Memenggal Perilaku yang Menyesatkan

0
18 views
Ilustrasi - Sikap empati kepada sesama. (Ist)

Kamis, 23 Mei 2024

Yak. 5:1-6;
Mzm. 49:14-15ab,15cd-16,17-18,19-20Mrk.9:41-50

SETIAP orang ingin perilakunya dinilai positif dan bahkan bisa dijadikan contoh oleh orang lain. Perilaku dan kehidupan yang baik menjadi teladan dalam hidup bersama tanpa harus banyak kata-kata yang kita lontarkan.

Pasalnya, ada pemimpin atau atasan, maupun orangtua yang hanya suka memerintah atau menyuruh tanpa memberikan contoh atau keteladanan. Bahkan cara hidup mereka menjadi batu sadungan orang lain khususnya generasi muda.

Efektivitas kesaksian hidup kita terungkap dalam perilaku yang baik dan benar. Kesaksian itu selalu sederhana, karena mengacu pada kesatuan antara kata dan perbuatan kita.

Semakin banyak gaya dan drama dalam kehidupan ini, semakin banyak orang mempertanyakan kesungguhan serta kebenaran hidup yang kita jalani. Alih-alih menginspirasi orang lain bahkan bisa-bisa justeru menjadi penghalang orang lain dalam menapaki kehidupan ini.

“Selalu ada drama setiap kali berhubungan dengan pemimpin kita,” kata seorang sahabat. “Padahal pemimpin yang baik yang beretika mestinya membicarakan segalanya dengan terbuka. Tidak perlu main drama.

Pemimpin beretika tidak berada di belakang, berbicara untuk memerintah pengikutnya. Mereka selalu di depan memberikan contoh perilaku yang etis dan berbasis nilai. Seorang pemimpin tak bisa berharap pengikutnya jujur jika tidak memulai sikap transparan pada dirinya,” paparnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.

Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan.”

Yesus memerintahkan kita untuk memenggal tangan atau kaki dan mencungkil mata kita apabila menyesatkan kita, Ia berargumen bahwa lebih baik masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau kaki timpang atau mata sebelah daripada dengan badan utuh, tetapi masuk neraka.

Memenggal perbuatan, perasaan, dan pikiran yang buruk sangatlah mudah jika hal-hal itu tidak menguntungkan diri kita. Namun demikian, memenggal perbuatan, perasaan, dan pikiran yang membuat kita nyaman padahal itu merupakan sebuah tindakan buruk menjadi tidak mudah.

Perlu sebuah pengurbanan dan niat yang kuat di dalam hati dan pikiran kita untuk dapat memenggal perbuatan buruk dan menyesatkan yang mungkin membuat kita nyaman. Satu hal lagi yang paling penting, yaitu jangan pernah melupakan Allah yang pasti membantu kita setiap hari.

Marilah kita bersama-sama berusaha menjadikan diri tidak nyaman tinggal berlama-lama dalam perbuatan buruk, agar kita mudah untuk memenggalnya.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku berani memenggal perbuatan hidupku yang menjadi batu sandungan bagi sesama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here