Renungan Harian 2 Maret 2021: Gajah Diblangkoni

0
634 views
Ilustrasi -Umat mengejak materi kotbah pastor. (Ist)


Bacaan I: Yes. I: 10. 16-20
Injil: Mat. 23: 1-12
 
DALAM sebuah Perayaan Ekaristi, seorang imam berkhotbah tentang cinta kasih. Ia menyampaikan pentingnya orang saling mengasihi, berani menerima satu dengan yang lain.

Terlebih dalam hidup berkeluarga. Yang paling utama dalam menunjukkan kasih adalah kerelaan saling mengampuni.

Masih dalam kotbahnya, imam itu mengatakan setiap hubungan antar pribadi pasti ada persoalan. Oleh karenanya, harus berani untuk duduk bersama membicarakan persoalan yang ada dengan semangat cinta kasih.
 
Umat yang mendengarkan kotbah imam itu tanpa ada yang mengomando serentak tersenyum; bahkan ada yang tertawa tertahan. 

Hal itu terjadi, karena hampir semua umat tahu bahwa imam yang sedang berkhotbah itu dengan rekan imamnya tidak rukun.

Bahkan umat juga tahu bahwa untuk makan, beliau-beliau ini saling intip. Kalau imam yang satu sedang makan, maka yang lain menunggu.

Demikian sebaliknya. Dan tidak jarang meminta agar makanan diantar ke kamar.

Oleh karenanya umat yang mendengar kotbah itu mengatakan bahwa imam itu “gajah diblangkoni, iso khotbah ora isa nglakoni” (bisa berkotbah, tetapi tidak bisa menjalankannya.)
 
Apa yang terjadi dengan imam tersebut kiranya banyak terjadi di antara kami para imam.

Sudah pasti harapan para umat, imam dapat menjadi teladan hidup sebagaimana dikotbahkan.

Apa yang diharapkan umat ini menjadi tantangan dan pergulatan besar bagi kami para imam.

Satu pihak, para imam “harus” berkotbah dan di pihak lain tidak semua apa yang dikotbahkan sudah dilaksanakan, apalagi dihidupi.
 
Sudah pasti para imam lebih banyak tidak berkotbah seandainya apa yang dikotbahkan sudah dilaksanakan dan dihidupi.

Para imam adalah bagian dari umat yang berziarah, yang bergulat dengan berbagai kelemahan dan dosa. Berjuang dari hari ke hari untuk menjadi lebih baik dengan jatuh bangun.

Maka ketika berkotbah, bukan untuk menggurui. Bukan karena sudah hebat, tetapi mengajak bersama berjuang. Minimal kotbah itu ditujukan untuk diri sendiri.
 
Kiranya, sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Matius yang berisi kritik Yesus terhadap ahli taurat dan orang Farisi berkaitan jurang antara apa yang diajarkan dengan yang dijalankan merupakan kritik pula bagi kami para imam.

Kritik yang mendorong untuk berjuang dengan lebih agar jurang antara kotbah dan perbuatan semakin pendek.

“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakukannya.”
 
Doakan kami para imam yang lemah dan berdosa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here