Lectio Divina 24.11.2023 – Jangan Buat Rumah-Ku Kotor

0
209 views
Rumah-Ku harus menjadi rumah doa by Vatican News.

Jumat. Peringatan Wajib Santo Andreas Dung Lac (M)

  • 1Mak. 4:36-37,52-59
  • MT 1Taw. 29:10.11abc.11d-a2a.12bcd
  • Luk. 19:45-48

Lectio

45 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, 46 kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

47 Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, 48 tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Meditatio-Exegese

Kita pergi mentahirkan Bait Allah dan mentahbiskannya kembali

Setelah musuh disingkirkan, para Makabe menetapkan pentahiran dan pentahbisan kembali Bait Allah sebagai prioritas utama. Mereka menempatkan relasi dengan Allah sebagai pilihan utama dan pertama, karena untuk itulah mereka berperang dan menghalau musuh.

Pentahiran Bait Allah dipercayakan pada ‘para imam yang tahir’ seperti ditetapkan Hukum Taurat (bdk. Im. 22:3-9). Batu-batu yang digunakan sebagai altar dan disucikan pada masa Ezra (Ezr. 3:2-5) dibuang ke Lembah Hinom, seperti altar untuk para berhala.

Altar yang dibangun dan disucikan bukanlah altar tetap, karena mereka masih mengharapkan kedatangan seorang nabi untuk menetapkannya (1Mak. 4:46; bdk. 1Mak. 9:27; 14:41). Pembangunan altar baru yang selarang dengan Kel. 20:25 mengingatkan akan pentahbisan Bait Allah pada masa Salomo (bdk. 1Raj. 8:1-66) dan pada masa Ezra-Nehemia (Ezr. 5:1-6:22).

2Mak. 10:1-8 tak hanya mengisahkan peristiwa pentahbisan yang lebih, tetapi juga bagaimana api untuk upacara kurban dibuat. Peristiwa pentahbisan kembali Bait Allah ditetapkan sebagai hari raya wajib bagi umat (bdk. 2Mak. 1:9.18; 2:16).

Pada masa Yesus hari raya Pentahbisan Bait Allah ditandai dengan dinyalakannya sembilan lilin di setiap rumah untuk melambangkan bahwa umat selalu dituntun oleh Hukum Tuhan.  Pada hari raya ini kepada umat Yahudi Yesus menyingkapkan diri-Nya sebagai Anak Allah (Yoh. 10:22-39).

Sabda-Nya (Yoh. 10:38), “supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”, ut cognoscatis et sciatis quia in me est Pater, et ego in Patre.   

Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang

Yesus telah menetapkan tujuan kepergian, εξοδος, exodos, ke Yerusalem (Luk 9:30). Ia tidak pernah mundur sejengkal pun untuk melakanakan tugas perutusan dari Bapa. Maka, Ia tetap hadir di Bait Allah, berkarya, melayani Allah seperti dilukiskan Santo Lukas. 

Di tengah ancaman pembunuhan pada-Nya (Mrk. 3:6; Mat 12:14), Yesus dan para murid  memenuhi kewajiban sebagai laki-laki Yahudi berusia dewasa “menghadap ke hadirat Tuhan” di Bait Suci tiga kali dalam setahun (Kel. 23:17; 34:23-24; bdk. Luk. 19:37).

Sedangkan kaum perempuan tidak diwajibkan. Terdapat pula perkecualian pada beberapa pribadi, karena melaksanakan panggilan jiwa yang melampaui kewajiban. Pribadi unggul itu antara lain Hana, ibu Samuel (1Sam. 1:3-28; 2:19) dan Ibu Maria, Bunda Penebus (Luk. 2:41-52).

Kebiasaaan saleh untuk ziarah ke Bait Allah diinspirasi oleh perintah ini. Maka, ketika semakin banyak jumlah orang Yahudi yang tinggal di perantauan tidak bisa menghadap Allah di Bait Allah, dimulailah penerapan pajak sebagai ganti kehadiran (bdk. Kel. 30:11-16).

Mata uang asing harus ditukar dengan mata uang khusus Bait Allah. Dan sama seperti di kuil-kuil Yunani-Romawi, Bait Allah beralih menjadi pusat keuangan, termasuk praktik perbankan, dalam dunia modern.

Persiapan kunjungan (Luk. 19:28-36) dan pelaksanaan kunjungan dilakukan dengan baik dan teliti (Luk. 37-40). Setelah memasuki Bait Allah dari Pintu Timur, karya pelayanan Yesus di Bait Allah dimulai.

Tetapi, saat Yesus memasuki Bait Allah untuk mengajar, hati Yesus makin makin teriris-iris. Hati-Nya luka. Rumah Bapa-Nya telah disalah gunakan.

Mengutip nubuat Nabi Yesaya dan Yeremia, demikian sabda-Nya (Luk. 19: 46; bdk. Yes. 56:7 dan  Yer. 7:11), “Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”, Et erit domus mea domus orationis. Vos autem fecistis illam speluncam latronum.

Maka, Ia mengusir para semua pedagang di situ. Santo Lukas menggunakan kata, εκβαλλειν, ekballein, dari kata dasar ekballo: memaksa pergi, mendorong keluar, mengusir. Kata yang sama juga digunakan ketika Yesus mengusir setan dari tubuh orang yang dirasukinya.

Perdagangan binatang korban dan perlengkapan persembahan lain di Bait Allah pasti direstui oleh keluarga imam agung dan kaum Saduki. Mereka tidak hanya terlibat dalam perdagangan dan pertukaran uang, tetapi juga mendapat komisi dari tiap transaksi dagang.

Peziarah yang datang selalu membawa mata uang Romawi sebagai alat pembayaran sah dalam setiap transaksi di wilayah jajahan kemaharajaan. Uang ini juga dipakai untuk membayar pajak Bait Allah. Tetapi tidak untuk persembahan.

Maka, karena di muka keping mata uang Romawi tertera gambar kaisar dan berlawanan dengan perintah kedua, uang romawi dianggap najis bila digunakan dalam persembahan. Untuk membuatnya halal, uang itu harus ditukarkan dengan uang Bait Allah yang tanpa gambar di tempat penukaran uang.

Hewan kurban pun harus dibeli dari pemasok yang sudah ditunjuk. Maka, setiap hewan kurban dan mata uang Yahudi dari tempat itu sudah pasti mendapatkan tanda ‘halal’ dari imam.

Praktik ini memang memudahkan bagi para peziarah yang datang dari seluruh penjuru kekaisaran Romawi. Tetapi, harga yang ditetapkan sudah melebihi kewajaran.

Perlawanan terhadap praktek busuk datang dari Rabbi Simeon, anak Gamaliel, guru Paulus, pada abad pertama. Ia menentang pemotongan harga sepasang merpati dari dua dinar emas menjadi satu dinar perak, hanya turun 1% saja.

Maka, tempat ini telah menjadi sarang penyamun, σπηλαιον, spelaion.

Tempat yang dijadikan pasar hewan korban dan penukaran uang adalah pelataran untuk bangsa kafir yang datang menyembah Allah. Seharusnya tempat ini menjadi “Rumah doa bagi segala bangsa” (Yes. 56:7).    

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah

Yesus telah mempersiapkan tugas pelayanan-Nya di Bait Allah. Ia mengajar tentang Kerajaan Allah. Ia juga menerangkan alasan mengapa Ia membersihkan dan menyucikan Bait Allah.

Tempat itu seharusnya menjadi tempat manusia merasakan kehadiran-Nya di tengah umat. Dan semua orang yang mendengarkan pengajaran-Nya terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia (Luk. 19: 48).

Tetapi, setelah  seluruh kedok dan kebusukan dibuka Yesus, para pemuka Bait Allah – imam, Kaum Lewi dan Ahli Taurat – merasa terluka, berusaha untuk membinasakan Dia (Luk. 19:47).

Mereka tidak haus dan rindu akan sabda Allah, yang menghidupkan. Mereka mengobarkan kebencian dan makin merapatkan barisan untuk melawan musuh bersama: Yesus. Sebaliknya, Yesus terus mengobarkan hati para murid-Nya untuk hidup kudus dengan mengikuti jalan kebenaran dan keadilan.

Penulis Surat kepada jemaat Ibrani menulis (Ibr. 12:10), “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya”, erudiebant nos hic autem ad id quod utile est in recipiendo sanctificationem eius

Katekese

Rumah yang kudus. Santo Agustinus dari Hippo, 354-430 :

“Allah tidak menghedaki Bait-Nya menjadi tempat untuk berdagang, tetapi tempat untuk menuju kesucian. Ia tidak mempertahankan praktik pelayanan imamat karena kewajiban agama yang tidak jujur tetapi ketaatan dari hati yang rela. Renungkan seluruh tindakan yang dilakukan Tuhan pada-Mu sebagai teladan hidup …

Secara umum Ia mengajarkan bahwa segala perkara duniawi harus dijauhkan dari Bait Suci, terutama penukaran uang yang dijungkir-balikkan-Nya. Jika tidak, dapatkah mereka yang mencari keuntungan dari uang persembahan untuk Tuhan membedakan antara yang baik dan yang jahat? Kitab Suci adalah uang Tuhan.” (Exposition Of The Gospel Of Luke 9.17–18)

Oratio-Missio

Tuhan, bukalah pintu rumah-Mu dan izinkanlah aku memasukinya untuk menyembah-Mu dalam roh dan kebenaran. Bantulah aku untuk mendekat pada-Mu dengan rasa syukur dan suka cita karena kerahiman dan belas kasih-Mu. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan supaya layak berjumpa dengan Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya?  

Domus mea domus orationis est – Lucam 19:46

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here