Salam yang Kembali Menjadi Berkat

0
348 views
Ilustrasi.

Kamis, 7 Juli 2022

  • Hos. 11:1b,3-4,8c-9.
  • Mzm. 80:2ac,3b,15-16.
  • Mat. 10:7-15.

TUHAN itu asyik. Dia tidak membiarkan kita berjalan tanpa perlindungan dari-Nya.

Tuhan memberikan bekal dan kemampuan kepada kita yang diutus-Nya agar dapat menghadapi bahaya dengan tangguh dan berani.

Dengan berkat dari Tuhan kita jadi kuat menjalani pengutusan yang kita jalani.

Hanya saja perlu diingat bahwa bukan ‘kehebatan’ yang menjadi tujuan pewartaan yang ingin kita sampaikan apalagi dipamerkan, melainkan sikap sederhana dan setia pada kasih Tuhan.

Kita diutus ke tengah dunia yang selalu berubah dan berkembang.

Setiap waktu zaman ini mengundang kehadiran kita dengan jeritan dan keluhan yang khas.

“Romo, ini daftar umat kita yang perlu mendapata kunjungan. Dan ini ada beberapa yang berasal dari Jawa,” kata seorang bapak sambil menyodorkan daftar umat.

“Kapan romo ada waktu dan ingin kunjungan, saya siap mengantar romo,” katanya lagi.

“Terimakasih Pak, nanti baik jika kita koordinasi dengan ketua lingkungan supaya dia yang mengantur, mana yang didahulukan,” jawab romo itu.

“Sebagian mereka adalah umat yang tidak aktif dan bahkan tidak pernah muncul di Gereja ini,” sahut bapak itu.

“Para aktivis hampur setiap Minggu berjumpa di Gereja sedangkan mereka yang kurang aktif kita tidak pernah bertemu maka merekalah yang pantas diutamakan untuk dikunjungi,”mjawab romo itu.

“Rasanya kurang asyik, jika saya hanya bergaul dan akrab dengan mereka yang membuatku nayaman dan aman,” lanjutnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian

“Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.

Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.

Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.”

Kalau kita terus berbuat baik, maka kebaikan Tuhan juga akan mengikuti kita.

Tuhan akan mengurus segalanya, maka kita tidak perlu kuatir akan segala sesuatu dalam pelayanan.

Bahkan jika kebaikan kita ditolak pun, Tuhan menasehatkan untuk terus berbuat baik, sebab kebaikan itu akan kembali kepada kita sebagai berkat dan kebaikan tetap sebagai kebaikan, tidak berkurang sedikit pun.

Oleh karena itu, sekali lagi janganlah kuatir kalau kita bermisi untuk kebaikan Tuhan.

Tidak perlu kita mencari kenyamanan dan rasa aman pada kelompok atau orang-orang sesuku dan sepaham dengan kita.

Tuhan yang mengutus, Tuhan yang mengurus. Tidak usah kawatir, semua akan diselenggarakan oleh Tuhan. Kita sebaiknya fokus saja pada tugas yang diberikan Tuhan.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku sungguh menyadari tugas pengutusan hidupku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here