- Mat 4:1-11
KADANG ada orang yang membedakan antara godaan dan pencobaan.
Pencobaan bertujuan untuk menguji atau melakukan tes terhadap kondisi seseorang, sedangkan godaan bertujuan untuk secara sengaja merusak atau menghancurkan kondisi seseorang.
Secara sederhana, pencobaan memurnikan, sementara godaan menjatuhkan. Namun keduanya sama-sama menempatkan seseorang pada satu titik krisis dalam hidup: titik di mana hati harus memilih.
Menariknya, baik godaan maupun pencobaan tidak pernah terasa nyaman. Keduanya mengguncang. Keduanya membuat kita bertanya: “Mengapa ini terjadi?”
Di titik krisis itu, iman kita seperti logam yang dimasukkan ke dalam api. Api yang sama bisa meleburkan atau memurnikan, tergantung bagaimana kita menjalaninya.
Sering kali kita memohon agar dibebaskan dari semua ujian. Namun hidup beriman bukanlah hidup tanpa krisis.
Justru dalam krisislah arah hati kita menjadi jelas. Apakah kita akan memilih kompromi, atau kesetiaan? Apakah kita akan mencari jalan mudah, atau tetap setia pada kebenaran meski harus memikul salib?
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
Godaan selalu mencoba mengganti Allah dengan sesuatu yang lain: kekuasaan, kenyamanan, ambisi, bahkan rasa aman.
Yesus menanggapi godaan dengan firman: “Ada tertulis…” Ia tidak mengandalkan perasaan, tidak pula logika semata, tetapi berpegang pada Sabda Allah. Ia mengutip dari Kitab Ulangan yang menegaskan bahwa hanya Tuhan yang layak disembah.
Ketegasan rohani bukanlah sikap keras kepala, melainkan keberanian menjaga kemurnian hati. Mengusir godaan bukan berarti kita kuat dengan diri sendiri, tetapi karena kita tahu kepada siapa kita berbakti.
Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan kecil maupun besar: waktu untuk Tuhan atau untuk kesibukan tanpa henti, kejujuran atau manipulasi, kesetiaan atau kenyamanan. Di situlah kalimat Yesus bisa menjadi doa kita: “Enyahlah.”
Bagaimana dengan diriku?
Apakah saya cukup akrab dengan Sabda Tuhan sehingga mampu menggunakannya sebagai pegangan ketika menghadapi pencobaan?









































