Percik Firman : Berbagi Sukacita

0
232 views

Kamis, 3 November 2022

Bacaan Injil: Luk 15:1-10 

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan” (Luk 15:6) 

Saudari/a ku ytk,.

SUDAH menjadi kebiasaan di tengah keluarga dan masyarakat kita, adanya acara syukuran. Saat masih kecil, misalnya, di desa saya ada tradisi brokohan. Konon, brokohan memiliki asal kata “barokahan”, yaitu ungkapan syukur dan terimakasih kepada Sang Pemberi Hidup atas kelahiran bayi dari kandungan ibunya. 

Tradisi brokohan ini pada dasarnya memang dilakukan sebagai tanda terimakasih atas “kelahiran.” Dalam praktiknya, tradisi ini tak melulu hanya dilakukan pada manusia saja, tetapi juga pada binatang peliharaan. 

Misalnya, ketika sapi atau kambing piaraannya melahirkan, sang pemilik akan mengadakan acara syukuran ini. Harapannya, Tuhan berkenan melimpahkan keselamatan dari tumbuh dan berkembangnya anak sapi atau kambing tersebut, sehingga mampu memberi penghidupan yang lebih layak bagi pemiliknya. 

Pada waktu itu kami senang, karena pasti akan mendapat es dawet dan aneka makanan. Maka jika ada sapi atau kambing tetangga sedang hamil, saya dan teman-teman akan menunggu dengan sukacita. Sang pemilik dalam waktu dekat akan membagi-bagikan es dawet dan makanannya yang lain untuk kami anak-anak waktu itu. 

Sukacita atau bersyukur adalah tanda bahwa orang itu beriman. Orang yang bersukacita atau bersyukur mempunyai energi positif yang luar biasa. Bahkan sukacita atau syukur bisa menciptakan aura positif dalam hidup bersama. 

Menurut peta kesadaran diri yang disampaikan David R. Hawkins, Ph.D dalam buku “Power Vs Force”, diungkapkan bahwa level sukacita itu berada dalam nilai atau score 540. Energi positifnya sangat tinggi. Bahkan level sukacita ini ada di atas level cinta (nilai 500). 

Sukacita juga dialami oleh pemilik domba atau dirham yang disampaikan Tuhan Yesus dalam perumpamaan hari ini. Sang pemilik domba bersukacita karena dombanya yang hilang ditemukan. Sang pemilik dirham juga bersukacita karena dirhamnya yang hilang ditemukan. 

Sebagai rasa syukur atas sukacita ditemukannya domba atau dirham yang hilang itu, mereka mengundang para sahabat dan tetangganya untuk berkumpul dan berpesta. Biasanya ada makanan dan minuman. 

Sukacita yang dibagikan itu membawa berkah. Sukacita itu bisa nyetrum atau menular. Bahkan bisa dirasakan oleh banyak pihak. Selain sukacita, semangat belaskasih juga ingin ditunjukkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan tersebut. Belaskasih Bapa melahirkan sukacita bagi manusia. 

Kita bersyukur karena Allah kita adalah Allah Bapa yang penuh belas kasih. Tuhan Yesus menegaskan bahwa yang bersukacita tidak hanya manusia, tetapi penghuni surga pun bersukacita karena ada orang yang bertobat. 

Pertanyaan refleksinya, pengalaman kasih seperti apa yang pernah Anda alami dalam hidup ini? Sukacita akan apa yang sedang Anda rasakan hari-hari ini terakhir ini?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang). # Y. Gunawan, Pr

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here