Percik Firman: Buah Perjuangan

0
156 views

Jumat, 22 Mei 2020.

Novena Roh Kudus hari ke-1

Bacaan Injil: Yoh 16:20-23a

“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi penderitaannya” (Yoh 16:21)

Saudari/a ku ytk.,

MERENUNGKAN sabda Tuhan pada Novena Roh Kudus hari pertama,  saya teringat akan nasihat dan kearifan hidup dari nenek moyang kita. Ada pepatah Jawa : “Sing sapa obah bisa mamah, sing sapa ubet bisa ngliwet. Ana dina ana sega. Ana awan ana pangan”. (Barangsiapa bergerak bisa makan, barangsiapa bekerja tekun bisa memasak. Ada hari pasti ada rejeki). 

Ada pula pepatah lain “Jer basuki mawa beya”. Artinya, untuk bisa hidup bahagia, kita harus tekun berjuang dan berkorban. Hal ini senada dengan ungkapan Indonesia: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Baru saja kemarin kita merayakan Hari Raya Yesus naik ke surga setelah 40 hari Paskah. Tidak ada Paskah tanpa Jumat Agung. Tidak ada kebangkitan tanpa wafat disalib. Iya khan? 

Untuk bahagia, bersukacita atau sukses butuh proses, perjuangan dan ketekunan. Sabda Tuhan Yesus hari ini menegaskan: “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia”.

Tuhan Yesus menjelaskan dengan contoh yang sangat konkret, terkait pengalaman para ibu yang melahirkan anaknya. Saya yakin para ibu dapat lebih mudah memahami sabda Tuhan hari ini. 

Ibu mengandung dan melahirkan anak dengan penuh perjuangan – pengorbanan. Dukacita dan sakit sang ibu tidak diingatnya lagi, begitu buah hatinya lahir ke dunia. Kehadiran sang bayi menghibur dan memberi energi positif bagi sang ibu. 

Selama 9 bulan lebih seorang ibu harus “menggendong” janin ke mana-mana, tidur kurang nyaman, harus serba hati-hati, makan juga selektif demi kesehatan si janin, dsb. 

Mamakku pernah bercerita, saat melahirkan saya dan kedua saudara saya, harus sampai “toh pati” demi bisa melahirkan dengan selamat. Kami bertiga lahir secara alami, tanpa operasi caesar.

Lalu keutamaan-keutamaan macam apa yang dihayati para ibu yang sedang mengandung dan melahirkan anaknya? Menurut saya, keutamaan tersebut di antaranya Pengorbanan, Ketekunan, dan Kasih (PKK). 

Semoga ibu-ibu yang sedang mengandung dan menanti kelahiran sang buah hati diberkati Tuhan dan dibimbing Roh Kudus. Semoga Anda dan janin sehat. Saatnya nanti bayi Anda bisa ‘turas’ (metu waras-lahir sehat dan selamat).

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan#. (Y. Gunawan Pr)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here