
HARI Selasa tanggal 30 September 2025 kemarin adalah tanggal yang akan kuingat selalu.
Aku dan teman-teman baru saja melaksanakan kegiatan penerjunan KKN AMPTA 2025. Kelompok kami berjumlah sebelas orang, beragam latar belakang, namun dengan satu tujuan: belajar dan mengabdi bersama masyarakat desa.
Kami menempati sebuah rumah sederhana milik seorang warga lokal, Pak Sokimin. Beliau tinggal bersama isterinya, berdua saja, sebab anak-anak mereka telah merantau ke kota untuk bekerja.
Dari luar, rumah itu tampak biasa, dinding yang sederhana, halaman kecil dengan beberapa tanaman namun begitu kami masuk, ada sesuatu yang hangat menyambut: senyum tulus dan keramahan yang membuat hati kami merasa pulang.
Bagi kami, rumah Pak Sokimin bukan sekadar tempat singgah. Di situlah kami akan berbagi cerita, makan bersama yang sederhana, dan merasakan arti kebersamaan yang sebenarnya. Kehangatan beliau dan isterinya membuat rumah itu menjadi “rumah kedua” yang penuh cinta.
Dari Ketapang, Kalbar
Aku sendiri datang dari jauh, dari Bumi Kalimantan, seorang puteri asli Dayak yang merantau ke Pulau Jawa demi menimba ilmu. Kini, takdir membawaku ke Turi, sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang berdiri dekat dengan kaki Gunung Merapi.
Udara di sini berbeda, tanahnya berbeda, bahkan cara orang menyapa pun terasa berbeda. Tapi justru perbedaan itu membuatku tertantang: aku ingin belajar tentang budaya baru, menyelami kehidupan masyarakat desa, sekaligus memperkenalkan secuil budaya Dayak yang kusimpan dalam hatiku.
Turi terkenal dengan salaknya. Di sepanjang jalan, mataku dimanjakan oleh kebun-kebun yang rimbun. Rasanya, aroma tanah dan buah salak seakan menjadi tanda bahwa di sini kami akan memulai kisah baru.
Akan selalu terkenang
Aku tahu, dua bulan bukanlah waktu yang singkat. Akan ada rindu, ada lelah, ada tawa, dan mungkin juga air mata. Namun, aku berharap perjalanan ini berjalan dengan baik.
Semoga kelompok kami tetap kompak dan solid, menghadapi segala tantangan bersama. Dan yang lebih penting: semoga ketika KKN ini usai, kami meninggalkan kesan yang indah di hati warga Desa Kembang, sebagaimana mereka telah memberikan sambutan yang begitu hangat di hari pertama ini.
Karena pada akhirnya, KKN bukan sekadar tentang program kerja. Ia adalah tentang hidup, belajar, dan bertumbuh bersama.











































