1Yoh 4:7-10.
Mzm 72:2.3-4ab.7-8.
Mrk 6:34-44
KERELAAN adalah sikap batin yang lahir dari hati yang bebas.
Kerelaan bukan keterpaksaan, bukan pula sekadar kewajiban, melainkan kesediaan untuk melangkah keluar dari lingkaran kepentingan diri sendiri.
Saat seseorang rela, ia tidak lagi bertanya, “Apa untungnya bagiku?” melainkan, “Apa yang dapat kulakukan bagi sesama?”
Kerelaan menggerakkan hati untuk melihat orang lain bukan sebagai beban, tetapi sebagai saudara.
Dari kerelaan itulah tumbuh perbuatan kasih yang nyata: mendengarkan dengan sabar, berbagi dengan tulus, mengampuni dengan lapang, dan melayani tanpa pamrih.
Kasih yang lahir dari kerelaan tidak menuntut balasan, karena tujuannya bukan keuntungan pribadi, melainkan kebaikan bersama.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian, “Ketika Yesus melihat jumlah orang yang begitu banyak, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
Injil mencatat bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.
Mereka lelah, bingung, dan kehilangan arah. Belas kasihan itu bukan sekadar perasaan iba, melainkan getaran hati yang mendorong Yesus untuk bertindak.
Belas kasihan selalu berawal dari kerelaan hati. Yesus rela menghentikan langkah-Nya, meluangkan waktu, dan memberikan perhatian kepada mereka yang terabaikan.
Ia tidak menutup mata dengan alasan lelah atau sibuk, tetapi justru membuka hati-Nya sepenuhnya. Kerelaan inilah yang membuat belas kasihan menjadi nyata: Ia mengajar, menyembuhkan, dan memberi mereka harapan baru.
Dalam kehidupan kita, sering kali kita juga berjumpa dengan “orang banyak” di sekitar kita, anggota keluarga, sahabat, atau sesama yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya kehilangan arah dan pengharapan.
Tanpa kerelaan hati, kita mudah bersikap acuh tak acuh. Kita memilih menjaga kenyamanan diri daripada tergerak oleh kebutuhan orang lain.
Kerelaan hati mengajak kita untuk keluar dari kepentingan pribadi dan berani terlibat. Seperti Yesus, kita dipanggil untuk menjadi gembala bagi sesama: mendengarkan keluh kesah, memberi waktu, dan menghadirkan kasih.
Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan semua masalah mereka, tetapi kehadiran yang tulus sudah menjadi tanda belas kasihan Allah.
Bagaimana dengan diriku?
Apa bentuk “kerelaan hati” yang selama ini masih sulit saya hidupi dalam relasi dengan sesama?












































