Sabda Hidup: Sabtu, 5 September 2015

0
962 views

Beata Teresa dr Kalkuta

warna liturgi Hijau

Bacaan

Kol. 1:21-23; Mzm. 54:3-4,6,8; Luk. 6:1-5. BcO Am. 5:18-6:14

Bacaan Injil: Luk. 6:1-5.

1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. 2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 3 Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” 5 Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan:

SUATU kali ada berita seorang bapak tertangkap mencuri penanak nasi. Orang-orang pun menghakiminya. Namun setelah ditanya ternyata bapak itu hanya menginginkan nasinya karena anaknya kelaparan dan dia tidak mempunyai uang untuk membeli.

Rasa lapar bisa mendera siapa saja. Ada orang yang kemudian uring-uringan kala lapar. Ada yang pusing. Umumnya perut sakit kala lapar. Mereka yang sudah beberapa hari tidak makan bisa saja nekad melakukan tindakan yang menyalahi aturan seperti bapak tadi. Para murid Yesus pun lapar dan memetik gandum walau hari itu hari Sabat di mana orang tidak boleh melakukan itu.

Banyak orang yang masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makannya. Kadang mereka pun terpaksa mengais di tempat yang gak layak. Mungkin di antara kita sangat tercukupi kebutuhan tersebut. Maka mari kita berpeduli pada mereka yang membutuhkan. Kita tidak segera menghakimi mereka yang kadang terpaksa melanggar aturan demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kontemplasi:

Pejamkan sejenak matamu. Bayangkan dirimu sedang lapar dan di tempatmu tidak ada makanan yang bisa dimakan.

Refleksi:

Bagaimana anda memperlakukan makanan?

Doa:

Tuhan berkatilah dan berilah rejeki saudara-saudariku yang hari masih kesulitan memenuhi kebutuhan makannya. Amin.

Perutusan:

Aku akan menghargai makanan yang tersedia bagiku dan ingat pada mereka yang kekurangan. -nasp-

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here