Renungan: Menyelamatkan Keluarga dari Keretakan

0
558 views
Ilustrasi - Kehidupan keluarga. (Ist)
  • Kis 16: 11-15.
  • Yoh. 15: 26-16: 4a.

KEHIDUPAN tidaklah segampang yang diperkirakan. Bukan kehidupan itu sendiri, tetapi manusia dengan kompleksitas diri bersama dengan yang lain. Di antara begitu banyak interaksi yang terkait satu sama lain. 

Mengenal diri sendiri tidaklah mudah.

Pengenalan diri membutuhkan pergulatan tiada henti karena tercipta sebagai pribadi yang dinamis. Proses penerimaan diri apa adanya pun membutuhkan kesadaran, kejujuran dan kerendahan hati.

Antara keinginan dan keterbatasan; rasa dan nalar saling kadang tidaklah seimbang.

Manusia senantiasa hidup dalam “ketegangan”.

You are not alone

“Mo, tolong selamatkan keluarga saya,” dengan sedih dan keloppak mata sudah berkaca-kaca, seorang suami berkata.

“Apa yang bisa dibantu?”

“Isteri saya, Romo. Dia merasa tidak tahan lagi hidup bersama saya. Dia ingin berpisah. Berkali-kali dan hampir setiap hari dia mengatakan demikian. Saya tidak menjawab. Saya hanya diam. Kadang menghardik. Kadang menangis sendiri.”

“Anak-anakmu berapa?”

“Tiga orang, Romo. Semuanya masih remaja kecil-kecil. Satu sudah di SMA dan dua lainnya masih di SD.”

“Boleh saya tahu. Kenapa bisa terjadi?”

“Ia merasa tidak dicintai? Saya kadang lebih memperhatikan Mama daripada mendengar dan memenuhi kebutuhan istri. Mama saya sendiri di rumahnya. Hanya pembantu yang ada. Kedua adik tinggal di luar pulau. Setiap hari saya ke rumah Mama; kadang makan bersama. Itu yang membuat isteri saya kadang kurang suka.”

“Isteri saya orangnya baik. Saya sendiri yang kadang temperamental, apalagi kalau Mama saya disinggung. Saya tidak suka.

Saya pun kurang mengambil hati isteri; jarang memperhatikan mertua. Beberapa kali saya menegur isteri. Ia memberi sesuatu kepada mertua tanpa bicara dulu dengan saya.”

“Kan saya yang mencari uang, Mo. Saya harus tahu semua pengeluaran. Saya memberi ke Mama saya kalau mendapat bonus.”

“Isterimu tahu tah?”.

“Tidak Romo. Kadang saya sedikit berbohong,” jawab lelaki itu.

“Jadi bagaimana saya harus membantumu?”.

Bapak itu diam.

“Pak, mulai sekarang mulailah jujur kepada isterimu. Dia itu kan pribadi yang kau cintai. Ibu dari anak-anakmu. Ia berasal dari keluarga tertentu. Sebagaimana engkau mengasihi ibumu, berilah kesempatan, hak yang sama untuk mencintai ibunya.”

Terlebih kejujuran soal keuangan.

“Mumpung masih bisa bicara dengan isterimu. Berilah perhatian lebih. Bicaralah bersama dan terbukalah, apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi keluargamu. Ikatkah kesepakatan bersama. Itulah arah dan perjalanan bahtera keluargamu.”

Kita tidak pernah sendiri dalam hidup ini. Seandainya pun hidup bersama dalam keluarga terasa dalam neraka tetap kita tidak sendiri.

Ada satu kuasa. Ada banyak Anugerah. Ada orang-orang yang care, terutama keluarga.

Kendati kadang menjengkelkan tetaplah keluarga merupakan sebuah persekutuan.

Engkau tak pernah sendiri. Terbukalah pada keluargamu. Merekalah akan mencintaimu apa adanya.

Percayalah. Kejujuran dan keseimbangan kasih pada orang tua dan mertua; mendengar dan memberi waktu untuk istri dan anak-anak adalah hal yang merukunkan.

Yesus telah mengantisipasi kehidupan para murid, Gereja-Nya dan kita.

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” ay 26-27.

Tuhan mengutus Roh Kudus Nya agar kita hidup dalam kebenaran-Nya.

Kebenaran-Nya berarti Roh Kudus sendirilah dalam misteri kasih Allah mengumpulkan,  menyatukan dan menyempurnakan butir-butir kehidupan kita yang mungkin “cacat, terluka, berantakan dan berserakan” dalam perjalanan hidup kita.

Tuhan, Engkaulah penyempurna dan pemersatu keluarga kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here