Kasih pada Allah Nyata dalam Tindakan Baik kepada Sesama

0
30 views
Ilustrasi - Berbagi kasih dengan sesama di masa pandemi Covid-19. (Ist)

Kamis, 6 Juni 2024

2 Tim. 2:8-15;
Mzm. 25:4bc-5ab.8-9.10.14;
Mrk. 12:28b-34.

DUNIA saat ini semakin induvidualis. Sering kali kita menjadikan kepentingan pribadi yang egois sebagai sumber dan tujuan dari sikap dan tindakan kita.

Orang yang hanya mengejar kepentingan diri sendiri akan sulit untuk mencintai. Sebab dalam pikirannya bukan lagi apa yang harus saya berikan kepada sesama, tetapi apa yang sesama harus berikan kepada saya.

Kita ditantang untuk membangun sikap hidup tanpa pamrih, yang terarah pada kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan diri dan sesama.

“Saya tidak menyangka bahwa anakku akan menjadi pribadi yang antisosial seperti saat ini,” syering seorang ibu.

“Anakku laki-laki berumur 15 tahun, dia suka menyendiri, tak punya teman, atau tidak gaul dengan teman sebayanya. Dia asyik dengan dirinya sendiri, tinggal di kamar. Saya sudah berusaha membawa dia ke psikiater, namun dia marah dan semakin menutup diri dengan orang lain bahkan dengan saya ibunya.

Dia tidak pernah mau peduli akan perasaan orang lain, dan mengacuhkan perilaku yang benar dan tidak benar. Tak cuma itu saja, dia kurang memiliki rasa empati dan cenderung memanipulasi orang-orang di sekitarnya.

Hal ini sering kali terjadi, dan salah satunya adalah ketika ibu saya meninggal. Dia sama sekali tidak mau melayat dan bertemu dengan saudara lainnya. Bahkan dia menyalahkan bapaknya yang sibuk mengurus ibuku yang meninggal.

Saya sangat bingung, mengapa anakku bisa seperti ini? Saya berharap dia bisa tumbuh sehat jasmani dan rohani. Tumbuh seperti anak-anak yang lain, bisa menghargai kehidupan ini dan dengan perilakunya memuliakan Allah dengan mencintai sesama. Namun nyatanya anakku tumbuh menjadi pribadi yang sangat individualis,” syering ibu itu.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Ketika mengasihi menjadi hukum yang terutama, maka kasih hendaknya menjadi rujukan pokok dari setiap perbuatan dan tindakan hidup manusia. Sikap yang hanya memanjakan diri sendiri harus ditinggalkan diganti menjadi sikap tulus dalam melayani sesama. Kasih kepada Allah itu menjadi nyata dalam pengurbanan dan pelayanan pada sesama.

Pola perilaku dan sikap hidup mesti berakar pada penghayatan kasih yang benar. Orang bisa banyak menyampaikan ide dan gagasan tentang kebaikan dan kasih namun jika tidak disertai dengan perbuatan nyata, itu omong kosong.

Maka bisa dipahami jika kualitas keberimanan kita sebagai pengikut Kristus dinilai sejauh mana sikap hidup kita mengekspresikan kasih terhadap Allah dan sesama manusia. Sesama di sini juga berhubungan dengan alam ciptaan.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku mengasihi sesama dan segala ciptaan dengan tulus hati sebagai bentuk kasihku pada Allah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here