Seminari Menengah St. Laurentius Ketapang: Cara Memaknai Kemerdekaan RI

0
49 views
Ilustrasi: Prosesi Upacara Kemerdekaan RI di halaman depan Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang, Kalbar.

PADA tanggal 17 Agustus 2020, Seminari MenengahSt. Laurensius Ketapang melaksanakan upacara bendera di halaman seminari dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-75. Sebelum upacara digelar, para seminaris dan staf mengadakan latihan bersama terlebih dahulu.

Baik seminaris maupun staf sudah lama tidak melaksanakan upacara bendera selama pandemi covid ini. Maka, latihan ini sangat baik untuk mengingat kembali ‘bagian yang hilang’ dari rutinitas upacara khususnya para seminaris yang juga merupakan siswa SMA yang juga sudah lama tidak melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin.

Seminaris menjadi petugas upacara bendera.
Romo Fransiskus Suandi, Wakil Rektor Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang menjadi Inspektur Upacara.

Semua seminaris mengikuti latihan dengan sangat serius, sehingga pelaksanaan upacara bendera sangat khidmat dan mantap. Pasukan pengibar bendera dengan gagah membawa Sang Saka Merah Putih di hadapan tiangnya.

Lagu Indonesia Raya berkumandang di halaman Seminari St. Laurensius diiringi sikap hormat dari seluruh seminaris dan staf Seminari. Satu seminaris mengatakan, momen ini menjadi begitu mengharukan karena mereka teringat kembali akan masa-masa sewaktu masih aktif bersekolah.

Pemimpin upacara dipercayakan kepada Romo Fransiskus Suandi selaku Wakil Rektor Seminari Menengah St. Laurensius Ketapang.

Dalam posisi istirahat di tempat, para seminaris mendengarkan seksama amanat Romo Frans. Ia membuka amanat dengan mengevaluasi sejenak proses upacara. Ia menggambarkan pribadi orang masa kini yang lebih banyak menghapal lagu-lagu kekinian dengan cepat, ketimbang lagu-lagu nasional.

Kemudian pertanyaan yang cukup menohok dilemparkan kepada para seminaris: Siapakah yang paling berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan? Bagaimana kita memaknai kemerdekaan Indonesia?

Prosesi upacara bendera.

Romo Frans menggambarkan kisah perjuangan bangsa Indonesia yang berjuang memperoleh kemerdekaan. Semua perjuangan tentu memerlukan pengorbanan yang besar.

Romo Frans menggambarkan sosok Bunda Maria yang harus berkorban besar dari perjumpaannya dengan Malaikat Gabriel. Bunda Maria harus meninggalkan kenyamanan hidup dan mengikuti kehendak Allah baginya.

Pepatah tua mengatakan, bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian. Dan saat ini, kita telah merasakan buah-buah pengorbanan para pahlawan dengan mencicipi kemerdekaan selama 75 tahun.

Mobil Tesla

Dalam hal memaknai kemerdekaan, Romo Frans kemudian menceritakan tentang kisah penemu mobil Tesla.

Mobil Tesla sudah mulai menampakkan moncongnya ke permukaan dan diprediksi akan menjadi kendaraan masa depan yang efektif dan efisien.

Hampir 90% pekerja perusahaan Tesla Inc. adalah robot. Maka, Romo Frans kemudian menggambarkan masa depan di mana semua hal akan dikerjakan menggunakan robot (artificial intelligent). Apalagi ke depannya, Kalimantan pada tahun 2030 mulai menjadi wilayah Ibukota Negara.

Belum lagi persaingan tenaga kerja dari luar dan investor asing akan mulai memasuki Kalimantan. Seminaris akan menjadi salah satu generasi yang mencicipi keadaan modern ini. Hanya saja pertanyaannya, apakah seminaris siap menghadapi hal ini jika tidak disertai kreatifitas, skill dan kemampuan-kemampuan yang mendukung persaingan global di masa depan kelak.

Malam 17 Agustus-an
Aneka perlombaan mewarnai syukuran atas peringatan Indonesia merdeka.

Suatu hari, manusia akan digantikan oleh teknologi. Maka sedikit demi sedikit tenaga kerja manusia akan dikurangi, dan orang-orang yang memiliki skill yang mungkin akan tetap bertahan. Kemudian Romo Frans mengatakan kembali bahwa setiap orang di masa depan nanti harus mempersiapkan dirinya agar mampu bersaing dengan orang-orang dari negara maju.

Pembabatan ekosistem alam yang marak terjadi membuat semua pihak harus melek untuk menyadarkan masyarakat akan masa depan yang tetap terjaga sumber daya alamnya.

Melihat kondisi Kabupaten Ketapang yang mulai dimasuki oleh pertambangan emas dan perkebunan sawit akan  menjadi tantangan di masa depan. Daerah-daerah yang selama ini menjadi tempat pelestarian ekosistem, sedikit demi sedikit mulai dilirik oleh investor oleh karena kekayaan di dalamnya. Entah kelak sebagai imam ataupun awam, harus memperjuangkan keutuhan ciptaan.

Selain upacara bendera, Seminari St. Laurensius juga melaksanakan perlombaan dan malam perayaan 17 Agustus-an. Cara yang sederhana dengan perlombaan-perlombaan seperti balap karung, lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang dan lomba pukul bantal.

Semua sangat bahagia memaknai kemerdekaan dengan sukacita, kegembiraan, perjuangan di masa kini, meskipun di tengah ancaman pandemi, semangat hidup berkomunitas yang kompak tetap terjalin dengan rasa syukur.

Terima kasih atas kemerdekaan yang Tuhan berikan, mari kita memberikan pada negara kita apa yang menjadi hak negara kita, dan kita berikan kepada Allah apa yang menjadi hak kita kepada Allah. Servient et caritate.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here