Jalan Kaki ke Sendangsono, Ah… Masa Iya?

0
3,200 views

BERZIARAH  ke Sendangsono dengan jalan kaki ibarat cerita lama. Namun, semangat lama itu justru menjadi tantangan tersendiri bagi para anggota Sesawi: Irwan Setiabudi, Winoto Doeriat, Hera Sugeng, dan Yudho Prihartono.

16 Agustus 2008 lalu, mereka memantapkan tekad: ziarah jalan kaki ke Sendangsono. Ini dilakukan seturut keinginan ingin mengingat kembali buah-buah rohani ketika mereka dulu tertatih-tatih harus menyusuri pematang sawah, jalanan berbatu atau malah mengalami rasa bahagia ketika bertemu dan bertegur-sapa dengan penduduk setempat untuk sekedar “mampir ngombe”.

Di antara ketiga teman peziarahan ini, Winoto Doeriat adalah yang paling senior alias sepuh: 70 tahun! Irwan Setiabudi menyusul di urutan kedua: 50 tahun, baru kemudian Yudho yang paling muda.

Tapi jangan lupa, masih ada Hera: satu-satunya perempuan di antara mereka.

Berikut ini adalah “isi” cerita keempat peziarah ini.

Bagaimana dengan cerita ziarahnya? Dengan enteng, Winoto Doeriat yang kini sudah 70 tahun,malah justru membuka “rahasia”.

OverPitu

“Bagaimana orang yang sudah over-sek, over-swit (dak), over-pitu, bisa juga nyampai deket gua Maria? Ha … ha…. Padahal untuk 1,1 km terakhir, saya meneruskannya dengan mobil.”

Namun,ziarah dengan berjalan kaki itu toh tetap terlaksana.

Bagaimana pun, kehadiran Hera –satu-satunya kaum Hawa di rombongan para lelaki ini— ikut memicu semangat “bangkit menjadi muda kembali”.

“Adaperasaan sombong sedikit. Mosok saya bisa kalah sama cewek? Namun, kalau saya nurutin ini, pasti enggak akan bisa nyampai juga. Ini pepatah Jawa: Bukan “ngalah duwur wekasane” tetapi “sombong mesti kalah dadine!”.”

Pengakuan Winoto pun berlanjut.

“Lantaran hanya ada satu Hera, ya hanya ada satu saja yang boleh dibilang ayu tenan. Kehadiran Hera menjadi semacam psychological support bagi saya. Melihat Mbak Hera yang berjalan tegap, enteng, dan berjalan kaki tanpa harus “nyeret sikil”. Wah saya juga terpacu semangat muda. Masak yang nggak punya wudel hanya wanita wae he … he…?”

Dalam tradisi guyonan a la Jawa, kuda termasukbinatang berdaya tahan sangat kuat untuk diajak jalan. Itu karena tidak punya udel alias pusar.

Teman seperjalanan

Dari Muntilan hingga Klangon, kami berempat ngobrol terus. Kami berjalan sembari bercakap-cakap, memperbincangkan apa saja. Aturan mainnya jelas, harus berdua-dua. Kalau berempat, pasti menyita ruas jalan dan salah-salah bias kesamber angkot.

Sesekali waktu,partner ngobrol berganti.Ini punya efek luar biasa. Ganti orang, ganti topik baru. Sedemikian lancar dan alur percakapan terus mengalir hingga tak sempat mikir kalau kaki sudah kemeng alias pegal-pegal.

“Mendengarkan orang bercerita itu menyenangkan, menarik, mengasyikan. Maka, tahu-tahu baru menyadari kalau rombongan sudah berjalan menapaki angka 10 km lebih selepas Muntilan. Begitu sampai di Klangon, rasanya kok seperti muterin Senayan City Mall sampai kemput alias muter-muter tanpa henti sampai ke ujung-ujung gang hingga bosan.”

Vokoke, kami berempat merasa puas dan enaak.”

Menyusuri jalan menurun

Ruas jalan sepanjang dari Muntilan hingga sampai Klangon –kurang lebih 10 km—adalah jalanan menurun. Inimembawa berkah tersendiri, karena tidak terlalu menyerap tenaga.Tinggal kayuh kaki, tanpa tenaga ekstra, dan kaki jalan sendiri. “Untuk orang yang kakinya sudah keropos (seperti saya), jalanan menurut ini membantumenyiapkan kaki untuk bisa mengayuh jalanan yang lebih berat lagi,  tanjakan.”

Khusus untuk Winoto, harus ada cerita tambahannya.

“Mobil sudah diperintah untuk selalu mengikuti rombongan peziarah, khususnya saya. Setiap kali berhasil menempuh jarak kurang lebih 2 km, sopir yang sudah menunggu di sebuah titik diperintahkan untuk bergerak maju2 km ke depan untuk menanti kami di sana.”

Tujuannya jelas. Kalau ditemukansampai terkapar dan sudah tidak kuat jalan terus, maka’dewi penolong’ sudah siap. “ Tinggal mengayun kaki tidak lebih dari 2 km lagi, langsung ketemu ‘ambulans partikelir’ alias mobil jemputan.”

“Mungkinkurang dari 0,5 km –saatperut sudah mulai keroncongan—dan telah melewati Klangon, semua anggota rombongan memaksa diri naik mobil. Jalanan menanjak dan memaksa kami berempat yang sangat kaliren alias lapar sekali –lantaran sepanjang perjalanan hanya mengisi perut dengan air—naik mobil. Fokusnya hanya satu: segera mencari warung makan.”

Akhirnya, ketemu juga warung pinggir jalan. “Waduh, nikmatnya gudeg Yu Djum,.

Tentu, apalagi kalau ditambahi senyuman Yu Djum…

Berjalan sembari berdoa

Perut kenyang usai makan siang, namun perjalanan ke Gua Maria Sendangsono masih jauh di depan mata. Alhasil, ternyata jalanan malah semakin menanjak.

Inilah via dolorosa dalam arti sebenarnya. Perut membuncit kenyang, namun tetap harus jalan menyusuri tanjakan. Pemimpin rombongan, Mas Irwan, memaksa kita segera menaras doa.

Terserah mau doa apa. Tampaknya, ajakan itu bak gayung pun bersambut. Kami segera ambil rosario. “Jarak tempuh sepanjang 5,1 km bisa saya lalui dengan hati gembira, setelah merampungkan 4 kali peristiwa Rosario dari etape gembira menuju cahaya.”

Rosario menolong saya.

“Doa Salam Maria bisa disingkronkan dengan dengus ngos-ngosan nafas dan derap kaki. Jadi, jangan heran kalau jarak sepanjang hanya 4 km itu harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Satu kilometer ditempuh selama 30 menit. Mendaras doa satu peristiwa doa Rosario hanya mampu menyusuri jalan tak lebih satu kilometer saja.”

Memfokuskan diri pada sembahyang sembari menahan nafas tersengal-sengal karena ngos-ngosan sungguh tidak mudah. Namun, karena selalu dicoba, maka beratnya langkah bisa disublimasi.

Menjadi rendah hati

Dorongan atau tepatnya godaan untuk menyombongkan diri memang dahsyat juga. Bayangin kalau berhasil –kendati sudah over-pituh–pasti mendapat pujian: “wah hebat”, “wah gila, nyampai juga si tua itu”.

Kalau nurutin arus semangat godaan, tujuan bisa sampai diSendangsono lalu mencari tujuan lain: mencari pujian. Semakin gencar godaan untuk menjadi sombong, semakin doa saya kenceng juga.”Jerih payahku ini kupersembahkan kepadaMu bagi kemuliaanMu dan untuk silih atas dosa-dosaku”.

Semakin mendekati gua, semakin gencar godaannya.

Namun, Dia itu Maha Baik. Kurang satu kilometer sebelum gua,saya tidak punya gambaran arus jalan ke sana itu menurun atau tanjakan.

“Saat itu pula, kaki saya sudah benar-benar tidak kuat. TanganNya kayak sudah dilepas dari diri saya. Jadi, bukan karena alasan kesehatan, maka saya lalu memutuskan untuk naik mobil saja. Sungguh, itu karena saya merasa memang sudah tidak kuat untuk berjalan lagi.”

Kebetulan memang.

Jalan dari lokasi tempat saya berhenti untuk minta pertolongan “ambulans partikelir” menuju Gua Maria memang menurun. Kalau saya tetap nekad meneruskan perjalanan kaki, pasti kaki akan remek tenan. “Mana mungkin, kaki yang sudah keropos di makan umur ini masih mampu menahan beban berat badan80 kg untuk setiap langkahnya?”

Saya membuat keputusan: harus naik mobil. Mudahlah membuat ‘excuse’ agar kegagalan mencapai tujuan tidak sepenuhnya dengan jalan kaki bisa dimaafkan.“Kkesombongan bisa terselamatkan. Ini juga godaan bukan?”

“Saya menyadari memang harus rendah hati: mau mengakui diri saya tidak sampai ke puncak dengan jalan kaki. Saya terpaksa harus naik mobil. Saya memang tidak kuat lagi, dan saya memang sudah keropos kakinya.”

“Saya merasa dituntun untuk tidak sombong. Kalau tujuannya adalah sok-sokan, pasti DIA sudah tidak mengizinkan saya mampu melewati Klangon, 10 km sudah selepas Muntilan. Begitukah he… he… he….”

Via crucis

Doa Jalan Salib yang menguatkan. Mas Irwan mnta saya memimpin doa Jalan Salib. Ia memasang tema: penyerahan diri. Wah tema ini memang pas sekali untuk diri saya. Itu membuat pendarasan doa juga mantap sekali, sangat khusuk. Kata-kata meluncur dengan mudah sambil mengingat setiap jengkal langkah Jalan SalibNya.”

“Saya kaget. Sekali waktu di tengah-tengah jalan salib, mas Irwan menghilang. Macam-macam pikiran timbul di benak saya: “Apakah nggak tahan untuk menyerahkan diri pada kehendakNya? Apa lagi nangis? Apa lagi ada pergolakan antara penyerahan diri dan kemauan sendiri? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain masih berkecamuk menyesaki benak saya.”

Eh tahunya, ketika pas sampai di Pemberhentian Yesus Wafat di Salib, Mas Irwan malah tengah asyik mandi air sendang. “Waktu Yesus berlumuran darah, ternyata Mas Irwan malah tengah ngglogok menegak air segar sendang. Dasar he… he…he….”

Tetapi ini lagi, DIA mahabaik. “Kalau tidak mandi dan minum air sendang, beliau malah bisa saja semaput. Kami akan bisa kerepotan. Kami tidak akan sempat menyelesaikan Jalan Salib. Bahkan, doa di gua pun terganggu oleh pikiran ‘gimana membuat mas Irwan siuman?

Nah, kalau begitu: ini dosa siapa ya? Mas Irwan sendiri atau kita yang mengamini niat ziarah beliau? Yah repot bener!

Pokoknya, para saderek kakung lan putri Sesawi:

RahmatNya melimpah untuk kami berempat. Yangpasti, untuk saya. Dan saya yakin melimpah pula kepada mereka yang kami doakan, dan terlebih bagi Sesawi!

Ziarah semacam ini ternyata banyak hikmahnya. Saking semangatnya, saya berniat mau mengulang, bukan untuk menyombongkan diri tetapi karena masih banyak dosanya.

Salam Sendangsono!

Winoto Doeriat, novis di Girisonta tahun 1957, sekarang purnakarya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here