
UMAT Katolik hampir pasti mengetahuinya. Tapi banyak masyarakat awam yang tak mengenalnya. Itulah hari “Rabu Abu”
Biar sederhana, biasanya dijelaskan bahwa Rabu Abu adalah saat dimulainya Umat Katolik melakukan pantang dan puasa, atau hari pertama masa Prapaskah. Ritualnya tak sama dengan Puasa bagi umat beragama lainnya.
Meski mengetahuinya, tak sedikit orang Katolik yang tak memahaminya. Rabu Abu bisa dimaksudkan sebagai hari untuk mengingatkan kefanaan manusia. Manusia adalah makhluk “sementara”, tak kekal atau abadi, melainkan terbatas.
Perayaan Rabu Abu digunakan untuk mengingatkan keterbatasan ini.
Orang Katolik yang justru memamerkan tanda salib abu di dahinya, merupakan sikap yang tak elok. Diambilnya kamera, di jepret wajahnya dan diposting di media sosial. “Pamer” jelas bertentangan dengan kerendahan hati dan kepasrahan diri kepada Tuhan yang menjadi makna hakiki Rabu Abu.
Padahal diajarkanNya agar saat “mati raga” (tirakat), minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang “menyangkal diri”. Mereka yang pamer sudah menerima upahnya di dunia.
Puasa dan pantang, apa pun bentuknya, yang dilakukan dengan diam-diam, “masuk kamar” dan tidak “woro-woro” adalah tindakan iman yang disiplin, tulus, dan tersembunyi untuk mencari hadirat Tuhan. (Mark 6 : 16-18)
Nampaknya, Rabu Abu seiring dengan ayat Mazmur 102:10: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.”
Dimaknai bahwa “makan abu” melambangkan duka dan kehinaan, yang sangat. Keadaan yang tak pantas saat menghadap Tuhan. Merasa hidupnya gundah-gulana dan diliputi kesedihan, seringkali dikaitkan karena rasa “murka” Tuhan.
Sebagai epilog, ada baiknya kita simak lakon “carangan” mengenai “Burung Phoenix”. Makhluk mitologi legendaris dari Mesir dan Yunani kuno, dalam rupa burung api. Phoenix diceritakan hidup ratusan tahun. Selanjutnya, ia membakar diri hingga menjadi abu. Dan ajaib, ia terlahir kembali dari abu tersebut.
Seperti burung Phoenix, kita berasal dari abu dan kembali menjadi abu.
“I am like a Phoenix, I rise from the ashes” (Bess Myerson – 1924–2014, politisi Amerika, model, and artis televisi, menjadi Miss Amerika pertama)











































