Mengakui di Dunia, Diakui di Surga

0
278 views
Ilustrasi: Seorang imam baru melewati sebuah jembatan sederhana di pedalaman Nanga Mahap, Sekadau, Kalbar. (Sr. Ludovika OSA)

Puncta 16.10.21
Sabtu Biasa XXVIII
Lukas 12: 8-12

HARI itu, saya tugas turne ke Stasi Sebuak. Saya langsung menuju ke rumah sekaligus warung milik Pak Agus, ketua umat.

Sebelum misa, sambil menunggu umat berkumpul, kami ngobrol dan ngopi di teras. Ibu Agus mulai menutup warungnya. Namun, beberapa orang datang ingin belanja.

Bu Agus memberitahu dengan sopan, “Mak-mak maaf ya warungnya tutup dulu, kami mau sembahyang di kapel. Pastor sudah datang.”

“Kenapa gak dilayani, kan masih ada waktu?” tanya saya.

“Biar pastor, biar mereka tahu kalau Hari Minggu kami ada sembahyang di kapel.”

“Apa tidak rugi, kan rezeki datang kalau ada pembeli?”

“Tuhan sudah ngatur rezeki kita pastor, kami tidak ngejar materi. Yang penting hidup cukup apa adanya.”

Keluarga ini tidak kaya, namun kesaksian imannya patut diacungi jempol.

Hari Minggu, mereka tidak buka warung, kendati ada banyak orang datang ingin belanja. Lama-lama mereka tahu dan tidak mengganggu waktunya berdoa.

Orang-orang malah respek dengan sikap keluarga ini.

Kadang ada yang sungkan menolak pembeli, takut pelanggan pergi. Bahkan ada yang mengorbankan misa demi mengejar rezeki. Tetap membuka toko sepanjang hari Minggu.

Mereka mengaku Katolik, tetapi tidak ke gereja, lebih berat jaga tokonya.

“Lha bagaimana kita nanti diakui di surga, kalau di dunia kita tidak pernah masuk ke rumah-Nya? Rejeki bisa dicari, asal kita mau kerja apa saja,” kata Bu Agus.

Yesus bersabda, “Barang siapa mengakui Aku di depan manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para malaikat Allah. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal pula di depan para malaikat Allah.”

Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mesti sampai pada tindakan nyata. Tidak cukup hanya di mulut saja.

Seperti Bu Agus tadi, ia berani mengorbankan rezekinya demi bisa berdoa ikut ekaristi di gereja.

Kita kadang terjerumus oleh pemikiran “minority complex”. Ketakutan menjadi minoritas.

Kalau kita teguh dan berani menunjukkan kualitas hidup, minority complex bisa diubah menjadi minority alternatif.

Seperti pengalaman Bu Agus tadi, kalau dengan teguh dan terbuka mengaku diri sebagai Katolik, masyarakat akhirnya mau memahami dan maklum.

Mereka tidak menyingkiri dan tetap belanja di warungnya.

Kalau kita tidak mau mengakui Yesus di dunia, bagaimana kita akan diakui oleh Yesus di surga?

Mungkin Yesus tidak mengenal kita, karena kita jarang nongol di rumah-Nya.

Ke Jimbung mau nonton bulus,
Ternyata bulusnya sedang puasa.
Jangan takut menjadi murid Yesus,
Tunjukkan kualitasmu pada sesama.

Cawas, saya murid Yesus….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here