Pembasuhan Kaki, Para Rasul Harus Laki-laki

0
175 views
Ilustrasi: Pastor mencium kaki "Para Rasul" saat Kamis Putih di Sitiung, Jambi.

IMAN bukanlah sesuatu yang mengawang-awang. Iman adalah anugerah.

Kendati mengandung sisi “misteri”, iman dapat juga berarti sebuah komitmen yang lebih besar dan keterlibatan yang lebih mendalam agar iman dirayakan sepenuh hati.

Iman memberanikan kita untuk terbuka dan mengamini apa yang pernah kita alami; sekaligus meneguhkan dalam keyakinan apa yang kita inginkan.

Iman dapat menjadi kekuatan untuk “menciptakan” hal-hal yang membuat kita lebih bersyukur, bergembira sebagai umat kudus-Nya.

Anugerah dan misteri iman selalu mendorong kita untuk semakin menyadari dimensi ke-ilahi-an diri dalam kemanusiaan kita; juga bila keliru dalam keputusan dan hidup.

Bacaan bersumber pada Kis 7: 51-8: 1a; Yoh. 6: 30-35.

Hambatan mengekspresikan iman

Di tahun 1998, seorang pastor paroki dan beberapa umat menyadari liturgi dapat menjadi kekuatan perubahan.

Dalam rancangan pastoral, keluarga menjadi perhatian utama. Baik dari segi ikatan dan kehangatan dalam keluarga.

Iman dan pertumbuhan, relasi dengan masyarakat. Paroki memilih lagu You Raise Me Up sebagai lagu wajib.

Dalam pertemuan pastores paroki dibahas bagaimana saat “pencucian kaki di hari Kamis putih”, pasangan suami isteri yang dipilih. Syarat-syarat pun dipertimbangkan.

Saat rapat DPP Pleno, maka dipaparkan gagasan itu. Figur 12 Rasul adalah pasangan suami dan isteri.

Silakan dipilih. Dengan catatan, bukan aktivis atau Dewan Paroki pleno; tapi umat yang dikenal baik atau yang telah mengalami pertobatan dalam hidup keluarga.

Seorang awam pengajar tidak setuju. Ke-12 rasul itu laki-laki, yang benar aja. Itu menyalahi Kitab Suci.

Romo pemimpin rapat berkata, “Tema pastoral kita, keluarga. Mari kita angkat martabat keluhuran keluarga sebagai panggilan pengudusan. Saya akan minta izin ke Bapak Uskup.”

Terdengarlah brisak-brisik. Ya, tidak dengan cara itu. Ini liturgi Katolik.

Seorang Prodiakon senior berkata, “Tidak mungkin Romo. Kita Katolik dan tradisi sudah demikian. Tidak bisa diubah. Kami siap menjadi salah salah satu dari para rasul.”

Suasana rapat mulai ramai. Ada pro dan kontra.

Seorang anggota dewan berkata, “Apa-apaan ini? Gagasan dari mana? Gereja Katolik tidak pernah dan jangan mengubah apa yang sudah ada. Kita bukan seperti yang lain. Kita taat pada Vatikan,” selanya dengan nada tinggi.

Seorang ibu tua terkesan bijak bertutur, “Sudahlah kita tidak usah macam-macam.  Tidak usah diubah-ubah. Tidak usah mencari masalah. Lakukanlah seperti biasa. Nanti malah iri hati. Kok dia? Menggolong-golongkan keluarga dan merusak kebersamaan.”

Suasana rapat semakin ramai.

Seorang menyeletuk, “Silakan saja. Kalau itu terjadi, saya keluar dari dewan. Saya mundur. Kebiasaan Gereja Katolik sudah bagus. Sesuai tradisi.”

Perubahan tidak gampang

Kesannya, “kebiasaan” bisa mengurangi kepekaan kehadiran nyata Allah dan tindakan-Nya dalam kehidupan keseharian.

Bukankah iman menantang kita untuk melihat dan menemukan cara baru dan merayakannya? Yesus memberikan kekuatan kepada umatnya; mengambil bagian dalam mana Ia memandang dan bertindak.

Pencucian kaki sebagai ungkapan pengalaman kasih, bukankah dapat menguatkan ikatan dan martabat keluarga?

Begitu sulitkah kita memandang dan memperagakan dengan cara baru hal-hal yang memikat pengalaman hidup manusiawi?

Sebuah risiko

Stefanus berseru, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka. Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.” ay 60.

Yesus meneguhkan, “Bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” ay 32-33.

Tuhan, ajari dan teguhkan aku terbuka pada hal-hal yang baru. Amin.🙏🕊⚘

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here