Protecda Wonosobo, Tempat Insan Tuli Dilatih Menuju Dunia Kerja

0
268 views
Suster Fransisca PMY dengan para insan tuli pengikut program PROTECDA. (Dok. Protecda)

PROTECDA artinya Productivity and Training Center for Deaf) membawa visi sebagai pusat produktivitas dan pelatihan bagi insan berkebutuhan khusus (tuli) yang mandiri, profesional dan membangun keutuhan diri di Indonesia.

Pendirian lembaga ini diprakasai oleh Yayasan Dena Upakara milik:

• Kongregasi Suster Puteri Maria Yosef (PMY);
• Yayasan Karya Bakti milik Bruder Karitas (FC);
• ATMI Solo;
• ATMI Cikarang;
• Para donatur.

Misi kemanusiaan

Tujuan PROTECDA adalah untuk memberi kesempatan bagi insan tuli dalam dunia kerja yang selama ini kurang mendapat perhatian, serta mewadahi unit-unit usaha yang sudah ada di SMP LB Plus Dena Upakara milik Yayasan Dena Upakara dan SMP LB Plus Don Bosco milik Yayasan Karya Bakti.

Plus artinya siswa tuli yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA akan mendapatkan tambahan belajar keterampilan selama satu tahun di bidang busana (menjahit), tata boga (memasak), salon kecantikan, hidroponik, dan mekanik.

Latar belakang

Direktur Protecda Sr. Fransisca PMY menjelaskan berikut ini.

Sejak pendiriannya di tahun 2016, PROTECDA tidak hanya menampung alumni dari SLB Dena Upakara dan SLB Don Bosco, tetapi juga menerima alumni dari SLB lain.

Syarat penerimaannya, dengan menjalani masa training terlebih dahulu hingga cukup umur untuk bekerja, minimal 19 tahun sesuai ketentuan pemerintah.

Kemudian magang selama satu tahun, yang dilanjutkan dengan kontrak kerja bagi yang ingin meneruskan bekerja di PROTECDA.

Sebagai pusat latihan kerja, para insan tuli tidak hanya belajar ketrampilan (skill) sesuai dengan minat atau jurusan yang diambil, tetapi juga attitude kerja.

Suasana kelas di Protecda.

Selain itu, secara tidak langsung insan tuli belajar manajemen yang dipraktikkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Taruhlah itu seperti membuat administrasi keuangan, mengatur persediaan barang, menyusun laporan bulanan, mengatur jadwal kerja, menyusun target produksi dengan perhitungan ongkos produksi dan menyusun target pasar.

Secara keseluruhan, proses untuk berlatih dan bekerja terjadi bersamaan, membutuhkan waktu tiga tahun.

Sampai saat ini, alumni PROTECDA sudah ada yang bekerja sebagai PNS, bekerja di ATMI dan berwirausaha dengan membuka toko.

Berbagai divisi

Unit usaha boga yang sekarang disebut Divisi Kuliner, berlokasi di Mute Area Jl. Bismo 21 Wonosobo.

Mute area terdiri dari kedai yang dibuat dengan konsep senyap tanpa musik; dengan semua karyawan tuli.

Pengunjung kedai dapat berinteraksi langsung dengan insan tuli sambil menikmati hasil olahan makanan dan minuman.

Selain makanan dan minuman yang dapat dinikmati di tempat, ada produk yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Produk yang dihasilkan berbabasis kearifan lokal dan merupakan hasil inovasi dari hasil pertanian dan peternakan organik, yang dikemas mengikuti perkembangan jaman, seperti kue kering nastar dengan isian selai dari kemar (terong belanda), stik sledri, puding seledri.

Aneka divisi karya yang diampu Protecda.

Di lantai 2 pada lokasi yang sama, dengan pemandangan pegunungan yang indah, pengunjung perempuan dapat menikmati pelayanan salon dan treatment kecantikan dengan menggunakan produk dari hasil inovasi, yaitu sabun dari kemar dan kayu manis.

Bagi insan tuli yang memilih ketrampilan hidroponik, akan mendapat pelatihan membuat pupuk dengan proses fermentasi, belajar dari menyusun daftar sayuran yang diminati pasar dan mempunyai nilai ekonomis.

Dengan memperhitungkan waktu tanam hingga panen, sistem tanam, pemeliharaan sampai dengan proses dan perlakuan panen hingga sampai ke tangan konsumen.

Sedangkan untuk unit usaha busana atau Divisi Konveksi yang juga berlokasi di kompleks SLB Dena Upakara Jl. Mangli 5 Wonosobo, insan tuli belajar membuat pola baju sampai dengan baju jadi.

Selain sebagai tempat belajar menjahit, divisi ini juga membuat dan menerima pemesanan baju seragam, kaos, dan suvenir.

Sebagai training center, Divisi Mekanik yang berlokasi di SLB Don Bosco Jl. Sambek 33 Wonosobo, sudah berjalan dengan tenaga pengajar dari ATMI Solo.

Para insan tuli belajar aneka produk dengan menggunakan alat-alat produksi yang digunakan di dunia industri.

Produk yang dihasilkan berupa meja, tempat pajangan pot, dll.

Seni tata boga di program Protecda.

Toko online

Semua produk yang dihasilkan oleh insan tuli di PROTECDA dapat juga diperoleh secara online.

Bisa menghubungi narahubung berikut ini:

Divisi kegiatan

Rencana ke depan untuk setiap setiap divisi yaitu kuliner, konveksi, salon kecantikan dan hidroponik, juga mempunyai training center resmi sebagai pusat latihan seperti divisi mekanik, dengan tenaga pengajar yang profesional.

Pada masa pandemi ini, PROTECDA juga tak luput dari dampak tersebut. Namun tetap berupaya untuk bertahan, dengan tetap berpikir kreatif dalam membangun usaha, yang bukan hanya sekedar mencari untung dan bertahan.

Tetapi juga sekaligus gotong royong membangun sekitar, yaitu bekerjasama dengan petani dan peternak organik di wilayah Wonosobo, seperti kerjasama dengan petani strawberry binaan Kongregasi Suster PMY di Wates, Wonosobo.

Kerjasama juga dilakukan dengan media dan beberapa pihak. Tujuannya agar PROTECDA makin dikenal dan banyak orang ikut tergerak dalam pemberdayaan yang makin luas.

Aneka produk hasil karya program Protecda.

Foto-foto: Koleksi Protecda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here