Home BERITA Jejak Sabda 18 Feb 2026: Mencari Tuhan, Bukan Pujian

Jejak Sabda 18 Feb 2026: Mencari Tuhan, Bukan Pujian

0
330 views
Mencari Tuhan

Mat 6:1-6, 16-18

HIDUP ini bagaikan sebuah pusat latihan nasional.

Setiap hari kita bangun bukan sekadar untuk menjalani rutinitas, tetapi untuk berlatih. Atlet yang masuk pusat pelatihan tidak datang untuk bersantai; ia datang dengan satu tujuan: menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih siap menghadapi pertandingan.

Demikian juga hidup rohani kita. Kita sedang dipersiapkan untuk “pertandingan” yang sesungguhnya: hidup kekal bersama Allah.

Tidak ada atlet yang langsung mahir tanpa disiplin. Ia jatuh, gagal, cidera, bahkan kadang ingin menyerah. Tetapi justru di sanalah proses pembentukan terjadi.

Dalam hidup, kegagalan, kekecewaan, dan pergumulan adalah bagian dari latihan itu. Tuhan tidak sedang menghukum kita; Ia sedang melatih hati kita supaya makin sabar, makin rendah hati, makin mampu mengasihi.

Awal masa Prapaskah mengingatkan kita bahwa inilah musim latihan intensif.

Jika hidup adalah pusat latihan, maka Prapaskah adalah program khusus dengan jadwal yang lebih teratur dan disiplin. Doa adalah latihan pernapasan rohani, agar jiwa kita tidak sesak oleh kecemasan dan kesibukan.

Puasa adalah latihan pengendalian diri, agar kita tidak diperbudak oleh keinginan. Sedekah adalah latihan kekuatan kasih, agar hati kita tidak mengecil oleh egoisme.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”

Yesus tidak berkata jika kamu berpuasa, tetapi apabila kamu berpuasa. Artinya, puasa adalah bagian dari kehidupan rohani. Namun yang Ia tekankan bukan sekadar tindakannya, melainkan sikap hatinya.

Puasa sejati bukan pertunjukan. Puasa adalah ruang rahasia antara jiwa dan Tuhan. Ia tidak membutuhkan panggung, tidak membutuhkan sorotan, tidak membutuhkan pengakuan. Justru dalam keheningan itulah Allah bekerja membentuk hati.

Ada godaan halus dalam hidup rohani: kita ingin terlihat saleh. Kita ingin dikenal sebagai orang yang rajin doa, tekun puasa, murah hati.

Tanpa sadar, yang kita rawat bukanlah relasi dengan Tuhan, tetap
citra diri di mata orang lain.

Wajah bisa tampak lesu, tetapi hati penuh kesombongan. Di sinilah bahaya kemunafikan rohani.

Yesus mengajak kita untuk berpuasa dengan wajah yang biasa, bahkan dengan sukacita. Mengapa? Karena puasa bukan tentang kehilangan, melainkan tentang cinta. Kita mengosongkan diri bukan untuk dipuji, tetapi agar Allah memenuhi hati kita.

Bagaimana dengan diriku?

Ketika aku berpuasa, siapa yang sebenarnya ingin aku senangkan? Manusia atau Tuhan? Apakah aku mencari pengakuan, atau pertobatan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo