Minggu Biasa 8, A 26 Februari 2017: Mencari Surga vs. Kerja, Belajar dari D’Cost

0
908 views
Resto D'Cost (Ist)

Yes. 49:14-15; 1Kor. 4:1-5; Mat. 6:24-34

PERINTAH Yesus pada Injil hari ini sangat sering disalah artikan dan membuat kita menjadi tidak nyaman. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Salahkah kalau kita kerja keras, sehingga hanya dapat mengikuti kegiatan Gereja hanya secara minimal? Banyak orang bersaksi, karena saya berani mendahulukan Kerajaan Allah, kebutuhan saya dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Kalau saya mengikuti contoh itu, benarkah Tuhan akan menjamin kehidupan saya? Dan kalau saya tidak mengikutinya, apakah ini berarti saya kurang beriman?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengandaikan ada pertentangan antara bekerja mencari nafkah dengan perhatian atas perkara rohani. Seakan-akan orang harus memilih antara hidup dunia dan hidup surgawi. Apakah itu yang memang dimaksudkan Tuhan Yesus ketika Ia menyampaikan ajaranNya?

Yesus memang menegaskan kita tidak dapat mengabdi kepada mamon (uang) dan Allah sekaligus. Karena memang biasanya yang kalah dalam ‘perebutan’ perhatian itu Allah. Kehidupan ekonomi itu masalah nyata, konkrit. Sedang hidup rohani itu tidak mendesak, kapan-kapan saja dapat dilakukan.

Tetapi Yesus menunjukkan apa akibatnya jika kita mengabdi mamon: hidup kita penuh dengan kekhawatiran. Perbandingan praktis dari Yesus: Allah menyediakan makanan untuk burung; Allah mendandani bunga yang umurnya cuma sehari. Manusia lebih dari burung dan bunga. Allah pasti lebih mencintai kita, puncak ciptaanNya. Mengapa khawatir? Terhadap kekhawatiran, apa yang dapat kita lakukan? Kita khawatir atau tidak, banyak hal negatip yang tetap terjadi dalam hidup kita. Jadi bagaimana kita harus menjalani hidup ini?

Prinsip ‘berbagi’ ala D’Cost

Bapak David Marsudi, Presiden Direktur Jaringan Restoran D’Cost adalah pribadi yang nyentrik dan menarik. Semboyan restorannya ialah: Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima. Tagline D’Cost Academy bunyinya menggelitik, “Stupid Guys Keep Learning“; orang bodoh selalu belajar. Ia menyebut dirinya Pendekar Bodoh (nama perseroan D’Cost adalah PT. Pendekar Bodoh). Menurut dia, menjadi pengusaha itu harus terus-terusan merasa bodoh. “Karena merasa bodoh, maka kemudian kita harus terus belajar. Kalau kita sudah pintar, kita berhenti belajar,”

Prinsip bisnisnya: “Konsentrasi pada apa yang dapat Anda berikan, jangan kawatir atas apa yang akan Anda dapatkan“ Semakin banyak memberi, maka ujung-ujungya akan semakin banyak mendapatkan.

Pak David memberi perumpamaan pendulum: “Ketika dilempar, maka pada akhirnya pendulum pasti akan kembali.”

Saya dengan iseng menimpali, “Tapi masalahnya, kapan pendulum itu akan balik Pak?”

Dengan tangkas ia menjawab, “Mungkin saat itu juga, mungkin sebulan kemudian, mungkin setahun kemudian, bisa juga bertahun-tahun kemudian. Nggak masalah, itu semua Tuhan yang atur, kita manusia tak usah repot-repot mikirin.”

Kalau bisnis D’Cost sukses, maka makin banyak karyawan yang ditampung, semakin banyak berkah diberikan kepada karyawan. Karena itu Pak David punya spirit bahwa D’Cost harus menjadi “distributor rezeki” bagi bagi para karyawan dan siapa pun yang berbisnis dengan D’Cost. Berkah yang diberikan D’Cost, kata Pak David, tak hanya kepada karyawan dan mitra bisnis.

Yang terutama justru kepada konsumen yaitu menjadikan makanan-makanan yang dulunya nggak terjangkau oleh kantong rakyat kecil, kini menjadi terjangkau. Jadi prinsip giving di sini diterjemahkan sebagai memerdekakan rakyat kecil yang ingin merasakan dan menikmati masakan mahal, masakan hotel, atau masakan luar negeri, yang selama ini tak terjangkau oleh isi kocek mereka.

Pengusaha ‘bodoh’

Pak David memosisikan diri sebagai “pengusaha bodoh“.

Apa cirinya pengusaha bodoh? Yaitu ketika dia memberikan mutu setinggi mungkin, tapi memasang harga semurah mungkin. “Saya bisa pastikan, konsumen pintar lebih suka pada pengusaha bodoh dibanding pengusaha pintar. Itu sebabnya saya memilih menjadi pengusaha bodoh,” seloroh Pak David.

Secara logika model bisnis yang diambil Pak David selintas nggak masuk akal. Bagaimana bisa memberikan mutu tinggi, tapi harga murah? Tapi justru inilah indahnya prinsip bisnis Pak David. Intinya kalau niatnya ikhlas untuk memberikan yang terbaik untuk konsumen, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Pendulum yang dilempar pasti pada waktunya akan kembali. Inilah indahnya prinsip memberi.

Untuk memberikan gambaran bagaimana prinsip giving ini dijalankan Pak David, coba kita simak program-program promosi nyleneh dan melawan arus yang dijalankan D’Cost.

Program “Diskon Umur“ memberikan diskon ke konsumen sesuai umur yang tertera di KTP. Kalau umur Anda 30 tahun maka Anda dapat diskon 30%. Kalau umur Anda 80 tahun Anda dapat diskon 80%.

Lalu bagaimana kalau umur Anda 104 tahun? “Anda malah dapat cash back, habis makan malah dapat duit,” ujar pak David.

Contoh program nyleneh lain adalah program “Hamil Baru Bayar“.

Program ini memberi kesempatan para pasangan untuk merayakan pernikahan di D’Cost gratis untuk 300 kursi plus dekorasi pelaminan. Bayarnya kapan? Bayarnya setelah si istri hamil.

Begini bunyi iklannya: “Pesta Pernikahan Sekarang; Hamil Baru Bayar. (Tidak Hamil, Gratis)“.

Ada juga program “Uang dan Doa” dimana konsumen membayar makanan di D’Cost dengan “Separo Uang, Separo Doa“. Syaratnya, si konsumen wajib mendoakan orang lain dalam secarik kertas, doa inilah yang dipakai untuk membayar separo harga makanan yang dipesan.

Seperti halnya saya, Anda para pembaca pasti bertanya-tanya: “Konsumen usia 104 tahun makan di D’Cost nggak bayar malah dapat duit; “Pasangan menggelar resepsi gratis di D’Cost tapi setelah hamil menghilang nggak bayar; apa itu nggak bikin bangkrut?”

Inilah sekali lagi keindahan dari spirit of giving. Barangkali memang banyak pasangan yang tidak balik ke D’Cost saat istrinya hamil, tapi bagi Pak David itu tidak jadi masalah. “Dari program-progran yang unik itu kita mendapatkan simpati dari konsumen dan ini bisa memicu promosi dari mulut ke mulut yang nilai rupiahnya bisa miliaran,” ujar Pak David tangkas.

“Pokoknya nggak usah kawatir, itu semua Tuhan yang atur.”

Kini bahkan pak David sedang mempersiapkan gerai bakery-nya dengan merek D Stupid Baker. Yang menarik adalah tagline-nya yang berbunyi: “5 Star Quality, Stupid Price“. Yang lebih menarik adalah nama perusahaan yang menaungi D’Stupid Bakery, yaitu PT Bocuan Gapapa. Mau tahu apa maksudnya? Bocuan Gapapa maksudnya “nggak untung nggak papa” yang penting memberi.

Mengikuti pengalaman saya ngobrol dengan Pak David, mungkin Anda kini mulai terbuka lebar hatinya. Barangkali Anda mulai sepakat dengan saya bahwa, setelah membaca kolom ini kita harus menjadi orang bodoh. Orang bodoh yang berjiwa pendekar. Orang bodoh yang bersenjatakan spirit berbagi. Sekali lagi: It’s the power of giving.

Semangat kuasa berbagi

Saya tidak tahu, apakah Restoran D’Cost ini masih ada. Dan apakah usaha ini berkembang dengan Restoran Jepang dan Gerai Bakery-nya. Tetapi yang dapat kita pelajari, orang dapat membuka usaha dan sekaligus menghilangkan kecemasan dalam menjalani usahanya itu.

Semangat Kuasa Berbagi, adalah semangat Injil mendahulukan Kerajaan allah dalam hidup dan pekerjaan kita. Tuhan ada, hadir dan siap membantu kita, tetapi kita tidak memberi Tuhan kesempatan untuk masuk dalam hidup kita.

Apa itu Kerajaan Allah? Kerajaan Allah bukan suatu tempat, bukan pula situasi nanti di surga. Kerajaan Allah adalah situasi dimana Allah menjadi Raja; Allah yang menjadi pokok perhatian dan Allah diberi kesempatan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Yang diperlukan dari kita adalah membiarkan Allah masuk dan menguasai hidup kita. Membiarkan Allah melaksanakan rencana dan kehendakNya dalam hidup kita. Membiarkan Allah mengisi hidup kita dengan kasihNya. Allah pasti menginginkan yang baik bagi kita dan dalam hidup kita.

Jika anda mencintai pasangan atau keluarga anda, maka kesulitan tidak menghambat ungkapan kasih itu, malah membuat anda lebih sungguh-sungguh dan kreatip mewujudkan kasih itu. Jika anda menyukai dan mensyukuri pekerjaan anda, kesulitan tidak akan membuat anda patah semangat, tetapi menjadi lebih tekun berusaha dan mencari jalan keluar.

Karena kasih menjadi prioritas dan pokok perhatian anda. Jika anda mengalami kasih Allah dalam hidup anda dan mensyukurinya, maka tidak sulit bagi anda untuk mengungkapkan kasih Allah itu dalam hidup dan kegiatan anda. Tanda bahwa anda mengalami kasih Allah dalam hidup anda ialah: anda tidak lagi hanya sibuk dengan urusan dan kesulitan anda sendiri; tetapi anda juga punya perhatian, keperdulian pada orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar anda.

Jadi apakah anda harus lebih rajin berdoa di Gereja? Apakah anda harus ikut aktip hadir di kegiatan lingkungan/basis? Apakah anda harus lebih perhatian pada pasangan, anak-anak atau tetangga anda? Kalau anda ada dalam Kerajaan Allah, kalau anda ada dalam dekapan kasih Allah, apa yang anda lakukan, pasti akan membuat anda, sesama dan lingkungan anda menjadi lebih baik, lebih menyenangkan dan membuat anda dan sesama di sekitar anda hidup lebih bahagia. Jadi, kita perlu memperhatikan pesan Yesus: carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here