Padamkan Amarahmu

0
32 views
Ilustrasi - Menahan diri untuk tidak marah. (Ist)

Kamis, 13 Juni 2024

1Raj 18:41-46;
Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13.
Mat 5:20-26;

SETIAP orang pasti pernah merasakan emosi amarah dalam hidupnya. Kemarahan adalah emosi yang semua orang bisa rasakan, perbedaannya adalah bagaimana seseorang bereaksi terhadap perasaan itu.

Kemarahan yang tak terkendali dapat merugikan semua orang sehingga mengapa kita tidak mencoba belajar untuk mengendalikan amarah di mana pun kita berada.

Beberapa waktu yang lalu, kita dikagetkan bagaimana seorang ibu tega membakar suaminya. Sang isteri tidak bisa menahan lagi amarahnya, karena sang suami menghabiskan banyak uang dan waktu. Bahkan uang belanja harian pun dipakai untuk bermain judi online.

Tindakan suami itu sering kali memicu pertengkaran dalam hidup bersama keluarga ini, namun tidak kunjung membawa kesadaran dan perubahan sikap. Hingga pada hari itu, sang isteri tidak lagi mampu mengendalikan amarah. Ia kalap dan bertindak di luar kontrol dirinya. Suaminya dia siram dengan bensin dan kemudian dibakarnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Jika orang membunuh, ia akan dihukum. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, janganlah marah kepada saudaramu karena kamu akan dihukum. Dan jika kamu menghina orang lain, kamu akan dibawa ke pengadilan tinggi.”

Marah jika tidak dikelola tentu berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang sekitar. Itulah sebabnya Paulus menasihati jika jemaat sedang marah, jangan berbuat dosa dan segera padamkan kemarahan sebelum matahari terbenam.

Marah dapat membuka celah untuk iblis masuk dan menguasai hidup orang yang sebetulnya baik. Untuk itu, kita harus selalu hidup dalam kesadaran dan tidak memberi kesempatan pada iblis.

Selain itu, marah yang isinya menghujat orang lain dan berkata kotor, seharusnya tidak ada dalam mulut kita. Dengan memakai kita telah melukai hati dan merusak hati sesama.

Memang kita sadari bahwa setiap orang pasti pernah marah ketika mengalami banyak hal yang terlalu menyakitkan dalam hidup ini. Itu wajar, tetapi kemarahan itu sebaiknya dikelola dengan baik.

Mari belajar mencari solusi atas kemarahan yang sering kita rasakan secara kreatif sambil mulai mempraktikkan sikap baru yang penuh belas kasih dalam keseharian. perkataan membangun, penuh kasih mesra dan saling mengampuni.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku bisa menata dan mengelola situasi hati hingga tidak larut dalam amarah dan kebencian?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here