Ratu Adil dan Harapan Mesianis

0
132 views
ilustrasi: Menorehkan Harapan oleh Romo Mudji Sutrisno SJ

APAKAH ini tulisan teologis? Saya tidak berani katakan “iya”. Sebab, saya tidak mau tulisan ini menjadi pegangan iman yang defenitif layaknya sebuah doktrin. Lagi pula saya pun bukan pakar dogmatik.

Lalu apakah ini tulisan sastra atau kebudayaan? Pun saya tidak berani mengatakan demikian. Sebab, saya juga bukan pakar filsafat Jawa.

Jika demikian, sebut saja tulisan ini adalah “Tulisan Bukan”.

Bukan teologi, bukan filsafat, bukan sains, bukan sastra, bukan sejarah dan bukan budaya. Tapi bukan juga “cocokologi”.

Saya hanya mendengar bahwa ada orang Jawa, rakyat biasa, biasa dipanggil Mas Jonet. Dia bilang bahwa dalam kepercayaan orang Jawa ada sebutan Ratu Adil dan Satrio Piningit.

Saya kurang tahu apakah ini nama dua orang atau gelar untuk orang yang sama. Yang jelas, kata Mas Jonet, gelar Ratu jangan diartikan jender.

Siapa “Ratu Adil”, yang jelas datang suatu saat, pada waktu yang tepat, entah kapan. Namun,  itulah tokoh adil di masa depan untuk membereskan ketidakberesan dunia. Tokoh ini ada dalam pengharapan berdasarkan tradisi lisan dan mungkin ada dicatat dalam kitab-kitab kuno Jawa. Entahlah.

Saya jadi ingat pada umat Israel yang mengharapkan datangnya Mesias. Dan juga dalam Kekristenan ada harapan akan kedatangan Yesus yang keduakalinya. Bagaimana cara menyebut harapan ini dengan istilah keren? Eskatologi? Utopia?

Intinya ada harapan. Umat manusia dengan agama dan budaya-budaya berkisah tentang harapan di masa depan. Itu membuat kita tetap optimis akan masa depan meski saat ini seolah-olah tanpa harapan.

Lalu apakah Ratu Adil atau Satrio Piningit adalah orang yang sama dengan Mesias dalam Yahudi dan Kristen. Tidak berani saya jawab. Nanti dikatakan cocologi atau sesat. Paling aman jawabannya “tidak tahu”.

Cukuplah saya katakan bahwa kita sama-sama punya harapan. Kita punya tokoh masa depan yang akan menolong manusia. Kita punya alasan untuk tetap berbuat baik. Terserahlah kepada para pakar berdiskusi lintas agama dan budaya.

Intinya kita hidup dalam kasih dan damai meski berbeda. Dan setiap orang berhak mengimani dan mempercayai apa yang diimaninya dengan baik, benar dan indah. Dan menyampaikan kebenaran kita kepada orang lain dengan akal sehat, kasih dan tanpa kekerasan fisik serta tanpa perusakan terhadap martabat manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here