Lectio Divina 06.02.2022 – Menjala Manusia

0
251 views
Mulai sekarang kalian menjala manusia, by Hi Qi, 2001

Minggu. Hari Minggu Biasa V (H)

  • Yes. 6:1-2a.3-8
  • Mzm. 138:1-2a.2bc-3.4-5.7c-8
  • 1Kor. 15:1-11
  • Luk. 5:1-11

Lectio

1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

4  Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5  Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

6  Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7  Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” 9  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10  demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon.

Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Meditatio-Exegese

Ini aku, utuslah aku

Masa pemerintahan yang gilang-gemilang di bidang politik, ekonomi dan militer berakhir saat Raja Uzia mangkat, sekitar 772 sebelum Masehi. Kerajaan sangat makmur. Namun, dibalik gemerlapnya kemakmuran, umat mengalami kemerosotan dalam hidup rohani dan moral.

Ungkapan Yesaya, “Aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” (Yes. 6:1) sepertinya bermakna ganda.

Pertama, Yesaya meyakini bahwa Allahlah Sang Penguasa dan Raja Alam Semesta, seperti dilukiskan Ia duduk di takhta yang tinggi dan menjulang.

Ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci, tempat-Nya bersemayam di bumi. Tahta dan pakaian kebesaran-Nya menyingkapkan Dialah yang harus disembah dan dimuliakan. Para Serafim nampak lebih tinggi dari Allah, karena Ia duduk di tahta-Nya; dan mereka melayani dan memuliakan-Nya.

Allah yang kudus dipuji dan dimuliakan oleh para malaikat di sorga. Nabi mengungkapkan (Yes. 5:3), “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”, Sanctus, Sanctus, Sanctus Dominus exercituum; plena est omnis terra gloria eius.

Kekudusan-Nya juga bergema dan membuka konsekrasi dalam setiap Perayaan Ekaristi. Biasanya, orang yang mengalami penampakan akan Allah merasa takut.

Ibu Maria harus ditenangkan oleh Malaikat Tuhan, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.”, Ne timeas, Maria; invenisti enim gratiam apud Deum.

Di hadapan Allah yang penuh pesona dan rahasia, manusia sadar akan kehinaannya. Musa membuka kasut dan menutup mukanya dengan kain, karena takut memandang Allah di depan semak berduri yang menyala-nyala.

Di hadapan Allah yang dimuliakan tiga kali dengan seruan, “Kudus”, Yesaya berseru, “Celakalah aku. aku binasa. Sebab aku ini seorang yang najis bibir.” (Yes. 6:5). Tetapi, Allah yang kudus selalu melimpahkan belas kasih dan pengampunan kepada siapa pun juga yang mengakui diri sebagai pendosa di hadapan-Nya.

“Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu… sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu” (Hos. 11:9). Kesalahan Yesaya dihapus dan dosanya diampuni, karena ia mengakui diri sebgai pendosa di hadapan Allah (Yes. 6:6-7).

Naluri sang nabi menyingkapkan rasa gentar dihadapan Allah segera dialihkannya dengan kesediaan untuk diutus-Nya (Yes. 6:8), “Ini aku, utuslah aku.”, Ecce ego, mitte me.

Tentang tugas perutusan dari Allah untuk para nabi dan setiap orang beriman, Bunda Gereja mengajarkan, “Dalam kesendirian dengan Allah, para nabi menerima terang dan kekuatan untuk perutusan mereka. Doa mereka bukanlah suatu pelarian dari dunia yang tidak percaya, melainkan suatu usaha mendengarkan Sabda Allah.

Doa ini sering kali membuka hati atau mengeluh, tetapi selalu merupakan satu doa syafaat, yang mengharapkan dan mempersiapkan (bdk. Am. 7:2.5; Yes. 6:5.8.11; Yer. 1:6; 15:15-18; 20:7-18) campur tangan Allah yang membebaskan, Tuhan sejarah.” (Katekismus Gereja Katolik, 2584).

Akhirnya, Tuhan mengutus untuk tugas yang tidak mudah, bahkan, disebut sebagai paradoks, saling bertentangan. Tugas itu tidak untuk membantu membuka pikiran hati dan telinga orang tidak mau mendengarkan sabda-Nya; tetapi justru menantang tiap pribadi anggota umat Allah.

Jika mereka gagal mendengarkan sabda-Nya, hati mereka akan menjadi buta. Mereka adalah pendosa yang tidak memerlukan rahmat untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Mereka merasa tahu akan Allah; tetapi hati mereka jauh dari-Nya.

Penglihatan Yesaya pasti berlawanan dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara umat. Umat tidak menyembah Allah, walau hidup makmur. Mereka menyembah siapa pun dan apa pun di luar Allah.

Ketika Allah dilupakan, nabi mengingatkan akan akibat dosa yang harus ditanggung oleh para penguasa, golongan yang suka makan uang dan korup atau mereka yang mengagungkan.

Nabi mengingingatkan, “Sebab itu dunia orang mati akan membuka kerongkongannya lapang-lapang dan akan mengangakan mulutnya lebar-lebar dengan tiada terhingga, sehingga lenyap ke dalamnya segala kesemarakan dan keramaian Yerusalem, segala kegaduhannya dan orang-orang yang bersukaria di kota itu.” (Yes. 5:14).

Inilah perintah-Nya, “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!

Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.” (Yes. 6:9-10).

Nabi Yesaya menjawab sampai kapan tugas perutusan ini berlangsung. Tugas itu berlangsung sampai umat-Nya dibuang di tengah bangsa asing sebagai penghukuman atas sikap batin yang menolak Allah.

Nabi Yesaya, hidup 120 tahun sebelum kelahiran Nabi Yeremia, menubuatkan pembuangan dan pemulihan (bdk. Yes. 6:11-13).

Para penulis Perjanjian Baru mengidentifikasi bahwa tugas Yesus dan keadaan umat yang yang dilayani-Nya dengan pewartaan Kabar Suka Cita identik dengan tugas pengutusan dan keadaan yang dialami Nabi Yesaya. Umat merindukan kedatangan Sang Juruselamat, Mesias.

Mereka mempelajari tanda-tanda kehadiran-Nya, termasuk yang dilakukan Herodes Agung (Mat. 2:4-6). Bahkan para murid Yohanes Pembaptis masih harus meyakinkan diri apakah Ia benar-benar yang diharapkan itu (Mat. 11:3-5; Luk. 7:18-22).

Santo Matius dan Markus merumuskan situasi yang dialami Yesus, terutama saat Ia menemukan umat yang sulit menangkap dan memahami perumpamaan yang diajarkan-Nya. Situasi sama seperti saat Nabi Yesaya mengajar melalui perumpamaan.

Santo Matius dan Markus menulis, “Sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.” (Mt. 13:13-15; Mk. 4:11-12).

Menggunakan gagasan yang sama, Santo Yohanes menerapkan sabda Allah dalam Kitab Nabi Yesaya sebagai antisipasi atas penolakan Yesus oleh kaum sebangsa-Nya, “Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mukjizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?”

Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: “Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka”. Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia telah melihat kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia.” (Yoh. 12:37-41).

Dan, Santo Paulus juga menggenakan kata-kata Nabi Yesaya untuk mengingatkan orang Yahudi di Roma karena mereka menolak Kabar Sukacita yang diwartakannya tentang keselamatan yang terjadi dalam diri Yesus Kristus (bdk. Kis. 28:23-28).

Umat yang mengeraskan hati pasti untuk mendapatkan hukuman. Kota, rumah dan apa yang dibangun dengan tangan manusia akan lenyap; tapi, tak semua. Benih yang kudus dan baik pasti akan tumbuh kembali (Yes. 6:11-13).

Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu

Banyak orang mencari Yesus. Mereka ingin mendengarkan pengajaran-Nya. Sikap mereka rupanya mulai tumbuh di Sinagoga Kapenaum ketika Yesus mengajar pada hari Sabat.

Mereka takjub karena Ia mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa (Luk. 4 : 32). Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat (Mat. 7:29).

Pada kesempatan ini, Yesus sangat tergantung pada bantuan orang lain. Tidak mungkin Ia mengajar dengan meminta orang banyak berdiri di tepi laut, karena sangat berisiko untuk keselamatan.

Maka, Ia meminta tolong Petrus dan teman-temannya untuk menyiapkan perahu di tepi pantai sebagai tempat untuk duduk dan mengajar. Dengan posisi tinggi di perahu seluruh perhatian orang terpusat pada-Nya.

Setelah perahu siap, Ia mengambil sikap seorang Guru, yang duduk dan mengajar. Yesus mampu menggunakan segala sarana yang sepertinya terbatas untuk kepentingan pewartaan Kerajaan Allah.

Tak terbayangkan sebelumnya bahwa Ia memanfaatkan perahu dan pantai atau seluruh sarana lain yang kelihatannya terbatas dan tidak ‘modern’ untuk mengajar tentang Kerajaan Allah pada orang banyak. Inilah kebaruan dan pembaharuan yang dibawa-Nya.     

Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga

Setelah selesai mengajar dan orang banyak itu pergi, Yesus menjumpai Simon. Ia meminta Simon untuk sekali lagi menebarkan jala. Simon, nelayan yang berpengalaman dan seumur hidup bergaul dengan danau Galilea, menanggapi dengan nada jawaban putus asa.

Ia kenal betul karakter Danau Galilea pada musim paceklik. Ikan menghilang. Ia hanya mendapat rasa capai dan gundah. “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa.” 

Tapi, mungkin setelah menimbang apa yang dialami selama mendengarkan pengajaran Yesus di tepi pantai dan pengusiran penyakit demam yang diderita ibunya, Petrus berubah pikiran.Kata-kata-Nya mengandung wibawa, pesona dan menggerakkan Petrus untuk menuruti-Nya dari pada menuruti apa kata hatinya. Maka ia menebarkan jala.

Santa Teresia dari Lisieux, biarawati Karmelit, menulis untuk seorang sahabatnya, “Yesus mengasihi kita sedemikian hingga tak dapat kita pahami; ia menghendaki bahwa kita ambil bagian dalam karya-Nya untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Tak mungkin Ia berkarya tanpa kita. Pencipta alam semesta menantikan doa dari jiwa kecil dan miskin untuk keselamatan jiwa orang lain karena mereka juga ditebus dengan harga yang sangat mahal melalui darah-Nya”.

Mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam

Hasil tangkapan luar biasa melimpah. Jumlah yang demikian besar membuat jala hampir koyak. Ketika dimuat di dua perahu, keduanya hampir tenggelam. Simon membutuhkan bantuan Yohanes dan Yakobus, yang sedang berada di perahu lain.

Tiada seorang pun mampu menangani hasil tangkapan sendirian. Situasi yang dialami jemaat Santo Lukas dilukiskan dengan indah dalam kisah ini.

Komunitas beriman pasti membutuhkan bantuan dari komuitas lain. Ketika meminta bantuan dan memberi bantuan keduanya saling merendahkan diri, melupakan diri sendiri dan bahu-membahu melayani jemaat.

Maka, didorong olah sabda Tuhan masing-masing menyingsingkan lengan baju, melupakan pelbagai perbedaan dan bekerja sekuat tenaga demi kemuliaan Tuhan, Raja semesta alam.

Saat ditanya tentang apa yang dikerjakan, Nabi Elia menjawab pada Tuhan (1Raj 19:14), “Aku bekerja segiat-giatnya demi Tuhan, Allah semesta alam.”, zelo zelatus sum pro Domino Deo exercituum.

Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia

Petrus mengalami pengalaman dekat dengan Allah dalam diri Yesus. Ia mulai mengenal siapa Pribadi Yesus. Maka ia berseru, ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Pada saat yang  sama, ia dan kawan-kawan merasa gentar, tetapi sekaligus sosok Yesus begitu mempesona.

Yesus menanggapi dengan sampaan khas, ”Jangan takut!” Kemudian Ia meminta komitmen penuh mereka untuk ambil bagian dalam tugas perutusanNya.

Ungkapan Yunani  απο του νυν, apo tou nun, atau ex hoc iam (Latin), mulai dari sekarang, menunjukkan pemisahan peran Petrus dan kawan-kawan. Mereka tidak lagi menjadi penjala ikan. Tetapi, mulai sekarang dan terus berlangsung, menjadi penjala manusia.

Nada suara Yesus yang berwibawa dialami Petrus sebagai sabda Allah. Sabda-Nya selalu terbuktikan dalam realitas hidupnya.

Dalam diri Yesus, para nelayan yang berpenampilan kasar dan sangar akan mengalami kuasa, keberanian dan kepercayaan. Maka, mereka “meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.” 

Sampai sekarang hanya Yesus yang mewartakan Kabar Suka Cita. Pribadi lain dipanggil untuk ambil bagian dalam tugas perutusan-Nya. Dengan cara inilaah Yesus berkarya : ‘membentuk kelompok kerja’ yang saling bekerja sama dalam mewartakan Kabar Suka Cita, Yesus sendiri

Katekese

Semoga bara api yang memurnikan Nabi Yesaya memurnikan hati umat. Origenes, bapa Gereja dari Alexandria, 185-232:

“Semoga bara yang menyala yang dibawa serafim dari altar sorga digunakan juga untuk membakar bibirku. Jika bara api Tuhan menyentuh bibirku, kedua bibirku dimurnikan; dan ketika dimurnikan dan dosaku dibersihkan, […] mulutku terbuka untuk menerima sabda Allah dan aku tak akan mengucapkan kata-kata najis […].

Serafim yang diutus untuk memurnikan bibir sang nabi tidak memurnikan bibir para umat […]; maka, mereka terus hidup dalam dosa, dan sekarang mereka mengingkari Tuhan Yesus Kristus dan mengutuk-Nya dengan mulut yang najis. Bagiku, aku memohon agar serafim berkenan datang untuk membersihkan bibirku.” (Homiliae in Isaiam, 1, 4).

Oratio-Missio

Tuhan, penuhilah hatiku dengan kasih dan belas kasih kepada mereka yang belum mengenal atau mengikuti-Mu. Semoga aku menjadi saksi yang baik atas kebenaran dan keselamatan bagi keluargaku, sahabat, dan rekan seperutusan. Amin.       

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk bekerja sama dengan rekan seperutusanku?

Noli timere; ex hoc iam homines eris capiens – Lucam 5:10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here