Mgr. Heinrich Leven SVD: Pendiri Kongregasi Suster CIJ, Menjadi Misionaris di Togo, Afrika (2)

0
231 views
Mgr. Hendrik Leven SVD.

Tanah Misi, Stasi Pertama di Togo (1911-1917)

Setelah ditahbiskan menjadi imam, Pater Heinrich Leven SVD langsung dikirim ke tanah misi. Togo menjadi daerah misi pertamanya.

Secara politis, Togo sejak tahun 1884 berada di bawah pemerintahan Protektorat Jerman (daerah kolonial Jerman), sehingga hal ini memudahkan misionaris asal Jerman bisa bekerja di sana.

Pada tahun 1892, Kongregasi Propaganda Fide menjadikan Togo satu Prefektur Apostolik dan menyerahkan wilayah ini kepada Kongregasi SVD.

Pater Leven bersama empat orang teman sekelasnya diutus ke Togo. Mereka berangkat ke Togo, menumpang kapal “Lucia Woerman” dan tiba tanggal 10 Agustus 1911.

Karya pendidikan

Di Togo, Pater Leven lebih banyak bergelut di dunia pendidikan, khususnya dalam perencanaan pembentukan kurikulum sekolah. Selain itu, ia ia mengurus keuangan (Prokurator) dan terlibat aktif dalam karya pembangunan Gereja dan iman umat.

Pater Leven mendapat tugas sesuai dengan bakatnya yaitu sebagai Penilik Sekolah dan Kursus yang menjadi bagian kerja misi SVD pada masa itu. Ia juga merangkap sebagai sekretaris Praefek Apostolik dan pastor pembantu di Lome.

57 Imam Baru di Rumah Misi St. Gabriel – Austria. (Ist)

Diinternir

Semangat misioner yang sedang bernyala-nyala pada dirinya “terhenti” karena Perang Dunia I.

Sebagai warga negara Jerman, ia ditangkap dan menjadi tawanan perang. Pada 10 Oktober 1917, bersama semua misionaris Jerman lainnya, ia harus meninggalkan Togo.

Ia dipindahkan ke Freetown, sebelum berlayar ke Inggris dan ditawan di kamp penjara Alexandra Palace.

Pada Desember 1917 ia ditawan di Liverpool, sebelum dipindahkan ke Isle of Man.

Atas permintaan Paus Pius XI, tanggal 17 Mei 1918 mereka dibebaskan. Selanjutnya, ia berkarya di Stratum dekat Lank, tempat kelahirannya sampai awal Oktober 1920. (Beding, 1999: 29).

Stasi kedua: Kepulauan Sunda Kecil – Hindia Belanda (1920-1952)

Semangat misionaris yang menjadi impiannya sejak kecil tak pernah padam dalam diri Pater Leven.

Kisah menjadi misionaris, permintaan tenaga dan finansial guna mendukung karya misi di Kepulaun Sunda Kecil karya Pater Piet Noyen SVD telah membangkitkan keinginannya untuk menjadi seorang misionaris. Karena itu, ia lalu menyurati pimpinan SVD saat itu, Pater General Wilhelm Gier SVD, agar berkenan mengirimnya sebagai misionaris di Hindia Belanda.

Pater Piet Noyen SVD sendiri pernah bertugas sebagai Misionaris di Shantung, RRC (sampai 1909) dan menjadi misionaris perintis misi SVD di Kepulauan Sunda Kecil (tahun 1913 tiba di Batavia).

Ia adalah peletak dasar dan arsitek bagi misi katolik di Flores dan Timor. (Karel Steenbrink, 2007, vol 2: 128)

Umat Paroki di Gellep-Stratum, dekat Krefeld Jerman, tempat di mana Pater Leven menjadi pastor pembantu, menjadi saksi nyata kerinduan Pater Leven untuk mengabdikan dirinya di tanah misi. Itu terjadi, walau umat paroki lokal harus rela kehilangan seorang gembala baik, yang terlibat dalam meningkatkan spiritualitas iman umat dan pembangunan fisik gereja.

Untuk menghormatinya, pemerintah daerah setempat (Gemeinde Krefeld) mengabadikan nama Heinrich Leven sebagai salah satu nama jalan di dekat Gereja St. Andreas.  

Jalan Heinrich-Leven-Str di Krefeld, Jerman.

Pada tanggal 23 Oktober 1920, ia berlayar dari Rotterdam di Negeri Belanda dan tiba di Hindia Belanda (kini bernama Indonesia), setelah hampir sebulan mengikuti pelayaran dengan kapal.

Ia tiba mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, tepatnya 20 November 1920. Pater Leven mesti melanjutkan perjalanannya ke Flores dan tiba di Ende pada 11 Desember 1920.

Sebagai Misionaris baru ia harus belajar bahasa dan tradisi masyarakat setempat.

Di Ndona, desa kecil dekat kota Ende, ia belajar bahasa Melayu. Dua tahun kemudian, sejak 22 Juli 1922, oleh Vikaris Apostolik Mgr. Arnoldus Verstraelen SVD, ia ditugaskan di Timor.

Di sana ia bertugas menjadi Rektor Distrik, Pastor Paroki Halilulik di Timor dan mendapat surat resmi dari Pemerintah Hindia Belanda menjadi Inspektur (Ketua Yayasan) Persekolahan Misi di Pulau Timor sampai akhir Juli 1927.

Kembali ke Flores jadi Administrator Apostolik

Pater Leven pada tanggal 1 Agustus 1927 dipindahtugaskan ke Ndona untuk mengisi jabatan Pro-Vikaris yang ditinggalkan Mgr. Verstraelen SVD. Selama mengisi jabatan ini, ia bertugas mengelolah dan mengatur seluruh bidang pendidikan di wilayah Kepulauan Sunda Kecil.

Ia juga menjadi pengganti Mgr. Verstraelen SVD, ketika dia mengadakan kunjungan ke luar negeri.

Setelah kematian mendadak Mgr. Arnoldus Verstraelen SVD karena mengalami kecelakaan mobil bersama P. Jan Bouma SVD pada 15 Maret 1932, Pater Leven ditunjuk menjadi Administrator Apostolik. 

Para imam perintis misi SVD di Kepulauan Sunda Kecil yang kemudian bernama Nusa Tenggara Timur: Mgr. Piet Noyen SVD, Mgr. Heinrich Leven SVD, dan Mgr. Arnold Verstraelen SVD. (Ist)

Kemudian pada 25 April 1933, dengan menerima kewarganegaraan Belanda, beliau resmi diangkat menjadi Vikaris Apostolik. Ia diberi gelar Uskup Tituler Arca di Armenia (Karel Steenbrink, 2015: 135).

Uskup Tituler Arca di Armenia

Hari Minggu tanggal, 12 November 1933, Pater Heinrich Leven menerima tahbisan Uskup di Uden, Negeri Belanda. Ia memilih motto ”O Crux Ave Spes Unica” (Salam, o Salib satu-satunya harapan).

Catatan www.catholic-hierarchy.org menulis demikian.

Yang menjadi Uskup penahbis adalah Uskup Arnold Frans Diepen (Uskup s’Hertogenbosch (Bois-le-Duc) didampingi dua uskupyakni Adriaan Willem Hopmans (Uskup Keuskupan Breda) dan Josephus Hubertus Gulielmus Lemmens (Uskup Keuskupan Roermond).

Dalam majalah misi berbahasa Belanda De Katholieke Missien dan juga di majalah Bintang Timur yang diterbitkan di Ende (Maret 1934), seperti di tulis oleh Suster-suster CIJ (bdk. https://cijkomspirit.wordpress.com/profil/), digambarkan bagaimana meriahnya perayaan ini:

“Jalan dari rumah misi di Uden ke gereja tempat Uskup ditahbiskan dipenuhi dengan dekorasi yang sangat indah. Di kedua sisi ada bunga, dedaunan hijau dan kain dengan gambar dan tulisan yang tepat untuk pesta ini. Misalnya pada salah satu kain yang mereka tulis “O Crux Ave Spes Unica”.

“Di kain lain mereka menulis: “Universus Udensis Populus, Apostolici opera Fautor, Henrice, novo Pontifici, Ex animo gratulatur ovans” (Semua warga Uden memberi Anda harapan yang tulus; kami menghormati Anda, Heinrich, Uskup baru, penerus para Rasul). (Berlanjut)

PS: Artikel ini dikerjakan bersama Sr. Lenny CIJ.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here