Lubang Masa Kecil yang Menganga

0
140 views
Ilustrasi: Seorang suster OSA di Ketapang tengah mengajar anak-anak PAUD. (Dok. OSA)

PENGALAMAN masa kecil selalu mengesan. Mengesan sukanya, lucunya, degilnya, ngeyelnya, sedihnya, bahkan kecewanya.

Masih ada sisa-sisa emosi yang tersimpan dan menimbulkan gelak tawa yang menggelikan. Rasa rindu untuk mengulang pun ada. Karena tidak mungkin juga dilakukan kembali di usia yang bertambah puluhan tahun. Karena sekarang, hanya mampu mengenang peristiwa itu.

Sebuah kisah 

Diondi (9) berkisah tentang rutinitasnya di rumah. Menyebutkan nama teman-teman bermain, jenis permainan yang mereka mainkan dan kesukaannya tentang hal-hal yang lucu. Aktivitas apa saja yang dia lakukan, bila tak bermain dengan teman-temannya.

Saat sendiri tanpa teman, dia bersama temannya yang “cacat”: HP. Cacat, karena benda mati ini tidak bisa bicara. Juga tidak bisa berlari dan bersepeda; tidak bisa berbagi cerita lucu hingga tertawa terpingkal-pingkal bersama.

Diondi tinggal bersama kedua orangtuanya. Berdomisili di sebuah daerah yang kini tengah berkembang ke tahapan baru menuju status kota.

Ragam profesi sudah ada di daerahnya. Perumahan-perumahan dari kelas sederhana dan menengah fasilitasnya sudah mulai bermunculan. Mobilitas perekonomian belum begitu tinggi seperti di beberapa daerah lainnya.

Orangtuanya pekerja keras. Selalu mencoba melihat peluang usaha. Orangtua yang tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anak menjadi satu keprihatinan tersendiri.

Diondi adalah anak yang sangat merindukan kehadiran ayah dan ibu. Sekadar hanya untuk menemaninya bermain, berbagi kisah, membaca buku dongeng bersama dan aktivitas yang lain.  

Ilustrasi: Seorang suster OSA menjadikan pelajaran itu menyenangkan. (Dok. OSA)

Kebutuhan

Memenuhi kebutuhan hidup memang utama. Berjuang setiap hari agar bisa makan dan bertahan hidup. Belum lagi kebutuhan hidup berkeluarga yang sangat kompleks. Mendadak harus dipenuhi dan ada yang masih bisa ditangguhkan.

Si kecil Deondi terbentuk dalam kesendirian. Terbentuk pula lubang-lubang kerinduan kasih sayang orangtua “menganga”. Tanpa terisi penuh dan tidak tertutup dengan cinta orangtua di masa kecil.

Lubang-lubang inilah yang akan dibawa hingga dewasa. Mencari-cari cinta untuk mengisinya. Mencari dalam pergaulan. Sampai menemukan sosok-sosok yang mirip sosok yang ia rindukan di masa kecil.

Pergeseran peran

Situasi yang terjadi pada Diondi menyebabkan pergeseran peran guru di sekolah. Bergeser melebar dari posisi tugas yang sebenarnya.

Guru dituntut untuk mendampingi dan membimbingnya layaknya orangtua. Nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan oleh orangtua di dalam keluarga sekarang ini harus dilakukan oleh guru.

Di luar kisah ini, masih ada “Diondi-diondi” yang lain. Mengalami kerinduan kasih sayang orangtua. Dan kadang atau bahkan tidak adanya penanaman nilai-nilai hidup dalam keluarga karena kesibukan orang tua.

Belum lagi, bila terjadi perceraian orangtuanya, Atau salah satu orangtuanya kemudian berubah statusnya menjadi seorang single parent.

Ilustrasi: Sr. Ludovika OSA mengajar anak-anak PAUD di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalbar. (Dok. Sr. Ludovika OSA)

Perubahan

Perubahan sosial dalam keluarga menjadi gangguan bagi perkembangan emosi, moral, dan sosial anak-anak.

Hal ini juga disinggung oleh Sr. Dr. M. Pauli FSGM dalam bukunya Human Capital Management (2021, hal. 55).

Perubahan sosial dalam keluarga juga menjadi salah satu tantangan dunia pendidikan dalam mempersiapkan hari depan anak-anak.

Guru dituntut untuk lebih jeli melihat situasi peserta didik, lebih peka, peduli, dan melakukan perubahan-perubahan dalam membimbing peserta didik. Bisa menjadi teman, sahabat, dan orangtua di sekolah tanpa menghakimi peserta didik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here