Pelita Nyala Kembali di Bandara Soekarno-Hatta

0
90 views
Ilustrasi - Orang pegang HP. (Ist)

KESEMPATAN emas. Jumpa teman-teman lama di akhir pekan. Sambil bercengkerama mengungkit nostalgia.  Mengobrol ke sana kemari tak tentu cerita, yang penting bersuara.

Tak terkecuali Sabtu kemarin, 2 Juli 2022.

Kami berempat makan siang di Rumah Makan Soto Ambengan Kelapa Gading, Bintaro. David, sang pemilik warung, juga di sana.

Kisah paling seru dari Bambang Hari, Direktur Perusahaan Services, yang membawa cerita dengan happy ending

Tiga hari lalu ia terbang ke Yogya dan kembali ke Jakarta di hari kedua, dengan kereta.

Saat di perut pesawat, baru tersadar ponselnya tertinggal di ruang tunggu. Tak mungkin menyetop pesawat yang siap lepas landas.

Hidup tanpa HP

Sepanjang terbang, Bambang Hari hanya berdoa dan berdoa. Entah berapa kali Rosario didaraskan, sampai mendarat di Yogya.

Keluar terminal, “si lebai malang” terduduk bingung di depan pos satpam. Tak jelas apa yang mau dikerjakan tanpa ponsel ditangannya. Rencana bertemu teman dan keluarga hancur berantakan. Sana menunggu telepon masuk, sini bingung menggapai ponsel.

Tiba-tiba terpikir naik taxi online. Untung, hotel telah dipesan sebelumnya.

Dewa penolong pertama mulai hadir. Ia adalah sopir taxi online. Ponselnya ikhlas dipinjam untuk mulai mencari ajimat hidup yang tanpa disangka menghilang entah di mana.

Beberapa kali dicoba mengontak. Panggilan masuk, tak diangkat. Malaikat Pelindung belum bekerja. Ia tak sadar kalau ”anak asuhnya” sedang bingung setengah mati. Usaha pertama gagal.

Kemrungsung bertambah kental. Nomer ponsel isteri dan anak-anaknya tak diingat.

Bahaya kedua mengancam. Tak ingat nomer isteri bisa meledakkan perang ala Rusia lawan Ukraina. Mending diam saja.

Dewa penolong

Percobaan kesekian, setelah beberapa jam, ponselnya merespon panggilan. Dewa penolong kedua hadir sudah.

Ini kunci semua carut-marut yang menggelisahkannya selama setengah hari pertama. Bambang Hari mulai bisa tersenyum.

Tangan berhasil dijabat, meski jarak jauh. Perjanjian singkat dirumuskan. Penemu ponsel yang baik hati adalah petugas airline yang ditungganginya.  Namanya Stephen Kolo. Siap bertemu nanti, saat Bambang Hari tiba di Jakarta.

Singkat cerita, dua hari di Yogya, Bambang Hari hidup tanpa ponsel. Hidup terasa hampa. Tanpa relasi, karena nomer tak terlacak. Tanpa doa, karena contekannya di simpan di sana. Nyawa manusia modern terletak di alat digital dan harus menempel di telinga. Tanpa itu, ia sia-sia.

Pagi-pagi, turun dari kereta di stasiun Gambir, Jakarta, Bambang Hari langsung ke bandara.  Tak mudah menghubungi sang dewa, yang sedang sibuk bekerja.  Tapi sekelompok dewa penolong lain hadir di sampingnya. Mereka adalah petugas satpam yang  mendampinginya saat mencari “sang arjuna”.

Pucuk di cinta, ulam tiba. Stephen Kolo tiba. Ponsel istimewa yang membuat hati gundah gulana selama di Yogya kembali dipegangnya.

Menjadi normal lagi dengan HP

Ponsel pindah tangan dan hati Bambang Hari kembali ceria. Kembali menjadi orang normal dan hidup leluasa.

Kisah Bambang Hari mengandung titik-titik yang membuat hati saya bangga dan gembira.

Indonesia terlanjur digambarkan sebagai bangsa yang jauh dari aman dan jujur. Jangankan tertinggal di ruang publik, ponsel di saku pun bisa tiba-tiba terbang entah ke mana.

Kejujuran penemu barang berharga begitu diragukan di negara kita tercinta. Tapi Stephen Kolo membuat cerita yang sangat berbeda.

Seolah ada api kecil yang menyala di ujung lorong gulita.  Meski kecil dan hanya satu, tapi ini bukan satu-satunya.  Masih (akan) banyak api kecil lain yang kemudian bersama-sama menerangi tanahair tercinta.

Kita harus menjaganya dan merambatkannya, agar api itu tetap menyala dan menyebar ke banyak tempat dan peristiwa.

Paradigma seperti ini sejalan dengan teori dari Profesor Martin E.P. Seligman, Psychology Positive Centre, University of Pennsylvania (1990-an).

Aliran keilmuan yang disebut sebagai Positive Psychology atau “Psikologi Positif”. Psikologi yang membantu orang sehat menjadi lebih bahagia dan berprestasi.

“Gerakan baru” yang menekankan pada eksplorasi potensi produktif di dalam diri manusia dan memusatkan pada kelebihan dan kekuatan seseorang.

Di antara masih banyak kekurangan pelayanan di bandara di Indonesia, perilaku seperti ini pantas diangkat dan diberitakan kepada masyarakat luas.

Pelayanan prima harus dicatat dalam bingkai emas.   Dengan cara seperti ini pelayanan publik di bidang-bidang lain, seperti kantor-kantor pemerintah, rumah sakit, pelayanan transportasi, diharapkan membaik pula.

Manusia selalu berproses, bukan titik. Manusia cenderung berbuat baik dan berprestasi. Saat pencapaian itu dihargai dia akan berbahagia dan mengulangi serta menambah kinerjanya.

“The good life is a process, not a state of being”. — Carl Rogers (1902 – 1987), psikolog terkenal yang melakukan pendekatan yang berpusat pada klien.

@pmsusbandono

3 Juli 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here