Selalu Tersenyum

0
279 views
Ilustrasi - Selalu Tersenyum. (Ist)

Renungan Harian
Sabtu, 16 Oktober 2021
Bacaan I: Rom. 4: 13. 16-18
Injil: Luk. 12: 8-12
 
SAYA amat senang setiap kali mengunjungi ibu ini. Beliau selalu tersenyum dan selalu menampakkan wajah yang bahagia.

Senyum kebahagiaannya memberi kegembiraan bagi orang lain. Ternyata apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh banyak orang yang bertemu dengan ibu itu.
 
Saya kenal dengan ibu itu, saat saya diminta memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit pada beliau. Saat pertama kali bertemu, saya tidak menyangka bahwa ibu itu sedang sakit, kecuali bahwa beliau sedang berbaring di tempat tidur.

Beliau menyapa saya dengan ramah dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Beliau tahu persis tentang penyakit yang dideritanya, tetapi menampakkan seolah-olah bukan suatu beban bagi hidupnya.
 
Suami ibu itu menjelaskan bahwa ibu itu menderita kanker tulang dengan stadium lanjut.

Kanker itu bukan hanya menggerogoti raganya, tetapi juga memberikan rasa sakit yang luar biasa.

Dokter yang merawatnya tahu persis akan rasa sakit yang dirasakan oleh ibu itu; maka dokter memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit.

Namun ketika diberi penjelasan tentang obat itu, ibu itu menolak, beliau mau menanggungnya.

Ketika rasa sakit itu menyerang ibu itu hanya diam dan tangannya mengatup untuk menahan rasa sakit. Tetapi tidak ada satu kata keluhan yang keluar dari mulutnya. Bahkan bila bertemu dengan orang lain, beliau selalutersenyum meski saat itu sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa.
 
Banyak orang heran akan kekuatan dan ketabahan ibu itu. Suami dan anak-anaknya yang sedih, karena melihat isteri dan ibu mereka sedang sakit sering kali justru terhibur dan dikuatkan oleh sikap ibu itu.

Beberapa kali ibu itu justru menghibur dan menguatkan suami dan anak-anaknya.
 
Di saat terakhir hidupnya, ketika saya memberikan komuni kudus, ibu itu menyambut dengan tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sudah disembuhkan.

Beberapa jam setelah menyambut Tubuh Kristus, ibu itu menghadap Tuhan dengan tersenyum. Melihat jenazahnya seperti melihat seorang yang tidur nyenyak dan sedang bermimpi indah karena ada senyum menghiasi bibirnya.
 
Bagi saya, ibu itu dalam sakitnya justru memberi kesaksian luar biasa tentang imannya. Kekuatan ibu itu menanggung rasa sakit yang luar biasa dan kerelaannya menerima sakitnya menunjukkan kekuatan dan kedewasaan imannya.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas: “Barang siapa mengakui Aku di depan manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para malaikat Allah.”
 
Bagaimana dengan aku?

Dengan cara apa aku memberi kesaksian tentang imanku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here