Mat 13: 18-23
ALKISAH, ada seorang petani yang menanam dua bibit di halaman rumahnya.
Bibit pertama ditanam di tanah yang bersih. Bibit kedua ditanam di tempat yang dipenuhi ilalang dan semak liar. Keduanya mendapat sinar matahari dan hujan yang sama.
Beberapa bulan kemudian, bibit pertama tumbuh subur dan berbuah, sedangkan bibit kedua tetap hidup, tetapi kurus, lemah, dan tidak pernah menghasilkan buah. Bukan karena bibitnya jelek, melainkan karena semak-semak terus merebut air, pupuk, dan ruang hidupnya.
Bukankah kisah itu sering menjadi gambaran hidup kita?
Kita rajin mengikuti Misa, menikmati renungan, mendengarkan homili yang menyentuh, bahkan merasa terhibur oleh kisah-kisah yang lucu dan inspiratif.
Hati kita sesaat terasa hangat. Namun ketika kembali ke rutinitas, Sabda itu perlahan tenggelam di antara kekhawatiran, kesibukan, ambisi, kekecewaan, persoalan ekonomi, konflik keluarga, dan berbagai godaan dunia.
Sabda Tuhan tidak hilang, tetapi tercekik. Ia tidak mempunyai ruang untuk bertumbuh.
Dalam bacaan Injil.hari ini kita dengar demikian, “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.”
Banyak dari kita mungkin jujur mengakui bahwa kitalah benih yang jatuh di semak berduri.
Kita percaya kepada Tuhan, tetapi hati kita dipenuhi begitu banyak hal sehingga suara-Nya kalah nyaring dibandingkan suara kecemasan.
Akibatnya, Sabda hanya menjadi pengetahuan, bukan kekuatan yang mengubah hidup. Kita senang mendengarnya, tetapi belum sungguh menghidupinya.
Yesus tidak menghendaki kita berhenti pada kekaguman terhadap Sabda. Ia menghendaki Sabda itu berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah: buah kasih, kesabaran, pengampunan, kejujuran, kerendahan hati, dan pengharapan.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah saya hanya menikmati Sabda sebagai hiburan rohani, atau sungguh berusaha menghidupinya?













































terimakasih Romo Gun 🙏