Puncta 07.03.20: Puntadewa yang Berdarah Putih

0
904 views
Prabu Puntadewa by Mulyantoro.

Matius 5:43-48

KETIKA Baratayuda sudah memasuki hari ke enambelas, Salya maju berperang membela Kurawa. Prabu Salya adalah paman dari para Pandawa, karena Nakula dan Sadewa adalah anak Dewi Madrim, istri Pandu.

Madrim adalah adik Salya. Salya punya aji Candabirawa yang sangat ampuh. Tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya. Penasehat Pandawa, Prabu Kresna harus bisa membujuk agar Puntadewa mau maju perang.

Selamanya Puntadewa tidak pernah perang karena hatinya dan darahnya putih lambang kesucian hidupnya. Ia mengasihi semua tanpa pamrih. Kurawa dan siapa pun dikasihinya tanpa membeda-bedakan.

Dialog Kresna dan Puntadewa sangat dalam karena berisi tentang kasih tanpa batas dan cinta tanpa pamrih.

Kresna menyimpulkan,”Paduka adalah raja binatara. “Wong becik dibeciki, wong ala dibeciki.” Orang baik dibaiki, orang jahat tetap dibaiki.

Yesus mengajarkan kasih tanpa pamrih dan cinta kepada siapa pun tanpa batas, bahkan jika itu adalah musuh kita. “Kamu telah mendengar firman.” Kata Yesus, “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuh-musuhmu.”

Yesus mengutip isi hukum Taurat. Namun Yesus memperbaharui ajaran kasih itu dengan berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu, Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Ajaran ini pasti sulit sekali. Bagaimana mungkin mengasihi orang yang membenci kita. Bagaimana mungkin mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita. “Sakitnya tuh di sini…di dalam hatiku…” kata penyanyi Cita Citata.

Menurut ukuran dunia, tidak mungkin mengasihi orang yang membenci kita. dunia mengarahkan kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Yesus ingin memutus balas dendam ini dengan balas kasih.

Dendam tidak akan ada habis-habisnya. Maka Dia mengajak kita untuk mengasihi dan mengampuni musuh. Kalau kita ini sebagai manusia diciptakan secitra dengan Allah.

Segambar dengan Allah. Kalau Allah adalah kasih, maka kita pun secitra atau serupa dengan Allah yang mengasihi. Hidup dan karya Yesuslah yang menjadi pola dan pedoman hidup kita.

Dengan kematian di salib, Yesus memutus pola balas dendam. Dengan salib, Yesus membalas kejahatan dengan kebaikan. Dendam dengan pengampunan. Itulah pola hidup yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya.

Naik lambreta keliling negeri Italia
Boncengin mertua untuk mengambil hati
Kasih Yesus itu adalah kasih yang sempurna
Mengasihi tanpa pamrih dan mau mengampuni.

Cawas, hati yang gembira adalah obat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here