NAMANYA Mark Kim.
Dia mendampingi kami berlimabelas, selama kunjungan ke Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu.
Wajahnya khas Korea, namun fasih berbahasa Indonesia. Maklum, dia sempat kuliah di UI selama satu setengah tahun untuk belajar Bahasa Indonesia. Meski lulus sarjana Ilmu Komputer, jiwanya lebih terpanggil untuk berkecimpung di dunia pariwisata.
Kami menikmati relasi singkat itu.
Yang istimewa, Mark sangat Korea. Apa pun harus Korea. Ketika menyapa kami setiap pagi, siang atau malam, Mark mengucapkan “Annyeonghaseyo”.
Hampir tak pernah bilang “Terimakasih” atau “Thank You”, melainkan “Gamsahamnida”. “Oke, ya, atau baik”, digantinya “Ne”. Dan kami harus menjawab dengan ucapan yang sama.
Yang membuat saya terhenyak adalah ketika Mark hanya mau membantu memotret kami dengan ponsel “Samsung” (baca: Samsong). Dia tak mau memakai ponsel buatan negara-negara lain. “Reklame” Mark untuk barang-barang Korea, seperti Ginseng dan Pinus Merah, begitu orisinil dan mak-jleb.
Masih banyak perilaku Mark yang menomor-satukan Korea dengan ucapan dan sikapnya.
Kemudian saya berpikir bahwa sikap Mark itu sangat pas. Itu yang benar.
Mark tidak hanya bertindak sebagai “pemimpin rombongan”, tapi juga representatif dan “agen” dari negaranya. Dia bertindak sebagai “Manager Promosi” dan keluar begitu saja tanpa disuruh dan diminta.
Itu yang kurang terlihat dalam diri orang Indonesia. Mark bangga dengan Korea, sementara kita sering justru “malu-malu kucing”.
“Promosi” tentang apa pun yang berkenaan dengan Indonesia, kalau pun ada, cenderung “sembunyi-sembunyi”. Inferior lebih mendominasi daripada besar hati.
Mungkin salah satu sebabnya karena infrastruktur dan sistem di Korea jauh lebih tertata rapi. Tidak hanya infrastruktur fisik, tapi juga jalinan bisnis dan penjualan produk.
Ginseng dibuat seolah “lambang” negara dan dijajakan dengan sangat tertata apik. Bahkan makanan seperti “Kimchi”, yang di Indonesia mirip sayur-asin, di Korea dilambungkan seperti menyajikan masakan spiritual yang mengandung khasiat hebat.
Sejak dipimpin oleh Presiden Park Chung-hee sebagai presiden (menjabat 1963-1979), ekonomi dan industri Korea melambung pesat. Sebuah keajaiban fenomena yang sering disebut sebagai “keajaiban di Sungai Han”.
Meski dikenal sebagai pemimpin yang otoriter, Park dianggap salah satu pemimpin Korea yang sukses. Pada masanya terbentuk “Chaebol”, perusahaan keluarga yang didukung oleh negara. Contoh nyata adalah Hyundai, LG dan Samsung. Kita bisa saksikan bagaimana ketiga merek itu saat ini berkiprah di tingkat dunia.
Ada anomali di Korea. Suhu udara, kala itu, membuat kami menggigil. Herannya, lokasi dengan suhu yang bisa membuat tangan-kaki terasa kesemutan, dikelola dengan elok hingga malah mendatangkan begitu banyak turis dari manca negara.
Nami Island, Mount Seorak dan Seoul N Tower, tiga pusat wisata yang kami kunjungi, justru bertambah ramai saat senja tiba. Padahal saat-saat itulah angin menerpa menimbulkan rasa pedih di kulit. Sensasi kedinginan malah membuat wisatawan tertarik datang.
Menikmati kota Seoul mirip menyaksikan kota-kota di Jepang. Bersih, meski tak terlihat kotak-sampah di tempat-tempat umum. Sampah yang diproduksi, harus dikelola pembuatnya sampai titik akhir pembuangan.
Itulah budaya Korea.
Korea memang beda. Korea adalah Korea. Bukan berarti kita harus menjiplak plek-ketiplek mereka, tapi internalisasi budaya yang konsisten dan konsekuen pantas ditiru.
Budaya Korea adalah persaudaraan dan persahabatan. “Unggah-ungguh” (sopan-santun) menjadi pegangan utama, kesetiaan menjadi janji yang tak diingkari dan penghormatan terhadap sesama menjadi pegangan bersama.
“Jinjeonghan chinguneun sesang moduga nareul tteonal ttae naegero oneun saramida” (Pepatah Korea) – “Sahabat sejati adalah dia yang datang, ketika seluruh dunia pergi”.
@pmsusbandono
1 Desember 2025












































