Puncta 03.03.21: Terjerat Kuasa, Raja Cotys Bertindak Bengis

0
196 views
Ilustrasi - Hercules, putera Dewa Zeus. (Ist)


Matius 20:17-28

KEKUASAAN membutakan Raja Cotys. Ia ingin menjadi penguasa tunggal di Trisea. Ia memerintah dengan tangan besi.

Siapa pun yang melawan dibunuh. Suami Argenia dibunuh. Rhesus lari dari kekejaman Cotys.

Ia mengumpulkan prajurit yang tidak senang dengan kelaliman Cotys. Ia memberontak melawan raja yang menindas rakyatnya. Ia dan pasukan Centaurus menjadi musuh paling menakutkan di Trisea.

Hercules bersama teman-temannya; Lolaus, Tydeus, Autolicus, Atlanta, dan Amphyraus disewa oleh Raja Cotys untuk melawan pemberontak.

Pada awalnya Hercules tidak tahu bahwa dirinya diperalat oleh Raja untuk melenyapkan Rhesus.

Namun setelah diberitahu apa yang terjadi sesungguhnya oleh Argenia, bahwa ayahnya adalah raja yang bengis, Hercules berbalik melawan raja. Ia berhasil membebaskan rakyat Trisea dari kelaliman.

Itulah kisah legenda Hercules dalam Film Hercules, The Trisian War.

Kekuasaan adalah godaan yang paling besar bagi manusia. Itulah yang dialami anak-anak Zebedeus. Yang menjadi aktor intelektualisnya adalah ibu Yohanes dan Yakobus.

Ibu itu datang kepada Yesus dan meminta, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini kelak boleh duduk di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu, dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Yesus tidak menjanjikan kedudukan atau kekuasaan. Ia justru menuntut syarat bagi murid-murid-Nya jika mereka ingin mengikuti-Nya yakni sanggup meminum cawan yang Dia minum.

Cawan adalah lambang pengorbanan, berani menumpahkan darah.

Dalam polemik ini, Yesus memberi pengajaran dan solusi bagi para murid-Nya. Kedudukan atau kekuasaan bukan untuk memerintah dengan tangan besi atau menindas rakyat. Tetapi kekuasaan atau kedudukan itu untuk melayani.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”

Lalu Yesus memberi contoh diri-Nya sendiri. “Sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Hercules berkata untuk membakar semangat para prajurit yang mau berperang, “Sekarang saatnya, buatlah legenda untuk diri kalian sendiri dengan melakukan yang terbaik bagi rakyat Trisea.”

Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk melakukan kebaikan bagi Tuhan dan sesama. Kebaikan kita akan dicatat sebagai legenda.

Membuka-buka majalah e-Relasi.
Membikin tenteram dan tenang di hati.
Pelayanan adalah ciri moral Kristiani.
Mari kita tidak bosan untuk melayani.

Cawas, semangat sepanjang hari…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here