- Mat 25:31-46
SERING kali perhatian kita bergerak secara selektif.
Kita lebih mudah berbuat baik kepada mereka yang dekat, yang menyenangkan, atau yang mungkin suatu hari bisa membalas kebaikan itu.
Tanpa sadar, kebaikan berubah menjadi investasi sosial: memberi supaya suatu saat menerima. Namun Injil menantang logika itu.
Kasih sejati justru diuji ketika ia diberikan kepada mereka yang tidak mampu membalas, kepada yang miskin, tersingkir, sakit, bahkan yang dianggap “tidak berarti”.
Di sinilah kita belajar bahwa perhatian dan bantuan bukanlah soal timbal balik, melainkan soal hati.
Ketika kita menolong yang paling hina di mata dunia, kita sedang memurnikan motivasi kita sendiri.
- Apakah kita memberi karena ingin dipuji?
- Karena ingin terlihat saleh?
- Atau sungguh karena hati kita tergerak oleh belas kasih?
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang tdak kami lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat hukuman yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Hidup kekal dan hukuman kekal dalam Sabda ini bukan sekadar ancaman, melainkan penyingkapan kebenaran: kasih adalah jalan keselamatan.
Orang benar bukanlah mereka yang sempurna tanpa cela, melainkan mereka yang hatinya peka. Mereka yang melihat penderitaan dan tidak tinggal diam.
Mereka yang menyadari bahwa setiap kesempatan berbuat kasih adalah kesempatan bertemu Tuhan sendiri.
Kita bisa bercermin pada kehidupan Mother Teresa. Ia memilih jalan yang tidak populer: merawat orang-orang sekarat di jalanan Kolkata, mereka yang tubuhnya luka, yang ditolak keluarga, yang bahkan namanya tidak lagi diingat siapa pun.
Orang-orang itu tidak mungkin membalas jasanya. Mereka bahkan sering tidak sempat mengucapkan terima kasih sebelum mengembuskan napas terakhir.
Namun bagi Ibu Teresa, mereka bukan beban. Ia melihat Kristus dalam diri mereka yang paling menderita.
Ia pernah mengatakan bahwa yang ia lakukan bukanlah hal besar, melainkan hal kecil dengan cinta yang besar. Itulah inti kebaikan yang sejati: dilakukan dengan ketulusan, kerendahan hati, tanpa pamrih.
Kebaikan yang tulus sering tersembunyi. Ia tidak membutuhkan sorotan. Ia tidak menuntut pengakuan. Ia cukup tahu bahwa di hadapan Tuhan, setiap tindakan kasih memiliki nilai kekal.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah saya lebih mudah berbuat baik kepada orang yang menyenangkan dan bisa membalas saya?












































