Wisanggeni, Anak yang Dikuya-kuya

0
35 views
Antasena dan Wisanggeni (Ist)

Puncta 25 Mei 2024
Sabtu Biasa VII
Markus 10: 13-16

WISANGGENI adalah anak Arjuna dan Bathari Dresanala. Sejak kecil kehadirannya tidak dikehendaki. Ia ditolak karena nafsu dan kesewenangan mereka yang punya kuasa.

Ia menjadi korban dari kesewenangan orang-orang dewasa. Bethari Dresanala diperistri oleh Arjuna sebagai hadiah karena jasanya membunuh Raksasa Newatakawaca. Dresanala kemudian mengandung.

Tetapi karena Dewasrani jatuh cinta kepada Dresanala, ibunya, Bathari Durga merayu dewanya para dewa yakni Bathara Guru untuk memisahkan Dresanala dengan Arjuna. Akibatnya anak yang di kandungan harus dimusnahkan.

Karena diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang, lahirlah bayi yang belum waktunya. Dialah Wisanggeni. Anak ini justru tumbuh jadi anak yang sakti mandraguna. Dia mampu mengalahkan para dewa di kahyangan.

Nilai moral dari cerita ini adalah hormatilah dan hargailah anak-anak sejak dia sudah dalam kandungan ibunya. Jangan sampai digugurkan demi tujuan yang tidak baik. Jaga dan lindungilah anak-anak sejak kecil.

Yesus memarahi para murid karena mereka menghalangi anak-anak yang ingin datang kepada Yesus.

“Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku. Jangan menghalang-halangi mereka. Sebab orang-orang seperti itulah yang yang empunya Kerajaan Allah.”

Seperti Wisanggeni, anak kecil yang “dikuya-kuya” dicampakkan dan disingkirkan, justru di dalam dirinya bertahta Sang Hyang Wenang. Allah hadir dalam diri anak-anak kecil itu. Seperti anak-anak inilah yang empunya Kerajaan Allah.

Kita tidak boleh bertindak seperti para murid yang menghalangi mereka datang kepada Tuhan. Kita justru harus menghantar mereka dekat dengan Tuhan.

Sering kali yang terjadi anak-anak dijauhkan dari kegiatan liturgi karena mereka dianggap hanya mengganggu dan membuat ribut.

Sudahkah kita sebagai orangtua atau orang dewasa memberi ruang yang nyaman bagi anak-anak agar tumbuh dalam kedekatan dengan Tuhan?

Ataukah kita menjauhkan mereka dengan Tuhan sehingga mereka merasa asing dalam gereja dan mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri?

Kalau kita sering makan enak-enak,
Dokter dan penyakit menemani kita.
Tuhan Yesus cinta kepada anak-anak,
Kita justru sering menghalangi mereka.

Cawas, biarkan anak-anak datang pada-Ku
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here