“Captain America: Civil War”, Menolong atau Berdiam

0
1,224 views
Film "Captain America: Civil War"

SEPULANG menonton Civil War, rasa tidak puas mengisi dada saya.  Kenapa justru para jagoan Marvel malah beradu jotos?  Seharusnya mereka saling membantu, bukan?

Saya inginnya para jagoan Marvel melawan “Prajurit Maut” yang masih dibekukan sehingga sumber malapetaka dan kesusahan dunia segera diberesi.  Begitulah Film Captain America: Civil War memberi kesan kepada saya.

Film yang berdurasi cukup lama ini, 2 jam 27 menit, memang cukup seru karena adegan pertempuran, duel, dan lucu menyatu.  Saking lamanya dan alurnya banyak berisi adegan perkelahian tak jarang membuat saya menguap.

Konflik nurani

Dalam film Captain America yang ketiga ini dihadirkan Bucky Barnes yang telah dicuci otaknya untuk menjadi mesin pembunuh.  Kesadarannya yang timbul tenggelam menyebabkan dirinya mengalami konflik batin.  Di satu sisi, hati nuraninya sangat kental dibalut oleh keluhuran manusiawi untuk menolong orang yang berkesusahan.  Di sisi lain, ketika berada di bawah pengaruh cuci otak, kesadarannya tak mampu mengontrol perilakunya yang sangat destruktif.

C
Captain America vs. Iron Man

Dalam film ini, Barnes memegang kunci persoalan tentang adanya rencana mengerikan tentang penyalahgunaan Prajurit Maut yang masih “tidur” di Siberia. Rencana jahat ini dibuat oleh korban dari aksi para Avengers dalam mempertahankan bumi dari serangan penjahat. Aksi tersebut sering menyebabkan kerugian material dan jiwa manusia.

Banyak orang tak bersalah menjadi korban. Sebagian dari mereka kehilangan keluarganya akibat aksi para superhero. Di antaranya adalah Helmut Zemo, otak dibalik kekacauan antara anggota Avengers dan rencana penghancuran dunia. Aksi para Avengers dinilai melampaui aturan dan hukum.  Para pemimpin negara merasa keberatan membiarkan para Avenger beraksi tanpa suatu aturan.

Anggota Avengers mengalami ketidaksepahaman antara hati nurani dan aturan dunia internasional tentang sepak terjang mereka.  Muncullah dua kubu Iron Man cs dan Captain America cs.

Keduanya memiliki alasan mendasar tentang keamanan dunia dan soal kebebasan individu. Ketidaksepahaman mereka juga berefek pada tindakan konkret mereka dalam membela sesamanya yang menderita.

Apakah menolong orang lain dari kejahatan adalah sikap yang harus prosedural dengan mengikuti aturan tertentu?  Ataukah ini spontan seturut situasi?

Refleksi untuk penonton

Film ini mengajak para penonton untuk bermenung bahwa soal menolong orang lain itu tidak semudah membalikkan tangan.  Seperti kubu Captain America, menolong dan membela kebenaran serta menegakkan keadilan semestinya merupakan sikap “orang Samaria yang baik hati.”

Sikap orang Samaria yang baik hati itu merupakan dorongan dasar manusia berhadapan dengan ketidakadilan dan kejahatan. Tetapi terkadang sikap macam ini menimbulkan konflik di antara manusia.

Seperti halnya soal kasih dan keadilan.  Setidaknya film ini memberi solusi, membela kebenaran pun harus memperhatikan keberadaan orang-orang lemah dan kesejahteraan bersama.  Hukum dan aturan tetap diindahkan namun keberadaan tersebut jangan sampai mematikan hati nurani untuk berbuat benar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here