Ketinggian

0
211 views
Pastor kotbah. (Ist)

Renungan Harian
Selasa, 30 November 2021
Bacaan I: Rom. 10: 9-18
Injil: Mat. 4: 18-22
 
PADA suatu kesempatan, saat saya masih frater dan sedang live in di sebuah desa, kami ngobrol dengan bapak-bapak di desa itu setelah acara doa.

Ada seorang  bapak yang bertanya: “Frater, belajar kitab suci itu sulit ya? Harus belajar banyak bahasa?”

“Pak, kalau untuk menjadi ahli kitab suci tentu sulit dan harus belajar banyak bahasa. Tetapi kalau kami tidak mempelajari sampai harus belajar banyak bahasa. Karena apa yang kami pelajari sudah diterjemahkan dan dipermudah oleh para dosen,” jawab saya.

“Kalau teologi itu belajar bahasa Tuhan?” tanya bapak yang lain.

“Bukan belajar bahasa Tuhan Pak, tetapi kami belajar tentang bagaimana iman pada Tuhan dijelaskan menurut para ahli,” jawab saya.

“Wah hebat ya, nanti para romo dan frater pasti masuk surga, karena bisa mengerti sabda Tuhan dan mengerti apa yang Tuhan mau.

Kalau seperti kami-kami ini pasti sulit karena kami tidak bisa mengerti sabda Tuhan dan tidak mengerti apa yang Tuhan mau,” bapak lain menanggapi.
 
“Bapak-bapak, kita ini sama-sama berjuang jadi semua tergantung bagaimana kita menjalani. Soal mengerti sabda Tuhan dan kehendak Tuhan, para romo pasti menjelaskan lewat pengajaran maupun kotbah-kotbahnya,” jawab saya.

“Wah frater, kami ini orang desa, orang-orang bodho, sekolah tidak tinggi, tahunya hanya macul (mencangkul) dan ngarit (mencari rumput) susah mengerti.

Romo-romo itu kalau kotbah bahasanya ketinggian, kami tidak mengerti.

Romo ngendika (bicara) apa kami tidak mengerti, otak kami ini tidak sampai. Kami bisa mengerti kalau romo-romo itu kotbahnya sulit, kami mengerti karena yang dibicarakan itu tentang Tuhan dan Kitab Suci yang sulit dan tinggi,” kata seorang bapak.

“Frater, apakah tentang Tuhan dan kitab suci tidak bisa dibicarakan dengan bahasa kami orang desa ini? Maaf frater ini hanya sekedar bertanya,” seorang bapak bertanya lagi.

“Frater, jelasnya adalah apakah Tuhan tidak bisa bicara dalam bahasa kami orang desa ini?” bapak lain menegaskan.
 
Saya terdiam, merasa tertampar dan merenungkan pertanyaan bapak tadi:
“Apakah Tuhan tidak bisa bicara dalam bahasa kami orang desa ini?”

Dengan bahasa apa Tuhan menyapa manusia? Bukankah Tuhan menyapa manusia dengan bahasa manusia?

Dan jangan-jangan justru para imam yang membuat bahasa Tuhan menjadi bukan bahasa manusia, bahasa yang terlalu tinggi.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Matius, Tuhan menyapa dan memanggil muridNya dalam keseharian murid-Nya dan di dalam bahasa keseharian mereka.

“Mari ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here