Kisah Miskinnya Romo Liem Tjay: Kecil Jualan Bakpao Balong, Besar Jualan Firman Tuhan (2)

0
415 views
Mbok-mbok bakul yang jualan jajanan pasar. Aneka jajanan pasar ini tersaji di tenongan. Para mbok-mbok bakul ini tengah bersantai ria. (Istimewa)

BERBAGI bakpao: “Biar senang” di seminari.

Liem Tjay masuk dan tinggal di Seminari Mertoyudan (1977-1981), lalu di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1981-1982) dan kemudian di Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod” di kawasan Condong Catur, Sleman, Yogyakarta (1981-1989).

Setiap kali Liem Tjay pulang dari Solo, Mica selalu membuatkan bakpao sebagai oleh-oleh untuk teman temannya.

Mica selalu bilang begini: ”Ini kasih bakpao buat teman temanmu di asrama, biar senang.“

Maklum, Mica selalu menyebut “teman teman asrama”. Bukan “seminaris” atau “frater, calon romo”. Itu karena Mica tidak Katolik. Juga tidak tahu apa itu ajaran Gereja Katolik. Juga bukan juga anggota WKRI atau grup ibu-ibu paroki.

Mica sama sekali tidak mengenal seminari dan biara. Mica hanya tahu, anak lelakinya bernama Liem Tjay ini tinggal di asrama. Untuk sekolah gratis.

Mica sangat sadar diri. Sebagai penjual bakpao, keluarganya sungguh tidak mampu membiayai sekolah Liem Tjay dan saudaranya.

Mica hanya tahu, ada orang Belanda yang bersedia kasih biaya sekolah bagi Liem Tjay.

Rupanya, Liem Tjay pernah berniat keluar dari seminari. Bersama almarhum Romo Suyatno Pr, tokoh gerakan lintas agama di Turi, Somohitan, Sleman, DIY.

Waktu itu di tahun 1978, ada kenaikan SPP dan uang asrama di Seminari Mertoyudan Karena merasa diri keluarganya tidak mampu bayar sekolah, kedua teman seangkatan ini memutuskan mau keluar saja.

Untunglah, Rektor Seminari Mertoyudan waktu itu yakni Romo Th. Helsloot SJ dan lalu penggantinya Romo Julius Darmaatmadja SJ–kemudian menjadi Uskup KAS-KAJ dan juga kardinal– merespon dengan bijak. Mencarikan sponsor bantuan biaya pendidikan ke sejumlah donor di Negeri Belanda.

Maka Liem Tjay dan Romo Yatno “Tuyet” almarhun akhirnya tidak jadi jebling. Keluar sekolah dari Seminari Mertoyudan tahun 1978. Lanjut dan terus. Malah keduaya jadi selesai pendidikan dan kemudia menerima Sakramen Imamat: jadi romo.

Made in rumahan

Alm. Romo Suyatno Pr yang dikenal dengan nama akrab “Tuyet” di kalangan alumnus Seminari Mertoyudan tahun 1977. (Dok. Sesawi.Net)

Oleh-oleh bakpao dan matjikue itu buatan sendiri. Asli hasil keringat sendiri oleh Mica, mama Liem Tjay.

Bakpao-bakpao itu memang tidak seberapa harganya. Murah dan jenis kategori “kue kampungan”.

Tapi bakpao ini merupakan persembahan tulus dan kasih sayang seorang ibu kepada Liem Tjay. Juga untuk teman teman anaknya yang senasib sepenanggungan di asrama Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang.

Kurun waktu tahun 1977-1981.

Inilah bentuk persembahan Mica, seorang mama, seorang ibu, seorang janda. Yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Namun memiliki impian begini: “Biarlah anak-anak akan bisa lebih baik nasibnya. Tidak susah. Bisa senang hidupnya kelak.”

“Kasihkan bakpao-bakpao ini untuk teman-temanmu di asrama. Biar mereka senang,” begitu kata Mica. Berkali-kali.

Artinya biarlah orang lain ikut merasakan, mengalami dan menikmati bakpao made in rumahan ini. Dimakan, dinikmati secara bersama sebagai “rezeki dan berkat dari Tuhan”.

Atas: Gerbang masuk Kampung Kepanjen Solo sekarang; menempel tembok rumah Liem Tjay. Bawah: Rumah kuno di Jl. Balong di mana keluarga Liem Tjay ikut tinggal bersama keluarga lain. (Koleksi Liem Tjay)

Pendidikan nilai dari Mica

Semangat berbagi

Semangat berbagi adalah pendidikan nilai yang ditanamkan Mica, mamanya kepada Liem Tjay. Apa yang dimiliki adalah pemberian dan berkat Tuhan. Harus diterima dengan senang dan dibagikan supaya orang lain juga bisa menikmati. Dengan senang hati merasakan hal itu sebagai pemberian Tuhan.

Setia kawan

Setia kawan adalah nilai pendidikan ala sekolah Mica. Sejak kecil agar anak-anak mampu berkembang dalam pergaulan dengan siapa pun. Mica adalah guru sejati yang mengajarkan ilmu hidup. Bukan teori.

Hidup Mica sehari-hari berjualan bakpao adalah fakta dan contoh konkrit. Dari seorang guru sejati, guru kehidupan. Bukan rekayasa dan ilmu di balik dan sebatas di lipstik.

Bakpao menjadi sarana keakraban, persahabatan. Bakpao dan matjikue menjadi sarana praktis, penuh makna untuk membangun persahabatan yang menembus batas dan sekat suku, bahasa, agama dan golongan. 

Bakpao menjadi ragi yang mengembangkan aroma “kasih orangtua dengan anak“ untuk merajut tali persaudaraan, solidaritas, pembauran tanpa perbedaan ras.

Maka Liem Tjay dikenal oleh teman-teman seminaris dengan julukan “Ceti Bakpao” “Paimin Bakpao”, “Setiawan Bakpao”. Bahkan sampai sekarang.

Jika Liem Tjay bertemu dengan teman teman lama, sapaan pertama adalah “Mana bakpao dari mamamu?”.

Mica tidak lagi bisa membuat Bakpao. Sejak tahun 2004, Mica sudah tenang menikmati hidup abadi di surga.

Mica hanya tersenyum melihat “bakpao” tetap dikenang dan menjadi “nilai kehidupan yang indah” bagi sebuah persaudaraan, persahabatan.

Liem Tjay menjadi imam. (Istimewa)

Liem Tjay menjadi imam

Liem Tjay bukan lagi ikut membuat bakpao. Menjadi penjaja yang menawarkan dan mengantarkan bakpao di kantin sekolah. Untuk ikut mencari uang guna membantu bisnis rumahan ala Mica.

Liem Tjay sekarang adalah seorang imam yang mengatakan sambil memperlihatkan kepada umat: “Inilah Yesus Roti Kehidupan” dalam setiap Perayaan Ekaristi.

Liem Tjay sebagai imam bukan hanya menawarkan, menjajakan, membawa “roti tradisional bakpao“. Tetapi sekarang membawa “Roti Kehidupan”.

Liem Tjay justru menjadi pelaku yang menerima kuasa dari tahbisan imamat dengan mengatakan: “Inilah Tubuh-Ku. Inilah Darah-Ku”.

Setiap hari, Liem Tjay menjadi “roti kehidupan”

Setiap pagi Liem Tjay tidak lagi membuat adonan untuk bakpao dan matjikue kue kukus tradisional. Namun Liem Tjay mempersiapkan diri dalam renungan, meditasi pribadi.

Sabda Tuhan adalah ragi yang diolah dalam hidup rohani Liem Tjay sebagai adonan roti “Pewartaan Sabda”.

Tugas dan penghayatan panggilan sebagai imam bagi Liem Tjay adalah:

  • Tetap menjadikan dirinya “bakpao” dalam merayakan ekaristi, menyatu dengan Yesus Kristus Sang Imam Agung dalam Roti Tak Beragi, Tubuh-Nya.
  • Hadir dan menyatu dengan umat sebagai pembawa “bakpao rohani” yang dinikmati bersama.

Seorang imam yang “ber-bakpao” adalah kehadiran hidupnya dapat menjadi santapan rohani bagi umat.

Minum kopi sambil menikmati kue Mak Tiplek

Mak Tiplek lalu menyuguhkan secangkir kopi, sambil berkata: “Ini kue hasil kerjaku dan arem-arem. Ayo dimakan. Kamsia (terimakasih), Romo sudah mau mampir ke rumah.”

Ketulusan, kesederhanaan yang keluar dari hati umat ternyata membentuk Liem Tjay menjadi imam “ber-bakpao” yang ingat akan asal keluarganya.

Itulah impian Liem Tjay.

Sebagai seorang pastor yang kini tinggal di tepian Sungai Serayu, Banyumas,Jateng. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here