PAGI lembut di Desa Tuyuhan, Bu Sito, pemerhati budaya kuliner, bersama Dewi dan Lusi, sedang berbincang tentang sejarah dan cita rasa Lontong Tuyuhan.
Dewi: “Bu Sito, kata temenku, Anton, Lontong Tuyuhan ini sudah diwariskan turun‑temurun sejak zaman nenek moyang. Apa yang membuatnya begitu istimewa?”
Bu Sito, dengan tatap penuh makna: “Benar, Dewi. Lontong ini lahir dari Desa Tuyuhan, bukan karena lontongnya, tapi karena cara rempahnya diolah sehingga kuahnya jadi cokelat kekuningan dan rasa rempahnya menyatu. Ini bukan lontong opor biasa, ini warisan rasa untuk tamu penting seperti khaul atau hajatan besar.”
Lusi: “Indonesian kan banyak lontong. Kalau dibandingkan dengan Lontong Cap Go Meh atau Lontong Semarang, apa bedanya, ya?”
Bu Sito: “Lontong Cap Go Meh lebih lengkap, dengan opor putih, sambal goreng ati, telur pindang, dan aneka pelengkap. Lontong Semarang lebih ringan dengan sayur lodeh labu siam. Tapi Lontong Tuyuhan: sederhana, cuma lontong, opor ayam kampung, dan rempah kuat. Namun rasanya begitu dalam hingga nagihi.”
“Bu, ajarin dong resepnya,” Rajuk Dewi dan Lusi.
Bu Sito, buka buku resep:
- “Tumis bumbu halus (bawang merah, putih, kemiri, ketumbar, jintan, kunyit bakar, jahe)
- Masukkan rempah seperti daun jeruk, salam, serai, lengkuas.
- Tambah ayam kampung, santan kental, garam, gula merah, kaldu.
- Masak perlahan hingga tercapai keempukan dan kekentalan sempurna.
Dewi, penasaran, nyeletuk: “Kalau pengen yang paling otentik, di mana ya?”
Bu Sito, tersenyum: “Saat ini Lontong Tuyuhan paling viral ada di Pak Rami, jalan Japerejo, di Sentra Kuliner Lontong Tayuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang.”
Bu Sito, sambil menatap sawah menghijau: “Ini bukan sekadar makanan, lho. Ini lontong yang membawa sejarah, pemandangan sawah, suara gemericik air galengan, dan angin pegunungan yang mengiringi rempah kari di lidahmu.”
Lusi: “Wah, jadi benar ya kata itu, temen kita di Rotary, Eddy, bahwa belum ke Lasem kalau belum merasakan Lontong Tuyuhan langsung di sumbernya.”
Bu Sito: “Betul. Ini bukan sekadar makan. Ini warisan leluhur yang juicy, di mana tubuh dan pikiran menyatu dengan budaya.”
Referensi:
- Dini, D. (2023, Januari 21). Mengenal Lontong Tuyuhan, Makanan Khas Rembang. Indonesia Eats. Wikipedialinimedia
- Facebook/TikTok reports tentang warung seperti Pak Masrum atau Pak Djadi di Semarang dan Rembang. FacebookGoFood
- Soekanto, A. (2025, Februari 18). Secuil Kisah dan Sarapan Lontong Tuyuhan: Kuliner Khas Rembang. Astin Soekanto. Astin Soekanto
Catatan:
Teks ini dikembangkan dengan bantuan AI (DeepSeek, ChatGPT, Meta AI) dan disunting oleh penulis untuk tujuan edukatif.
Lisensi: CC BY-NC 4.0
Join:
Urip kudu urup
https://chat.whatsapp.com/BPvlR2SmLrT45HLZNykWgY
Info Kuliner Tempo Dulu
https://chat.whatsapp.com/JhVCLwGlgVSIeDBGNp0ZzI
Info Wisata Indonesia
https://chat.whatsapp.com/BzRyjqwJw2jDLNiU2CVJ9s










































