
DALAM doa pembukaan, Kardinal Luis Antonio Tagle mengajak para peserta memohon agar Allah membuka hati, pikiran, dan mata rohani mereka sehingga mampu melihat “hal-hal yang lebih besar” sebagaimana dijanjikan Kristus, dan mengalami pertobatan dalam menjalankan kepemimpinan Gereja.
Setelah doa, Presiden Catholic Biblical Federation (CBF) Kardinal Tagle lalu memperkenalkan Sekretaris Jenderal CBF, Pastor Jan Stefano, yang menyampaikan salam pembukaan kepada forum Sidang Pleno ke-12 FABC.
Semangat Dei Verbum
Pastor Stefano menjelaskan bahwa CBF didirikan pada 1969 untuk melaksanakan semangat Dei Verbum dan kini menjadi jaringan kerasulan Kitab Suci yang hadir di hampir 120 negara melalui 333 anggota penuh dan asosiasi. Asia menempati posisi penting dalam federasi ini, dengan hampir seluruh konferensi waligereja di kawasan tersebut menjadi anggota penuh.
Ia mengapresiasi tema Sidang Pleno ke-12 FABC: “Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge Builders in Asia: You Will See Greater Things,” seraya menegaskan bahwa Kitab Suci merupakan “jembatan pertama” yang menghubungkan Allah dengan umat manusia dan menjadi dasar bagi dialog Gereja dengan kaum miskin, budaya, dan agama-agama.
Bishops’ Institute for the Biblical Apostolate (BIBA)
Pastor Stefano juga mengenang kontribusi FABC dalam pengembangan kerasulan Kitab Suci melalui Bishops’ Institute for the Biblical Apostolate (BIBA), termasuk berbagai program pembinaan biblis dan penguatan komunitas basis gerejawi di Asia.
Namun, ia mencatat bahwa selama lebih dari satu dekade BIBA tidak lagi diselenggarakan dan kerasulan Kitab Suci menjadi kurang menonjol dalam program-program FABC.
Karena itu, ia berharap Sidang Pleno kali ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut, sehingga Sabda Allah kembali menjadi inspirasi utama seluruh karya pastoral Gereja di Asia.
Sekretaris Jenderal Catholic Biblical Federation (CBF) Pastor Jan Stefano menegaskan bahwa Sabda Allah harus menjadi dasar seluruh proses sinodal.
Mengutip Dokumen Final Sinode tentang Sinodalitas, khususnya paragraf 83, ia mengatakan bahwa mendengarkan Sabda Allah merupakan titik awal dan tolok ukur bagi seluruh proses discernment Gereja. “Tanpa mendengarkan Sabda, tidak ada sinodalitas sejati,” katanya di atas mimbar.
Ia berharap FABC menghidupkan kembali kerasulan Kitab Suci melalui pembaruan program BIBA (Bishops’ Institute for the Biblical Apostolate), pembentukan animator Kitab Suci, dan berbagai inisiatif bersama.
CBF, kata Pastor Stefano, siap mendukung FABC melalui sumber daya, materi, dan pendampingan. (Berlanjut)
\











































