Lectio Divina 19.6.2024 – Hidup tanpa Topeng

0
41 views
Topeng rusak by Sareh Mokhtari, Austria, 2018

Rabu. Minggu Biasa XI, Hari Biasa (H)

  • 2Raj 2:1.6-14
  • Mzm 31:20.21.24
  • Mat 6:1-6.16-18

Lectio

1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”  

Meditatio-Exegese

Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat

Yesus mengecam orang yang melakukan doa, amal kasih dan puasa hanya untuk dilihat orang (Mat. 6:1). Sebaliknya, Yesus meminta para murid-Nya sadar akan sikap/disposisi batin. Sikap batin yang benar adalah ‘bukan apa yang harus aku lakukan untuk Allah, tetapi apa yang dilakukan Allah untukku’.

Bila membandingkan teks Indonesia (TB) dengan teks lain yang diakui Gereja Katolik, didapati ungkapan dalam TB ‘kewajiban agama’. Sementara dalam teks Yunani digunakan kata ελεημοσυνην, eleemosunen, yang berakar dari kata eleos, belas kasih, amal kasih, pemberian.

Teks Vulgata menggunakan kata iustitia, keadilan, kelemahlembutan hati, bela rasa, kesederajadan. Teks Inggris yang umum diterima Gereja Katolik, Douay-Rheims, menggunakan istilah: justice.

Maka, kalau memperhatikan konteks, keadilan mencakup: amal kasih atau bela rasa. Dari teks Vulgata, Latin, dapat dibandingkan (Mat. 6:1), “Dengarkanlah, jangan kamu melakukan keadilan di hadapan orang, supaya dilihat orang”, Attendite, ne iustitiam vestram faciatis coram hominibus, ut videamini ab eis.

Ungkapan amal kasih sesuai dengan tiga pilar hidup keagamaan orang Yahudi: doa, puasa dan amal kasih atau sedekah. Di atas tiga pilar ini hidup pantas di hadapan Allah dilandaskan. Tetapi Yesus tidak mau berhenti pada apa yang nampak baik di permukaan.

Ia menukik ke kedalaman makna sabda. Dari disposisi batin ini, terbentuklah relasi dengan Allah yang unik dan baru (Mat. 6:4), “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”, et Pater tuus, qui videt in abscondito, reddet tibi.

“Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (Mat. 6:8). “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.” (Mat. 6:14).

Inilah cara baru untuk membuka hati agar manusia mampu memasuki dan merasakan kehangatan Hati Allah, Bapa kita. Yesus tidak pernah menghendaki praktik doa, amal kasih/sedekah dan puasa menjadi sarana menyombongkan diri di hadapan Allah dan komunitas (Mat. 6:2.5.16).

Apabila engkau memberi sedekah

Memberi sedekah sangat dianjurkan oleh jemaat Gereja Perdana (Kis. 2:44-45; 4: 32-35). Tetapi, orang yang melakukannya hanya untuk mencari ketenaran dirinya sendiri dan menginjak harga diri komunitas, pasti dikeluarkan dari komunitas iman, seperti terjadi pada Ananias dan Safira (Kis. 5:1-11).

Hari ini, di lingkungan masyarakat kita dan Gereja, mudah ditemukan liputan luas atas karya amal kasih. “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:3-4).

Karya amal kasih/sedekah merupakan ungkapan pemberian diri dan anugerah kasih yang dicurahkan untuk siapa saja. Hendaknya orang percaya dan meneladani apa yang Dia lakukan-Nya terus-menerus tanpa henti dalam keheningan.

Janganlah berdoa seperti orang munafik

Kaum Farisi mengubah doa menjadi kesempatan untuk memamerkan kesalehan pribadi. Pada saat itu, ketika terompet dibunyikan pada kesepatan doa, pagi, siang dan sore, mereka berhenti di tempat mereka berada, termasuk di tempat-tempat umum.

Sikap seperti ini menghalangi relasi pribadi dan intim dengan Allah. Oleh sebab itu, Yesus menyarankan untuk masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan berdoa kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.   

Allah melihat apa yang tersembunyi dan selalu mendengarkan doa. Anjuran Yesus diarahkan untuk mengembangkan relasi pribadi dalam doa, bukan doa komunitas. 

Santo Agustinus menulis, “Orang munafik adalah ia yang berpura-pura menjadi pribadi yang penting, tetapi ternyata tidak demikian. Orang ini berpura-pura menjadi suci, tetapi tanpa bukti kesuciannya… 

Mereka tidak mendapatkan ganjaran sedikitpun dari Allah, yang menelisik hati manusia, “yang mencela tipu daya mereka. Mereka mungkin mendapat ganjaran dari manusia.

Tetapi dari Allah mereka hanya mendengar, “Enyahlah dari hadapanku, kalian para pembuat dusta. Engkau mungkin bicara atas nama-Ku, menyerukan nama-Ku, tetapi kalian tidak melakukan kehendak-Ku.”  (Sermon on the Mount 2.2.5).

Janganlah muram mukamu seperti orang munafik

Pada jaman itu, berpuasa selalu diikuti beberapa gerak tubuh yang kelihatan: tidak membasuh muka, tidak menyisir rambut, dan mengenakan pakaian sederhana. Inilah cara berpuasa yang nampak di depan mata.

Yesus mengecam sikap seperti ini. Ia meminta para murid melakukan hal yang sebaliknya, sehingga orang lain tidak tahu kalau mereka berpuasa: mandi, mengenakan minyak wangi, dan menyisir rambut.

Dengan cara ini Bapa tahu kalau tiap murid-Nya berpuasa dan mengganjar tindakan yang tidak dilihat orang.

Katekese

Jangan munafik, bersikaplah dan bertindaklah jujur. Paus Fransiskus, 17 Desember 1936

Dalam Kitab Suci, dijumpai beberapa contoh penentangan terhadap kemunafikan. Kesaksian yang indah saat melawan kemunafikan diperlihatkan oleh Eleazar yan diminta untuk pura-pura makan daging yang dipersembahkan pada para dewa asing agar nyawanya selamat.

Berpura-pura bahwa ia makan daging itu padahal sebenarnya ia tidak makan apa pun. Atau berpura-pura makan daging babi padahal teman-temannya menyiapkan jenis daging lain.

Orang tua yang takut akan Allah itu menjawab, “Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan juga, oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing.

Boleh jadi mereka kusesatkan dengan berpura-pura demi hidup yang pendek dan fana ini dan dalam pada itu kuturunkan noda dan aib kepada usiaku.” (2Mak. 6:24-25). Orang yangg jujur tidak pernah menempuh jalan kemunafikan.

Betapa kisah ini amat indah untuk direnungkan agar kita jauh dari kemunafikan. Injil juga mengisahkan beberapa kesempatan saat Yesus mengecam keras orang-orang yang berpenampilan luar sangat jujur, tetapi di dalam hati dipenuhi dengan kepalsuan dan niat jahat (bdk. Mat. 23:1329).

Jika kalian memiliki waktu luang hari ini, bacalah bab 23 Injil Santo Matius dan periksa berapa kali Yesus bersabda, “Munafik, munafik, munafik.” Sabda-Nya menyingkapkan apa itu kemunafikan.

Orang munafik adalah orang yang berpura-pura, membual dan menipu. Karena mereka hidup dengan topeng yang menutupi raut muka mereka dan tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran. Karena alasan ini, mereka tidak mampu untuk mengasihi dengan seluruh ketulusan hati.

Orang munafik tidak mengenal bagaimana mengasihi. Mereka membatasi diri untuk menyukai apa yang berasal dari egoisme dan tidak memiliki daya untuk menunjukkan isi hati mereka dengan benar dan terbuka.

 Ada banyak situasi yang memicu kemunafikan. Seringg kemunafikan tersembunyi di tempat kerja. Seseorang nampaknya sangat bersahabat dengan rekan kerjanya, tetapi persaingan sering membuat mereka saling menikam di belakang.

Dalam bidang politik, tidaklah sulit menemukan orang-orang munafik yang hidup secara bertolak belakang saat bertemu orang banyak dengan saat sendirian.

Kemunafikan dalam Gereja sangatlah menjijikkan. Sayang, kemunafikan ada dalam Gereja dan banyak ditemukan pengikut Kristus dan pelayan yang munafik. Kita tidak boleh melupakan sabada Tuhan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat. 5:37).

Saudara dan saudari, hari ini, marilah kita renungkan kemu-na-fik-an yan dikecam Santo Paulus. Dan Yesus juga mengecam: ke-mu-na-fik-an. Dan janganlah takun untuk menjadi pribadi yang jujur, bicara kebenaran, mendengarkan kebenaran, menguji diri sendiri dengan kebenaran.

Dengan cara ini, kita mampu mengasihi. Seorang munafik tidak tahu bagaimana mengasihi. Bertindak yang bersimpangan dengan kebenaran selalu berarti membahayakan kesatuan Gereja. Kesatuan inilah yang selalu didoakan Tuhan sendiri.” (General Audience, Paul VI Audience Hall, Rabu, 25 Agustus 2021)

Oratio-Missio

Ya Allahku, ketika aku bersatu sepenuhnya denganMu, aku tidak tak pernah mengalami kesedihan atau cobaan. Hidupku akan selalu sejahtera. Amin. (doa Santo Agustinus, Uskup Hippo, 354-430, dalam Confessiones, terjemahan bebas)

  • Apa yang harus aku lakukan untuk menjalin relasi dengan Allah dan relasi sosial dengan sesama?

et Pater tuus, qui videt in abscondito, reddet tibi – Matthaeum 6:4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here