Artikel Politik: Menunggu Matahari

0
109 views
Ilustrasi (Ist)

MENURUT cerita, orang Sumeria memilikli dongeng tentang Firdaus— disebut Dilmun– yang hilang (Susan Wise Bauer: 2007).

Dalam puisi Sumerian yang sangat kuno yakni Enki dan Ninhusag (Ninhusag juga disebut Ninhursaga), Dilmun itu digambarkan sebagai sebuah tempat di mana:

Singa tidak membunuh
Serigala tidak merenggut domba
Anjing ajak, pelahap anak-anak, tidak dikenal
Dia yang matanya melukai tidak berkata, “Mataku melukai”.
Dia yang kepalanya pusing, tidak berkata, “Kepalaku pusing”.

Akan tetapi, taman seperti itu, telah tiada. Tidak ada lagi, serigala yang tinggal bersama domba dan macan tutul berbaring di samping kambing. Tidak ada pula anak lembu dan anak singa makan rumput bersama-sama di padang rumput di taman itu, dan seorang anak kecil menggiringnya.

Semua sudah tidak ada. Tidak seperti dalam mitos Enki dan Ninhusag.

Mengapa Dilmun, hilang? Gara-gara Pandora tak bisa menahan diri membuka kotak pemberian Zeus, kejahatan tumpah ke dunia, menguasai dunia dan mahkluk seisinya.

Itulah sebabnya, bagaimana orang yang terdidik, orang-orang cerdas, orang-orang berpendidikan juga terlibat dalam tindak kejahatan. Mereka melakukan enteng saja seakan tanpa kesadaran. Bagaimana mungkin, orang-orang terpandang, orang-orang terdidik, tidak mengenali kejahatan sebagai kejahatan.

Bahkan, banyak orang cerdik pandai yang menjadi pereka kejahatan, menjadi auctor intellectualis, berarti menjadi  “pencetus ide”, “orang yang untuk pertama kali mengemukakan suatu pikiran atau rencana”, “otak.”

Muncullah musang berbulu domba.

Karena itu, Natan Hofshi (1889-1980) seorang pecinta damai dari Polandia mengatakan, “Marilah kita memilih jalan yang benar sebelum terlambat. Janganlah mengotori usaha kita yang murni dengan darah. Kita akan terus menjalankan perjuangan kita yang adil tanpa mengenal lelah, tetapi dengan bijaksana, pantang menyerah, tetapi tetap menjaga kemurnian kita; dengan penuh tekad, tetapi tidak agresif; dengan hati mantap dan terus bersemangat, tetapi  tidak dengan tindakan-tindakan keji membunuh atau menumpahkan darah.”

Apa yang dikatakan Natan perlu direnungkan, kalau  orang masih tetap mengharapkan datangnya “langit yang baru dan bumi yang baru,” tempat di mana tiada lagi tangis, dan derita masa lalu akan dilupakan.

Di “langit yang baru dan dunia yang baru itu” masih ada kehidupan.  

Meskipun, sekarang seperti awan gelap menutupi Matahari, dan Bulan tanpa mampu menerangi malam. Akan tetapi, di mana ada kehidupan, di sana masih ada harapan.

PS:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here