Membedah “Jeroan” Generasi Millenial: Mengemas Pesan lewat Meme dan Filosofinya (4)

0
1,471 views
Ilustrasi (Ist)

MEME di Indonesia merupakan media dan cara berkomunikasi yang benar-benar baru. Meme tiba-tiba njedhul (muncul) dan kemudian mengisi laman-laman virtual aneka platform medsos sejak awal  2017.

Meme mulai booming sebagai media pengemas pesan dan opini sejak terjadi hingar-bingar Pilkada DKI Jakarta. Sebuah kurun waktu dimana secara historis bisa dikatakan sebagai peristiwa demokrasi terburuk Indonesia.

Itulah pesta demokrasi yang ‘kebablasan’, ketika politik identitas berdasarkan agama dengan sangat gamblang dan terang-terangan dipakai sebagai cara berpolitik yang kotor untuk merebut kekuasaan.

Pada kurun masa  itu banyak terjadi kehebohan politik, baik sebelum dan sesudah Pilkada DKI yang berlangsung di bulan April 2017. Bulan-bulan hingar-bingar politik itulah yang akhirnya menjadikan meme mendadak naik daun.

Meme menjadi media komunikasi yang efektif dan menghibur untuk menyampaikan sebuah pesan atau opini kepada publik.

Baca juga:

Membedah “Jeroan” Generasi Millenial: Kemalasan, Imbas Gelombang Disruptif (3)

Meme biasanya dicirikan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  • Menggunakan media visual berupa gambar grafis, foto, video atau karikatur sebagai platform untuk mengkomunikasikan pesan dan opini. Media di sini berarti bungkus kemasan.
  • Memanfaatkan teks berupa kalimat-kalimat pendek yang bersifat mentes (bernas), pas, dan kadang malah nylekit guna menyindir situasi yang dikritisi sebagai hal yang semestinya tidak demikian. Teks-teks pendek ini ditulis dengan maksud: langsung tembak dan kena sasaran.
  • Bersifat menghibur dengan cara sengaja mengolok-olok situasi.
  • Menjadi sesuatu sebagai lucu-lucuan, walau kadang banyolan ini sering ‘tidak pada tempatnya’.

Ringkasnya, meme adalah bentuk atau cara mengungkapkan dan mengkomunikasikan sebuah gagasan, perilaku yang tengah jadi sorotan dan itu menjadi keprihatinan atau sengaja dijadikan bahan olokan oleh sang pencipta meme. Kadang, meme juga bisa diartikan sebagai model atau cara orang berkomunikasi dengan memperbicangkan secara karikatural hal-hal yang baru menjadi  objek omongan (trendsetter) di masyarakat.

Generasi Millenial menyukai meme

Meme disukai banyak orang, terutama oleh Generasi Millenial, karena alasan-alasan berikut ini:

  • Justru karena melalui media audio-visual itu, orang bisa dengan gampang menyampaikan pesan atau opininya kepada publik.
  • Orang melakukannya kadang dengan sikap iseng, menggarapnya dengan nada membanyol, atau malah menjadikan current issues yang lagi heboh di masyarakat sebagai objek olok-olok yang menghibur.
  • Mem-bully orang lain atau issue yang tengah jadi sorotan publik dengan cara yang sarkastis, cenderung sinis, nylekit, namun juga bisa dikategorikan menghibur bagi pihak-pihak yang tidak menjadi ‘target’ sasaran bullying.
Ilustrasi (Ist)

Menariknya, meme sebagai media yang mengemas informasi berupa pesan dan opini kepada publik ini hari demi hari semakin ngetren di kalangan Generasi Millenial di Indonesia. Kalau tidak terjadi hal yang seperti ini, mana mungkin Andre Prodjo bisa menjadi CEO Meme Comic Indonesia.

Begitu kira-kira kesimpulan penulis,  setelah menyimak paparan Andre dalam sebuah kegiatan diskusi terbatas tentang “Komunikasi Generasi Millenial” yang digagas oleh Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) KAJ di Jakarta, Minggu siang (17/12/17) lalu.

Meniru-niru

Sekedar catatan tambahan singkat: kata Bahasa Indonesia ‘meme’ itu mengadopsi kata Bahasa Yunani yakni ‘mimeme’. Dari kata Yunani inilah muncul istilah ‘mimesis’ yang artinya tindakan meniru-niru.

Terminologi ‘meme’ ini diintrodusir oleh Richard Dawkins lewat bukunya The Selfish Gene (1976) yang kemudian disempurnakan pengertiannya oleh NK Humphrey dengan makna lebih tegas lagi.

Dalam konteks budaya urban yang ngepop di masa kini, meme tak lain adalah bentuk parodi plesetan. Meme sengaja memanfaatkan efek pengaruh yang besar pada gambar, foto atau  video dengan maksud ingin menjadikan sesuatu sebagai bahan olok-olok, menyindir, mengritik, mengecam situasi sosial yang –menurut kreator meme—semestinya tidak seperti itu.

Ingat bahwa gambar itu sering kali malah lebih bisa ‘banyak bicara’ daripada rentetan kata-kata.

Mengejek dengan nada guyon. (Ist)

Langsung tepat sasaran

Persis pada titik singgung inilah, meme menjadi sangat populer di kalangan Generasi Millenial.

Inilah kelompok muda “Zaman Now” yang pada umumnya bercirikan semangat serba menggebu-gebu, maunya cepat rampung dan sempurna, serba ringkas kalau omong, berbahasa simpel dan yang penting pesannya sampai ke target audiens.

“Generasi Millenial paling tak betah mendengarkan paparan panjang atau presentasi dengan ragam bahasa yang njlimet dan panjang,” ungkap Andre Prodjo dalam diskusi terbatas besutan FMKI KAJ di Jakarta, Minggu siang lalu.

“Bagi mereka itu,” demikian resume pengalaman Andre sebagai praktisi, “format kemasan untuk penyampaian pesan dan opini itu maksimal tidak lebih dari 2-3 kalimat. Karena itu, bahasa audio visual melalui gambar, video, atau grafis lebih mereka akrabi dibanding lainnya. Meme menjadi mainan mereka untuk mengemas pesan dan opini kepada publik secara karikatural, namun kadang juga nylekit,” paparnya.

Ini sekedar contoh. Marilah kita ingat sebuah meme di sebuah platform medsos beberapa waktu lalu.

Meme ini njedhul, tak lama setelah Presiden Joko Widodo ‘sidak’ mengunjungi bangunan skala besar bernilai trilyunan rupiah yang kini telah teronggok dan tak terurus di Hambalang, Bogor.

Ilustrasi (www.memecomic.id)

Tiba-tiba saja, meme sindiran itu muncul dengan kalimat yang menghentak nyodhok  nohok, dan nylekit, namun sekaligus menghibur.

Meme jadi favorit

Meme sebagai model berkomunikasi menyampaikan pesan yang menjadi perhatian dan keprihatinannya ke publik ini sangat sesuai dengan karakter millenial. Menurut  Andre Prodjo, Generasi Millenial tidak suka bertele-tele dalam berbahasa.

Ucapan ngalor-ngidul layaknya homili pastor yang tidak fokus dan malah melebar kemana-mana sangat tidak mereka sukai.

Mereka emoh dengan ragam berkomunikasi model beating around the bush. Mereka beranggapan, hal semacam itu hanya membuang-buang waktu saja, sementara esensi pesan malah baru muncul di ‘akhir cerita’.

Ilustrasi (Ist)

Opsi alternatif dalam berkomunikasi

Mudah bosan adalah ‘gejolak hati’ Generasi Millenial. Mereka ingin bisa cepat menangkap esensi sebuah pesan. Karena itu, kata Andre, bahasa visual berupa gambar (foto, film) dan konten audio (musik, suara) kini lebih dinikmati. Itu karena gambar plus suara lebih bisa ‘mendarat’ enak di hati dibanding –misalnya- rumusan kalimat panjang.

Itulah sebabnya, meme kemudian muncul sebagai bahasa alternatif untuk menyampaikan pesan kepada publik. Ujung-ujungnya, kiblat dunia iklan pun juga ikut berubah.

Yang konvensional mulai ditinggalkan. Kini, banyak agensi periklanan mulai mengadopsi cara –cara “berbahasa baru” untuk mengkomunikasikan konten pemasaran produk barang dan jasa.

Media yang digunakan juga baru. Selain yang konvensional seperti media cetak (koran, majalah), media audio (radio), maka cara-cara baru ‘berkomunikasi’ dengan Generasi Millenial itu juga ditempuh melalui media sosial (medsos).

Ternyata, kata Andre Prodjo, meme pun sekarang bisa menjadi media iklan yang efektif penyampai pesan.  (Berlanjut)

PS: Salam hormat untuk Pak Jokowi dan Mbak Raissa karena visual memenya di atas itu sangat bagus dan menghibur.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here