Romo Pertapa Martin Suhartono: Raib Jadi Rahib, Kejutan di Malam Pertama (5A)

0
2,433 views

Kejutan di Malam Pertama

PADA Hari Raya Para Kudus, 1 November 2006, saya meninggalkan Filipina dengan berat hati karena selama lima bulan di sana saya mengenal sekian banyak Yesuit muda dari Asia Tenggara yang berada dalam pendampingan saya dan sudah mulai terjalin kasih persaudaraan di antara kami. Baru kali ini saya pergi dari suatu tempat dilepas di gerbang kolese dengan pelukan 77 Yesuit. (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Raib Jadi Rahib, Lie Cha Lie Chu Lie Chung Yen (1)

Selama di Indonesia sebelum ke Inggris, sebagian besar waktu saya habiskan di Halim, menuruti nasehat dari biara Karthusian Inggris, “Tinggallah dengan Ibumu, karena sebagai Karthusian, kita tak akan pernah pulang ke rumah lagi ….” Saya pun tak ingin berpamitan sana-sini karena tak tahu juga apakah pasti jadi ke Inggris karena sulit mendapatkan visa, kalau pun jadi, akan berapa lama dll., semua serba belum jelas.

Tepat pada Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda, 8 Desember 2006, saya masuk Pertapaan Karthusian di Inggris, St. Hugh’s Charterhouse (sejak 1873), Parkminster, sekitar 20 Km dari Brighton, pantai selatan Inggris. Saya ditempatkan di Sel L yang terletak di pojok koridor selatan biara; pada pintu sel tertulis “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada!” (Matius 6:21).

Ketika akan tidur, saya buka tirai yang menutupi bilik tidur dan saya pun tersentak kaget. Pada dinding terpancang foto lukisan Yesus dari Devosi Kerahiman Ilahi, seperti yang saya temui di Manila dalam periode krisis antara panggilan Tuhan dan pemberontakan saya. Tak ada hal yang kebetulan. Segala sesuatu adalah “kebetulan yang bermakna” atau bagi orang beriman, “Penyelenggaraan Ilahi”.

Kehadiran lukisan yang dipasang oleh penghuni Sel L sebelum ini, saya terima sebagai pertanda bahwa Kerahiman Ilahi semata-matalah yang telah memanggil saya ke padang gurun serta menuntun saya ke Parkminster ini dan bahwa panggilan ini bukan hanya demi saya sendiri melainkan demi banyak orang. Tulisan “Jesus I trust in you” pun mengingatkan saya pada siapakah saya musti bergantung untuk dapat bertahan di pertapaan. Maka dengan lega hati saya pun membaringkan diri dan tertidur. Malam pertama di pertapaan Karthusian.

Menjelang tengah malam saya terbangun, antara sadar dan tidak, dari balik tirai saya melihat seakan lampu sel menyala dan ada yang sedang berjalan keliling ruangan; saya merasa, bila tirai saya singkapkan maka akan tampak seorang rahib (penghuni sel di masa lalu!); namun saya terlalu lelah setelah 30 jam perjalanan Jakarta–Parkminster (dan rada takut!) untuk menyambut ucapan selamat datang dari dunia seberang, karena itu saya pun kembali pulas.

Berbagai jenis “sambutan” malam hari akan berlanjut terus dan baru berhenti di kemudian hari ketika saya diterima sebagai novis; saat saya diresmikan sebagai pemilik sel L!

Setelah dua minggu lebih sedikit hidup sebagai retreatant (peserta retret) sekaligus aspirant (peminat), tepat pada Malam Natal, 24 Desember 2006, dengan harapan bahwa Yesus lahir kembali dalam diri saya, saya diterima sebagai postulant (pelamar) diiringi upacara: Romo Pembimbing Novis (75 thn., asal Irlandia) membasuh dan mencium kaki saya dan setelah itu para rahib yang masih dalam pembinaan, urut berdasarkan senioritas, dimulai dari 7 rahib yunior (berkaul sementara), 3 rahib novis, dan 2 postulan lama, bergantian memperkenalkan diri dan mencium kaki saya (untung sudah saya cuci pakai sabun wangi, andaikata tidak, rahib-rahib itu bakal bergelimpangan satu per satu). Saya pun diberi mantol hitam ala Batman & Robin dan tutup kepala hitam ala rabbi Yahudi (skull-cap).

Bacaan yang dipilih Pembimbing sebelum memulai acara basuh kaki, tepat sekali mengungkapkan sikap batin saya, yaitu: “Oleh imanlah Abraham taat ketika dipanggil pergi ke suatu tempat yang akan diterimanya sebagai warisan; ia berangkat tanpa tahu ke mana ia pergi…” (Ibrani 11:8)

Setelah itu saya diminta sharing panggilan dan diikuti tanya-jawab. Tiga puluh tahun yang lalu, Romo Abbas Trappist heran bahwa timbul dorongan menjadi pertapa di hati saya karena ayat-ayat Kitab Ratapan 3:26-28 itu, tetapi dalam sharing itu, begitu mendengar saya menyebut ayat ini, Pembimbing langsung berkata lirih, “Itulah ayat klasik panggilan Karthusian!”

Beliau menerangkan bahwa ayat-ayat tersebut digunakan dalam Statuta Ordo Karthusian untuk menggambarkan panggilan Karthusian; dikatakan di situ “… teks yang amat menghibur kita, sebagian besar dari kita memang sudah menghayati panggilan ini dari masa muda kita.”

Hari yang dipilih Pembimbing, yaitu Malam Natal juga amat mengesankan saya. Persis enam bulan sebelumnya, 25 Maret 2006, Hari Raya Kabar Gembira, perayaan Malaikat Gabriel memaklumkan bahwa Bunda Maria akan mengandung Sang Kristus, di penampungan penderita kusta di Pulau Taikham, Laut Cina Selatan, saya memutuskan untuk tidak makan daging lagi (saya langgar dengan makan bakso, gulai dll., selagi di Indonesia, kepingin je!). Ternyata tepat sembilan bulan kemudian di malam Perayaan Kelahiran Yesus, saya diterima sebagai postulan suatu ordo rahib yang berpantang daging. Pada tanggal 24 Desember 1977 saya diterima kembali dalam SY setelah setahun mencoba hidup pertapaan dan kini 24 Desember 2006 saya diterima kembali dalam pertapaan setelah hidup sebagai Yesuit!

Point-point “kebetulan” itu membuat saya bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ini tanda-tanda bahwa Tuhan memang memanggil saya untuk menjadi rahib Karthusian?”

Kisah pendiri Ordo Karthusian, St. Bruno, yang saya baca di website Karthusian dalam retret tiga hari di Manila, amat menggugah saya. Ada kesamaan perpindahan dari dunia karya ke padang gurun pada usia 50 tahun. Lahir di Koeln, Jerman (tahun 1030), sejak muda ia belajar di sekolah terkenal di Katedral Rheims, Perancis, meraih gelar doktor dan diangkat rektor universitas di situ pada tahun 1056 dan selama 28 tahun menjadi pengajar terkenal dalam bidang teologi. Menolak diangkat sebagai Uskup Rheims, ia pun pada tahun 1084 dengan enam teman memilih hidup menyepi di Perancis, di lembah Chartreuse (inilah asal nama Khartusian).

Setelah hidup di sana selama enam tahun ia dipanggil oleh mantan mahasiswanya yang menjadi Sri Paus (Paus Urbanus II) untuk menjadi penasehat. Dengan taat ia berangkat ke Roma dan tinggal di sana selama beberapa bulan tapi tak krasan dengan suasana di situ. Kembali ia menolak diangkat Uskup ketika Sri Paus meminta dia menjadi Uskup di Italia Selatan. Ia tetap terdorong untuk hidup menyepi. Sri Paus akhirnya memberi izin asalkan ia tetap di Italia agar dengan mudah bisa dihubungi. Dengan restu Sri Paus ia mendirikan pertapaan di Italia selatan (Calabria) dan tinggal di situ sampai meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 1101.

Kisah hidup St. Bruno ini ternyata disiapkan oleh Romo Prior (sebutan bagi Pemimpin Biara) sebagai alasan memohonkan dispensasi (pengecualian) bagi saya dari Kapitel Jendral Ordo Karthusian (rapat para pemimpin biara Karthusian sedunia yang berfungsi sebagai institusi yuridis tertinggi). Saya butuh dispensasi ganda karena selain di atas batas usia maksimal 45 tahun, saya pun sudah kaul solemn (meriah) di ordo/tarekat lain.

Romo Prior, orang Perancis seusia saya dan sudah jadi rahib sejak usia 21 tahun, berkata pada saya sebelum berangkat ke Kapitel Jenderal, bahwa seandainya ada yang menentang, maka ia akan berdalih, “Santo Bruno pun dulu sudah berusia 51 tahun dan aktif merasul selama hampir tigapuluh tahun en toh bisa jadi pertapa!”

Nekad juga Romo Prior kami ini, masakan saya dibandingkan dengan Santo Bruno. Ya kalau Santo memang bisa saja dengan mudah, lha kalau Sontoloyo seperti saya ini apa ya bisa?

Entah apakah argumen itu jadi digunakan oleh Romo Prior, yang jelas 19 Prior yang berkumpul di Grande Chartreuse (Biara Induk Karthusian), Perancis, bulan Mei yang lalu, bisa diyakinkan dan dispensasi pun diberikan bagi saya.

Dengan dispensasi itu, izin resmi untuk memulai proses transfer dengan mudah pula diperoleh dari Pater Jendral SY sehingga saya dapat mulai dengan tahap percobaan sebagai novis; surat izin ditulis tanggal 24 Mei 2007, Pesta Beato William dari Fenol, Karthusian Italia.

Pada Pesta Kelahiran St. Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2007, saya diterima sebagai rahib novis Karthusian dalam upacara pemberian pakaian biara dan peresmian Sel L sebagai tempat tinggal saya.

Proses transfer ini tak terlalu sulit karena sudah sejak Serikat Yesus berdiri (abad 16) selalu ada hubungan akrab antara SY dan Ordo Karthusian. Banyak Yesuit menghargai dan terpesona oleh kehidupan Karthusian. Pendiri SY, St. Ignatius Loyola, mengalami pertobatan ketika membaca kisah hidup Yesus yang ditulis oleh seorang Karthusian; dan pernah berpikir pula untuk menjadi Karthusian.

Para kudus Yesuit di awal perjalanan SY pun, misalnya St. Petrus Kanisius, mengaku bahwa pada masa mudanya “cinta akan kedamaian dan kontemplasi menarik aku pada hidup membiara sebagaimana dipraktekkan oleh para Karthusian” dan meski menjadi Yesuit ia tetap menjalin hubungan erat dengan para Karthusian dan senantiasa mohon bantuan doa bila mengalami kesulitan. (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1)

Begitu pula Beato Petrus Faber yang sejak muda dekat dengan para Karthusian dan ketika sebagai Yesuit musti berkeliling di Eropa ia menginap di biara-biara Karthusian sehingga dijuluki “Karthusian yang mengembara”. Saya bukanlah Yesuit pertama yang mencoba transfer ke Ordo Karthusian; kebanyakan kembali ke SY di tahun pertama tanpa sempat menjadi novis.

Meskipun ada izin dari Kapitel Jenderal Ordo, kata terakhir penerimaan saya adalah pemungutan suara anggota komunitas Parkminster (15 rahib yang sudah kaul kekal). Kalau hasil voting negatif, sang calon musti pergi dan Romo Prior tak bisa berbuat apa-apa meski ia pribadi menyetujui sang calon. Sedangkan meskipun hasil voting positif, ia masih punya hak veto dan menolak calon, seperti terjadi terhadap satu postulan bersama saya, Lazarus, orang Inggris usia 37 mantan rahib Trappist; komunitas menerima dia, tapi Romo Prior menolak, maka ia pun tak jadi masuk novisiat.

Dalam lima tahun ke depan ini, sebelum saya diizinkan kaul kekal sebagai Karthusian, akan ada tiga kali voting lagi untuk saya: di akhir tahun kedua, di akhir tahun keempat, dan di akhir tahun kelima persis sebelum kaul kekal. Maka ya Wait and See saja.

Selain mendapat jubah rahib Karthusian, saya pun mendapat nama biara, sebagai tanda perubahan hidup, yaitu Ambrose-Mary (Latin: Ambrosius Maria). St. Ambrosius, Uskup Milano di abad ke-4 M, wafat dan dipestakan tanggal 7 Desember (hari saya meninggalkan Indonesia); Mary tentu saja nama Bunda Maria, nama umum bagi para rahib, selain karena saya tiba di pertapaan tepat pada Pesta Maria Immaculata. Untuk memanggil rahib Katolik biasa ditambahkan sebutan Dom (dari bhs. Latin Dominus/Domine, Master/Mister).

Untuk saya disingkat saja “Dom Ambrose”, karena kalau lengkap “Dom Ambrose-Mary” malah terdengar seperti “Dame Rosemary”! Dalam jubah rahib lengkap dengan mantol novis berwarna hitam, saya tampak mirip Harry Potter Sr., atau malahan … Sr. Rosemary, Jr!

Pertapaan Parkminster punya 30 sel dan hampir selalu penuh. Saat ini dengan 15 rahib berkaul kekal dan 13 rahib yang masih dalam proses pembinaan cuma tinggal dua sel kosong. Dua sel ini pun selalu terisi karena dari waktu ke waktu selalu saja ada pemuda yang berminat mencoba panggilan Karthusian.

Panggilan ke tarekat kontemplatif memang belakangan ini agak naik daun, begitu komentar seorang retretan dari USA, terutama di negara-negara maju. Film yang baru-baru ini mendapat penghargaan di festival film internasional, Into Great Silence (asli Jerman: Die Grosse Stille), mengenai kehidupan Karthusian di Perancis, juga ikut membuat banyak pemuda sejak awal tahun ini mencari biara Karthusian.

Sebagian besar peminat sampai ke sini karena melihat website Parkminster (www.parkminster.org.uk), termasuk saya. Selama enam bulan saya di sini, belasan pemuda dari berbagai penjuru dunia mencoba tinggal dua minggu atau sebulan. Tak satu pun kembali untuk menetap, kapok rupanya! Bagaimana pun, mereka patut dikagumi, masih berusia 20an tahun dan baru lulus universitas sudah berpikir untuk mengabdi Tuhan dalam keheningan (Kalau saya sih memang sudah tinggal tulang berserakan, masih mau apa lagi?) (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara Nglurug tanpa Bala (11)

Di seluruh dunia, saat ini Ordo Karthusian hanya punya 19 pertapaan untuk rahib (314 orang) dan 6 pertapaan untuk rubiah (64 orang); sebagian besar di Eropa. Di luar Eropa hanya ada di USA (1), Brasilia (1), Argentina (1), dan Korea (1 untuk rahib dan 1 untuk rubiah). Sedikit sekali jumlah anggota Karthusian (total rahib dan rubiah 378) bila dibandingkan dengan 21.000 anggota Yesuit.

Jumlah anggota tarekat biarawan/wati aktif (aktif merasul di dunia) dalam Gereja memang jauh lebih banyak daripada tarekat kontemplatif (hidup dalam keheningan doa). Sebagian besar tarekat kontemplatif punya pola hidup bersama, a.l. Benediktin, Trappist, Karmelites, dan Klaris. Ada dua tarekat berpola pertapaan dengan rahib yang hidup sendirian meski masih terikat dalam suatu komunitas, yaitu Ordo Kamaldoli, yang didirikan oleh St. Romualdus di abad 11, dan Ordo Karthusian.

Karthusian dikenal paling ketat dan keras dalam mempertahankan semangat dan pola hidup ordonya sehingga timbul pepatah bahasa Latin, “Cartusia numquam reformata quia numquam deformata” (Ordo Karthusian tak pernah direformasi karena tak pernah mengalami deformasi/kemerosotan).

Saya kadang menyebut “biara” (monastery) kadang “pertapaan” (hermitage) untuk rumah Karthusian; sebetulnya Ordo Karthusian menghindari dua istilah itu karena merupakan gabungan antara pertapaan (hidup sendirian) dan biara (hidup komunitas). St. Bruno menghidupkan kembali tradisi Laura, pemukiman para pertapa Kristiani di padang gurun Mesir dan Palestina abad ke-3-4 yang berupa sel-sel individual terpencar-pencar sekeliling gereja. Dalam bahasa Inggris dipakai istilah Charterhouse; istilah Charter merupakan adaptasi bahasa Inggris dari Chartreuse (lokasi biara induk di Perancis); tapi kalau saya terjemahkan “rumah carteran”, nanti dikira “tempat pelacuran”! (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Raib Jadi Rahib, Kejutan di Malam Pertama (5B)

Kredit foto: Biara Karthusian di Parkminster, Inggris (Ist)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here