Home BERITA Menakar Pengaruh Kelompok SSPX

Menakar Pengaruh Kelompok SSPX

0
82 views
Pendiri SSPX: Mgr. Marcel Lefebvre. (Wiki)

PERISTIWA penahbisan empat uskup baru oleh Persaudaraan Imam Santo Pius X (FSSPX) kembali menghidupkan perdebatan lama di kalangan umat Katolik.

Sebagian melihatnya sebagai bukti bahwa kelompok ini tetap teguh mempertahankan tradisi Gereja. Sebagian lain memandangnya sebagai langkah yang semakin menjauh dari persekutuan dengan Takhta Suci.

Terlepas dari perbedaan penilaian itu, pertanyaan yang lebih penting adalah: Seberapa besar sebenarnya pengaruh SSPX terhadap Gereja Katolik?

Penahbisan empat uskup baru dalam Kelompok Imam Persaudaraan Santo Pius X (SSPX)

Uskup Mgr. Marcel Lefebvre

SSPX didirikan pada tahun 1970 oleh Uskup Agung Marcel Lefebvre. Ia prihatin terhadap berbagai perubahan yang terjadi setelah Konsili Vatikan II.

Menurutnya, pembaruan liturgi dan perkembangan teologi di sejumlah tempat telah melampaui semangat konsili dan mengaburkan identitas Katolik. Karena itu, ia berupaya mempertahankan liturgi Latin tradisional, pembinaan imam yang ketat, dan ajaran Gereja sebagaimana diwariskan selama berabad-abad.

Namun titik balik terjadi pada tahun 1988 ketika Mgr. Lefebvre menahbiskan empat uskup tanpa mandat Paus. Tindakan itu dipandang Takhta Suci sebagai pelanggaran serius terhadap kesatuan Gereja sehingga para uskup yang terlibat dikenai ekskomunikasi.

Meskipun ekskomunikasi itu telah dicabut oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2009 sebagai langkah rekonsiliasi, hingga kini SSPX masih belum memiliki status kanonik yang normal dalam Gereja Katolik.

Di sinilah muncul sebuah paradoks.

SSPX ingin mempertahankan Tradisi Gereja, tetapi justru mengambil langkah yang oleh Gereja dipandang bertentangan dengan salah satu unsur penting dari Tradisi itu sendiri, yakni penahbisan uskup dalam persekutuan dengan penerus Santo Petrus.

Dalam iman Katolik, Tradisi bukan hanya menyangkut liturgi Latin, musik Gregorian, atau bentuk-bentuk ibadat kuno.

Tradisi juga mencakup suksesi apostolik, kesatuan dengan Paus, dan kehidupan Gereja yang diwariskan secara utuh sejak zaman para rasul. Karena itu, menjaga Tradisi tidak dapat dipisahkan dari menjaga persekutuan Gereja.

Pendiri SSPX: Mgr. Marcel Lefebvre. (Wiki)

Lalu, sejauh mana pengaruh SSPX?

Dilihat dari jumlah anggotanya, SSPX sebenarnya sangat kecil dibandingkan lebih dari 1,4 miliar umat Katolik di dunia. Namun pengaruh suatu gerakan tidak selalu ditentukan oleh jumlah anggotanya.

Pengaruh pertama ialah bangkitnya kembali kerinduan akan liturgi yang lebih khidmat. Tidak sedikit umat, terutama kaum muda, mulai mencari suasana ibadat yang lebih hening, sakral, dan penuh rasa hormat kepada misteri Allah. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pembaruan liturgi tidak boleh kehilangan dimensi kekudusan yang menjadi jiwa Perayaan Ekaristi.

Pengaruh kedua ialah tumbuhnya kembali minat terhadap pendalaman ajaran iman. Banyak umat menghendaki katekese yang lebih sistematis, lebih mendalam, dan lebih berakar pada Tradisi Gereja. Kerinduan ini menjadi tantangan bagi seluruh Gereja untuk semakin meningkatkan mutu pembinaan iman, sehingga umat tidak perlu mencarinya di luar kehidupan paroki dan keuskupan.

Namun pengaruh ketiga justru menjadi tantangan yang paling serius, yaitu meningkatnya polarisasi di dalam Gereja. Di satu pihak ada kelompok yang menolak hampir semua pembaruan pasca konsili, sementara di pihak lain ada yang memandang Tradisi sebagai sesuatu yang sudah usang.

Media sosial sering kali memperlebar jurang tersebut dengan menyajikan pandangan-pandangan yang semakin ekstrem. Akibatnya, sebagian umat lebih mudah mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu daripada dengan Gereja Katolik sebagai satu persekutuan.

Apakah situasi ini akan melahirkan Paus tandingan? Kemungkinannya sangat kecil. SSPX tetap mengakui Paus sebagai penerus Santo Petrus dan mendoakan beliau dalam liturginya.

Bahaya yang lebih nyata justru tumbuhnya sikap yang menempatkan penilaian pribadi atau kelompok di atas persekutuan Gereja. Jika setiap kelompok merasa dirinya paling setia kepada Tradisi, sementara otoritas Gereja dipandang hanya berlaku sejauh sesuai dengan pendapatnya, maka benih-benih perpecahan akan semakin mudah berkembang.

Barangkali di sinilah letak pengaruh terbesar SSPX. Kehadiran mereka memaksa Gereja kembali menaruh perhatian pada hal-hal yang kadang mulai diabaikan: liturgi yang khidmat, katekese yang mendalam, dan identitas Katolik yang kokoh.

Namun pada saat yang sama, pengalaman SSPX juga mengingatkan bahwa Tradisi tidak pernah dapat dipisahkan dari persekutuan dengan Gereja yang mewariskannya.

Sejarah Gereja memperlihatkan bahwa pembaruan sejati selalu lahir dari dalam, bukan dari luar. Santo Fransiskus dari Assisi, Santo Dominikus, dan Santo Ignatius Loyola sama-sama melihat berbagai kelemahan Gereja pada zamannya.

Namun mereka memilih memperbarui Gereja melalui kekudusan hidup, pewartaan, dan kesetiaan kepada Paus, bukan dengan membangun jalan yang berjalan sejajar dengan Gereja.

Tradisi bukanlah sekadar menjaga apa yang diwariskan dari masa lalu, melainkan meneruskan warisan itu dalam persekutuan yang sama dengan Gereja para rasul. Sebab Tradisi tidak hanya berbicara tentang apa yang diwariskan, tetapi juga tentang dari siapa dan melalui siapa warisan itu diterima.

Di situlah letak kekuatan Gereja selama dua ribu tahun, sekaligus harapan bagi masa depannya. (pdw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo