru dalam momen itulah Roh Kudus bekerja paling nyata.
Ia menjadi Penghibur yang setia, yang membisikkan harapan di tengah duka, dan menghidupkan kembali kenangan akan kasih yang telah ditanamkan.
Bagaimana demgan diriku?
Pesan kasih apa yang kini dihidupkan kembali oleh Roh Kudus dalam hati saya?











































