Kerinduan di Balik Awan

0
118 views
Ilustrasi

OKTOBER 2020, akhir bulan sekitaran pukul 02.21 dinihari. Alam terselimuti keheningan dan kesepian mendalam. Beberapa pasang mata terjaga. Ada sesuatu yang tak biasa sedang berlangsung. Jantung berdegup perlahan.

Hati berbisik, ada yang lain.

Sesuatu yang melekat kuat telah lepas perlahan. Sinar kecil, jiwa telah kembali kepada pemilik bumi dan semesta.

Kembali pulang

Kami tahu ke mana dia pergi. Kami tahu ke mana dia pulang. Karena itu, izinkan kami, saya, dan mereka untuk mencintainya dalam keikhlasan dan kerelaan. Bersukacita, karena tempat dia pulang adalah keabadian.

Tak seorang pun dapat merebut kebahagiaannya sekarang. Ia telah memiliki Tuhan yang jadi pegangannya secara sempurna. Dan ia telah dimiliki oleh Kesempurnaan itu sendiri.

Kebahagiaanku adalah mengantarnya dalam keabadian yang dalam dan tak terbatas untuk bertemu Sang Pemilik jiwa.

Tangisan, kesedihan, setelah sekian lama bersama. Setiap hari. Dan harus pergi. Tercampur dengan rasa penyesalan kesalahan di waktu lalu.

Penyesalan, belum mampu membahagiakannya. Emosi kejengkelan yang belum terselesaikan. Menekan amarah di masa lalu dan tak mampu mengungkapkan karena ketakutan seorang anak.

Rekonsiliasi

Rekonsiliasi yang telah dijembatani oleh suster belum sepenuhnya terjadi. Tertahan oleh tangisan. Satu per satu saudara kandung mohon maaf di telinga bapak. Kami percaya, meskipun bapak tak bisa berkomunikasi lagi, bapak mengerti.

Tiada henti

Suster, biarawati sepertinya paham akan situasi saat itu. Ia melihat fisik bapak yang sudah lain. Cairan keluar dari bekas suntikan perawat tak berhenti. Badan mulai membengkak perlahan. Bekas genggaman tangan pada lengan tangan kanan bapak sudah membekas.

Lagu Maria, doa Rosario, doa koronka, dan Litani Maria terus didengungkan di telinga bapak. Meminta untuk bapak melafalkan doa-doa itu sesuai kemampuannya.

Merekamnya dalam pikiran dan hatinya.

Bapak mengikuti doa-doa itu dalam keterbatasannya.

Rindu

Setelah kepulangan bapak ke rumah Tuhan, beberapa kali terlontar dari anak-anaknya rasa rindu. Dan menjadi kebiasaan untuk selalu mengganti bunga di pusara bapak.

Di situlah rasa rindu terobati. Ada juga yang memandangi langit malam, mencari bintang yang paling kuat bersinar.

Itulah bapak. Melihat anak-anaknya di bumi dari rumahnya yang baru bersama Tuhan.

Suatu saat nanti akan berkumpul bersama lagi seperti janji Tuhan Yesus sendiri.

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakan demikian kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” (Yohanes 14:2-3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here