Kiong Koe Berkicau: Seni Bertahan Hidup ala Yesus

0
155 views
Mobil meniti di atas jembatan miting (Koleksi Romo Sixtus Pr)

Luk 21:12-19

APAU kayan termasuk daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi. Pagi cerah, siang mendung dan malam hujan deras. Atau malam cerah, pagi mendung dan siang hujan deras.

Fenomena alamnya berjalan seperti itu.

Fenomena ini bisa mengganggu aktivitas pelayanan pastoral. Bila menggunakan prinsip menunggu hujan reda atau cuaca cerah baru berangkat pelayanan, maka umat akan “liar atau mati”, karena tidak tersentuh pelayanan rohani.

Ibarat tanaman bunga bila tidak disirami air, lambat laun akan mati.

Di sisi lain, terkadang saya berhadapan dengan kecemasan melewati medan lumpur dan banjir. Belum lagi cemas bila terjadi “sesuatu” yang fatal di jalan seperti motor mogok, rusak, tertanam di lumpur dan jatuh di jalan.

Dan lebih fatal lagi menginap di hutan tanpa gubuk. Menginap di hutan, berarti siap kedinginan, lapar dan diserbu nyamuk. Risiko-risiko seperti ini sering kali menjadi tantangan yang menakutkan bagi saya.

Ah… Kebutuhan kenyamanan diri memang seringkali menggodaku untuk mencari titik aman. Tubuh kerap menuntut perhatian dan kenyamanan. Apalagi iklan kesehatan yang menekankan pada soal perhatian kondisi tubuh.

Sangat bisa, iklan ini akan dijadikan tameng bagi orang yang memang hobinya bermalas-malasan.

Namun, mencari titik aman di medan pastoran bisa berisiko juga akan mendapat teguran keras dari Tuhan Yesus yaitu, “Siapa yang mencintai nyawanya demi kenyamanan tubuh, siap kehilangan nyawanya” (bdk. Mat 10:39).

Dibenci dan kehilangan nyawa demi Dia berarti kita siap menanggung semua resiko ketidaknyaman psikologi tubuh dan semacamnya.

Kalau ingin mendapat bagian dalam Tuhan, ya… harus mau bertahan dan menanggung derita bersama Tuhan. Buat apa, orang bersikeras menaklukkan dan ingin menguasai seluruh dunia ini, bila pada akhirnya dia kehilangan nyawanya.

Bertahan hidup bersama Kristus kendati dicerca dan digebuk banyak penderitaan, berarti kita telah memenangkan kembali hidup kita yaitu, kita mendapatkan kembali hidup kita bersama Dia.

Dengan demikian, tidak ada gunanya lagi orang hidup berharap mendapat bagian seperti pengakuan dari dalam dunia ini. Yang orang butuhkan selamanya dalam hidup ini adalah memperoleh kembali hidupnya bersama Tuhan setelah dia menjalani hidup di dunia ini.

Renungan: “Semua Derita Yang kita pikul saat ini demi Dia, pada akhirnya akan mempertemukan kita dengan Dia”

Tuhan memberkati.

Apau Kayan, 25.11.2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here