Mabuk atau Berdoa?

0
1,203 views
Berdoa

“Oleh karena Hana berdoa dalam hati dan hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak, sedangkan suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka Hana itu mabuk.” (1Sam 1,13)

BEBERAPA waktu yang lalu, sebuah mobil ambulans mengalami kecelakaan dan terguling di Semarang. Ambulans tersebut membawa seorang bayi yang sakit beserta dengan ibunya. Bayi yang sakit tersebut baru berusia dua bulan dan dirujuk ke RS Kariadi. Mobil ambulans tersebut tertabrak sebuah mobil Jazz, yang dikemudikan seorang perempuan, yang diduga mabuk, karena ditemukan sisa minuman keras di dalam mobil.

Pengemudi Jazz tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak pengemudi yang pernah diduga mabuk. Beberapa sopir lain juga pernah mabuk, sehingga menyebabkan kecelakaan yang menimbulkan banyak kurban. Bahkan pernah terjadi bahwa seorang pilot juga diduga mabuk, sehingga sebuah pesawat harus mengalami keterlambatan penerbangan lebih dari satu jam.

Pengalaman mabuk tentu tidak hanya terbatas di dalam diri beberapa sopir kendaraan. Mabuk pernah dialami banyak orang, baik kaum muda maupun dewasa; baik laki-laki maupun perempuan. Mereka mabuk karena tidak mampu mengendalikan diri dalam hal minum minuman keras. Pengalaman banyak orang berbeda-beda: ada yang pernah mengalami mabuk satu kali; ada yang beberapa kali dan dalam beberapa kesempatan pesta atau perayaan; ada pula yang terbiasa mabuk hampir setiap hari. Sekalipun berbeda-beda pengalamannya, orang mabuk mengalami kondisi yang hampir sama, seperti merasa ngantuk berat, kehilangan kesadaran dan tidak bisa mengendalikan diri sendiri.

Hana disangka mabuk, padahal dia tidak minum minuman keras atau minuman lain yang memabukkan. Hana berdoa dalam waktu yang lama. Sekalipun bibirnya bergerak-gerak, tidak ada kata-kata yang terdengar keluar dari mulutnya. Hana hanya bisa berdoa di dalam hati; bahkan dia berdoa dengan rasa sedih sambil menangis tersedu-sedu. Hana berdoa dalam kondisi hati yang susah; dan dalam doanya, Hana mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan; Hana mengungkapkan rasa cemas dan sakit hatinya. Beban hidup yang berat bukan menjadi halangan bagi Hana untuk tetap berdoa kepada Tuhan.

Sejauh mana pengalamanku dalam hal berdoa: cara doa macam apa yang cocok dengan pengalaman, perasaan dan suasana hatiku? Apakah kesulitan dan beban hidupku menjadi halangan untuk setia dalam berdoa? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here