Sahabat pelita hati,
SALAM seroja, sehat rohani-jasmani. Berkah Dalem.
Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria Yang Berdukacita. Pelita sabda Tuhan berkisah tentang Yesus yang tergantung di kayu salib. Ia memandang bunda-Nya bersama sejumlah murid di bawah salib. Sebuah adegan yang sungguh menyayat hati. Ada kesedihan di dalam rasa duka dan sepi. Namun ada sebuah peristiwa indah yang pantas dicatat. Kepada bunda Maria, Yesus meminta agar menerima murid-murid-Nya. Sebaliknya, kepada para murid Yesus menita agar meneima bunda-Nya sebagai ibu mereka.
Sahabat terkasih,
Pesan keutamaan pelita sabda hari ini adalah Bunda Maria menyatakan kesungguhannya sebagai seorang ibu yang selalu ada di dekat anaknya. Terutama pada saat mengalami kesulitan dan menghadapi penderitaan. Kita menyaksikan ketabahan dan ketegaran seorang ibu yang tetap ingin meneguhkan dan menyertai puteranya.
Ketabahan Maria mencerminkan hatinya yang tak pernah mundur ketika mengalami aneka macam peristiwa bahkan yang membuatnya berduka. Ia memegang teguh kominten awal panggilannya dan kesanggupannya. Ecce Ancilla Domini, Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum, Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku seturut perkataan-Mu. Marilah dengan rendah hati kita meneladan Bunda Maria, yang tetap setia kepada Tuhan. Memegang teguh komitmen iman kepada-Nya, dalam kondisi dan situasi apa pun juga. Di sinilah kita menemukan alasan mengapa kita hari menghormati dan meneladani Maria. Tetap semangat dan berkah Dalem.
Antara surga dan neraka,
hanya Tuhan yang mengetahuinya.
Bunda Maria bunda Sapta duka,
tetap setia menjalani panggilan-Nya.
dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,
Berkah Dalem – St. Istata Raharjo,Pr
Kredit foto: Ilustrasi (Ist)
————————————————————————————
Bacaan:
Ibr. 5: 7-9;
Yohanes 19:25-27
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.














































