Minggu Biasa 13; B; 1 Juli 2018, Beriman: Percaya, Berjuang dan Berharap

0
1,108 views
Ilustrasi.

Keb. 1:13-15.2:23-24; 2Kor. 8:7-9.13-15; Mrk. 5:21-43

PENGALAMAN akan kuasa penyembuhan Yesus oleh Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan itu adalah pengalaman iman: harapan dan percaya. Ibu yang kena haid tanpa henti, ia menjadi orang najis karena darah yang keluar itu. Artinya ia tidak dapat berdoa dan tidak boleh bersentuhan dengan orang lain.

Jadi ia sakit secara fisik, tapi juga terbuang secara sosial dan iman. Uang habis, hati menderita dan merasa putus asa. Bayangkan pergulatannya waktu memutuskan akan mencoba menemui Yesus. Ia sudah 12 tahun hidup tersingkir dari orang lain. Ia takut dan tidak biasa bicara dengan orang. Ia terikat oleh belenggu adat istiadat dan terkurung dalam penjara ketakutan.

Maka ia memutuskan untuk mematahkan belenggu dan keluar dari kurungan keputus asaannya dan ia hanya berani menyentuh ujung jubah Yesus, penuh harapan, karena ini satu-satunya kesempatannya. Dan ia sembuh. Mukjizad yang terjadi bukan hanya dia sembuh dari penyakitnya, tapi bahwa ia dibebaskan dari segala belenggu yang membatasi hidupnya. Kuasa Tuhan Yesus melampaui batasan adat, ketakutan dan keputusasaannya.

Yairus, kepala rumah ibadat adalah tokoh agama penting di Kaparnaum. Anaknya yang sakit, tentu sudah diusahakan pengobatan dengan berbagai cara. Tetapi keadaannya tambah kritis. Tanpa malu ia menemui Yesus dan bersujud menyembah-Nya. Tentu Yairus berharap agar Yesus segera pergi ke rumahnya untuk menyembuhkan anak perempuannya. Tetapi Yesus nampaknya tidak tergesa-gesa berangkat.

Ada banyak orang yang mengikuti Yesus. Dan sebagaimana biasa pada waktu itu, para rabbi, guru agama waktu itu, tidak mengajar di kelas, tetapi di tempat-tempat umum dan melayani orang-orang yang datang untuk minta nasihat atau punya pertanyaan. Jadi bisa diandaikan Yesus berjalan perlahan-lahan sambil bicara kepada orang-orang yang mengikuti Dia.

Ketegangan Yairus semakin bertambah waktu Yesus sibuk mencari siapa yang menyentuh Dia dan menjadi sembuh. Kecemasannya memuncak menjadi keputusasaan ketika orang datang dan memberi kabar anaknya sudah meninggal.

Yesus berkata: “Jangan takut, percaya saja.” Jika Yairus dikuasai oleh keputusasaannya, ia dapat menumpahkan semua kecemasan dan kekecewaannya bahwa Yesus tidak mau cepat-cepat ke rumahnya. Ia dapat lari pulang atau menyuruh Yesus pergi; tidak ada gunanya lagi. Tetapi Yairus mengatasi keputusasaannya dan terus berjalan bersama Yesus. Kemudian, Yesus menunjukkan kuasaNya, membangkitkan anak perempuan Yairus. Kuasa Tuhan Yesus melampaui kecemasan, keputus asaan dan kematian.

Kesimpulan umum, percaya saja kepada Yesus. Semua akan jadi beres. Dalam kenyataan hidup, sering kali peristiwanya tidak terjadi sesederhana ini. Seringkali beban hidup itu berkepanjangan, seakan tanpa akhir dan terkadang hasil akhirnya tidak seperti yang kita harapkan. Banyak kali yang paling sulit adalah tetap berusaha dan mencoba keluar dari batas-batas hambatan kita. Sering kita berkeras bahwa kesulitan kita harus selesai dengan cara dan bentuk begini/begitu.

Florence Chadwick adaalah perenang wanita yang berambisi untuk menyeberangi  Selat Catalina sejauh 26 mil. Hari itu, tampak hamparan es dan kabut yang begitu tebal ketika Florence memulai perjuangannya.

Setelah hampir 16 jam berjuang, Florence menatap ke depan namun dia hanya melihat kabut tebal. Dia tak dapat melihat daratan dan akhirnya memutuskan  menyerah. Florence tak mengira jika dibalik kabut itu, daratan yang menjadi tujuan akhirnya hanya tinggal setengah mil lagi. Dia begitu menyesal karena harus menyerah justru di saat dia hampir berhasil.
Florence menyerah bukan karena dinginnya air laut, bukan pula karena kelelahan namun karena dia merasa kehilangan tujuannya.

Melihat tujuan adalah hal penting bagi sebagian kita. Namun Tuhan melatih kita bukan hidup karena melihat,  tapi hidup karena percaya, sehingga saat kabut kehidupan membuat tujuan kita terlihat kabur dan samar tetaplah percaya dan terus melangkah.

Jika kita sudah begitu jauh melangkah, percayalah bahwa kemenangan sudah ada di depan mata. Jangan justru menyerah di saat terakhir.

Ingatlah seberapa keras kita telah berjuang. Tetaplah bersemangat dan yakin bahwa di suatu titik, di balik kabut itu ada kemenangan kita. (Ref: Kabut Tebal by Unknown).

Perempuan yang sakit leleh darah dan Yairus memberi kita teladan iman. Mereka berjuang keluar dari kungkungan keputus asaan dan belenggu adat. Mereka percaya kepada Tuhan dan terus berpegang pada harapan akan kuasa Allah.

Jika Tuhan menyelesaikan masalah kita, kita lebih percaya akan Kuasa-Nya. Tetapi jika Tuhan belum memecahkan masalah kita, Tuhan percaya akan kemampuan kita. Jika kita mendoakan orang lain, Tuhan mendengarkan dan memberkati orang itu. Jika kita merasa nyaman dan bahagia, ingat lah juga, ada orang lain yang mendoakan kita. Jadi, berharaplah terus pada mukjizad.

Jangan menyerah. Lakukan apa yang dapat kita lakukan, karena Tuhan juga percaya pada kemampuan kita. Biarkan Tuhan memberi kita surprise. Kita tidak sendirian. Ada banyak orang yang mendoakan kita juga. Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here