Home BERITA Lectio Divina 6.7.2026 – Ia Menyalakan Iman dan Harapan yang Hampir Padam

Lectio Divina 6.7.2026 – Ia Menyalakan Iman dan Harapan yang Hampir Padam

0
69 views
Menyembuhkan perempuan yang pendarahan, by Paolo Veronese

Senin. Minggu Biasa XIV, Hari Biasa (H)

  • Hos. 2:13.14b-15.18-19
  • Mzm.  145:2-3.4-5.6-7.8-9
  • Mat. 9:18-26

Lectio

18 Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.”

19 Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. 20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.

21 Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” 22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

23 Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, 24 berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia.

25 Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. 26 Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Meditatio-Exegese

Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang

Nabi Hosea, yang berkarya di Kerajaan Utara pada masa akhir pemerintahan Yerobeam II, 786-746 Sebelum Masehi, dikenal sebagai imam yang sangat sensitif. Perasaan hatinya mudah berubah dari kemarahan yang meluap-luap, ketika, berubah menjadi halus dan lembut.

Nubuat-nubuatnya digemakan dalam hidup perkawinan yang sangat sulit dengan Gomer. Relasinya dengan sang isteri amat mewarnai dan memperdalam pengajarannya.

Gomer hidup dalam cara yang sangat mempermalukan sang nabi dan suami. Sebagai pelacur ia menjadi lambang umat Israel yang tidak setia pada Allah.

Nabi tidak dapat berpisah atau bercerai dari isteri yang tidak setia padanya. Demikian juga Allah tidak dapat meninggalkan umat-Nya yang selalu mengingkari dan berdosa pada-Nya.

Ketidaksetiaan Israel pada Allah berdampak pada penghukuman. Tetapi penghukuman itu bertujuan untuk menyembuhkan dan memulihan cinta pertama Allah kepada umat-Nya.

Nabi Hosea memulai tradisi untuk melukiskan relasi antara Allah dan umat-Nya seperti sebuah perkawinan. Tradisi ini terus berkembang hingga Perjanjian Baru, sebagaimana dilukiskan oleh Santo Paulus dan Yohanes.

Sang nabi sepertinya meromantisasi pengalaman masa lalu saati ia ingin mengajak umat ke gurun. Ia mengenang masa setelah keluar dari Mesir, umat menjalin relasi yang sangat intim dengan Allah.

Israel dilukiskan seperti anak kecil yang tidak mengenal dewa-dewi asing dan setia kepada Allah yang hadir nyata dalam tiang api dan awan. Kepada mereka, Nabi Hosea berkata, “Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya. … Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir.” (Hos. 2:13-14).

Namun, seperti Gomer memperlakukan Hosea, suaminya, Israel berperilaku seperti isteri yang tidak setia. Mereka ingin berbalik kepada Allah, suaminya yang selalu setia padanya; tetapi mereka justru memberikan lebih banyak piala emas dan perak untuk dibuat menjadi patung Baal (Hos. 2:7).

Kata baal sepadan dengan makna tuan. Kata ini dapat merujuk pada dewa-dewi atau Allah; tetapi karena pengaruh budaya asing, seperti budaya Kanaan, kata ini tidak lagi merujuk pada Allah.

Maka, Baal kemudian diidentifikasi sebagai dewa-dewa Kanaan dan tidak lagi digunakan untuk menyapa Allah. Ketika Allah digantikan Baal, Ia bersabda melalui nabi-Nya, “Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku,” (Hos. 2:13).

Namun, Allah ternyata bersedia menerima kembali isteri-Nya, Israel, yang tidak setia, dengan kasih yang berkobar-kobar kobar seperti cinta pertama yang meluap-luap. Ia juga hendak menghujani kekasih-Nya dengan karunia rohani: kebenaran dan keadilan, belas kasih dan kasih setia.

Nabi menggunakan kata kebenaran dan keadilan untuk mengecam ketidak adilan dan korupsi dalam seluruh proses hukum dan seluruh aspek hidup umat. Dengan kembali menikahi kekasih-Nya, Allah berharap Israel berperilaku benar. 

Nabi juga menggunakan kata hesed, kasih setia dengan makna ikatan, atau kontrak. Bila kata itu digunakan dalam hubungan antar manusia, kata itu bermaka: persahabatan, persatuan, kesetiaan, terutama ketika ikatan itu berasal dari perjanjian atau kesepakatan resmi.

Bila digunakan untuk Allah, kata ini merujuk pada kesetiaan-Nya kepada perjanjian dan kemurahan hati-Nya yang ditunjukkan-Nya kepada umat pilihan-Nya (Kel. 34:6). Nabi Hosea menggunakan kata ini dengan makna kasih dalam perkawinan yang terungkap dalam kelembutan, kesetiaan, sayang.

Maka, karena umat-Nya diikat oleh Allah dalam ikatan perkawinan, umat membalas dengan peri hidup yang penuh dengan kesetiaan, kebenaran dan keadilan. 

Dengan cara itu, tiap pribadi menyambut sabda-Nya (Hos 2:19), “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.”, Et sponsabo te mihi in sempiternum; et sponsabo te mihi in iustitia et iudici et in misericordia et miserationibus.

Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau

Banyak orang berjuang tak kenal lelah dan putus asa untuk meminta pertolongan Yesus. Mereka tidak peduli akan kesulitan yang menghadang. Santo Matius mengisahkan perjuangan mereka. 

Mengalami sakit pendarahan dalam jangka waktu yang lama, 12 tahun, membuat seolah harapan untuk sembuh hilang. Selama kurun waktu itu, perempuan tua itu mengalami pengucilan, karena ia dinyatakan najis dan orang yang bersentuhan dengannya juga dinyatakan najis (bdk. Im. 15:19.25). 

Ketika melihat Yesus, iman dan harapannya menyala. “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Mengetahui iman, harapan dan kasih perempuan itu, Yesus menyalakan harapan, “Teguhkanlah hatimu.”

Ungkapan, “hai anak-Ku”, menyingkapkan Yesus  merengkuh mereka yang dianggap najis dan disingkirkan oleh komunitas. Ia mencari, menemukan dan membawa pulang ke kandang tiap domba yang hilang.

Terlebih, Yesus menyalakan dan memulihkan iman perempuan yang sakit itu. Padanya Ia menyingkapkan wajah Allah yang berbelas kasih, Misericordiae Vultus.

Ia bersabda (Mat. 9:22) , “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.”, Confide, filia; fides tua te salvam fecit.

Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur

Yesus mengabaikan keraguan dan tertawaan orang banyak. Mereka tertawa karena tahu bagaimana membedakan orang mati dan orang tidur.

Abraham dan Sara juga tertawa atas rencana Allah yang ditujukan padanya, karena Allah tak mungkin melakukan hal yang tak masuk akal (lih. Kej. 17:17; 18:12-14; Luk. 1:27).

Terlebih, kematian sering kali menghambat orang untuk melewati ambang batas keraguan dan tetap berpegang pada iman yang sejati dan menjadikan orang najis (Im. 21:11). Tetapi Ia bersabda, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.”, Recedite; non est enim mortua puella, sed dormit.

Melihat kepercayaan ayah gadis itu yang tidak mempedulikan pandangan orang tentang dirinya, Yesus masuk ke rumah pemimpin sinagoga Kapernaum. Memegang tangan anak itu. Dan bangkitlah anak itu.

Orang mengimani Yesus sebagai Tuhan atas kehidupan dan Ia mengatasi maut, kematian. Santo Markus menambahkan (Mrk. 5:41), “Talita kúm.”, “Hai anakKu, Aku berkata kepadamu, bangunlah.” 

Katekese

Anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Santo Yohanes Chrysostomus, 347-407:

“Maka, apa yang dilakukan Mesias? Ia tidak membiarkan perempuan itu pergi dengan tangan kosong dan membiarkan dia menjadi pusat perhatian orang banyak dan membuatnya kembali bergaul dengan orang banyak. Ia memiliki banyak alasan untuk melaksanakan karya ini.

Beberapa orang mengira ‘Ia melakukan hanya karena suka akan pujian – sebaliknya, mengapa ia tidak membiarkannya tetap tersembunyi?’ tetapi apapun yang mereka kemukakan siapa yang mengatakan ini?

Bahwa Ia harus membuatnya diam, bahwa Ia harus mengabaikan kebutuhannya, dan mengabaikan banyak mukjizat, semua karena Ia suka dengan pujian? Betapa sesat pikiran ini, karena diilhami oleh penyesat yang paling hina.

“Maka apa maksud-Nya menjumpai perempuan itu? Pertama, Yesus ingin mengakhiri ketakutannya. Ia tidak menghendaki ia terus terperangkap dalam ketakutan. Ia memberi kebebasan dalam lubuk hatinya agar tidak mengganggu, seolah-olah ia telah mencuri sekeping hadiah.

Kedua, Ia mengoreksi pandangannya bahwa ia tidak memiliki hak untuk tampil. Ketiga, Ia menjadikan iman yang dihayatinya disaksikan orang banyak.  Ia mendorong orang lain untuk meneladan kepercayaannya.

Keempat, kuasaNya menghentikan sumber pendarahan merupakan tanda lain akan kuasaNya atas seluruh ciptaan. Dan terakhir, apakah engkau ingat pemimpin sinagoga itu?

Ia sekarang menghadapi titik nadir keputus-asaan, bahkan hidupnya terancam hancur. Secara tidak langsung Yesus mengingatkannya akan apa yang Ia sabdakan pada perempuan itu.” (The Gospel Of Matthew, Homily 31.2)

Oratio-Missio

Tuhan, lindungilah aku dan teguhkan imanku pada-Mu, terutama di saat-saat sulit. Amin.

  • Apa yang perlu kulakukan untuk tidak meragukan Yesus?

Confide, filia; fides tua te salvam fecit – Matthaeum 9:22

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo